Kemenhut Evakuasi 100 Satwa Terdampak Karhutla di Enam Provinsi, 53 di Antaranya Orang Utan

JAKARTA – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI menyatakan telah melakukan penyelamatan dan evakuasi terhadap 100 individu satwa liar yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penanganan tersebut dilakukan di enam provinsi prioritas yang mengalami dampak karhutla.

Enam provinsi yang menjadi wilayah penanganan tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Data penyelamatan itu disampaikan Kemenhut hingga 22 September 2026.

Kemenhut Selamatkan 100 Satwa Liar

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan upaya penyelamatan satwa dilakukan sebagai bagian dari penanganan dampak karhutla. Pernyataan tersebut disampaikan di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Selasa (22/9).

“Data yang kami kumpulkan sampai dengan hari ini 22 September 2026, Kementerian Kehutanan telah menyelamatkan, melakukan upaya penyelamatan satwa liar sejumlah 100 individu satwa liar di enam provinsi prioritas,” ujar Ristianto.

Jumlah tersebut mencakup berbagai jenis satwa liar yang ditemukan terdampak kebakaran hutan dan lahan. Kondisi karhutla membuat satwa membutuhkan penanganan dari pihak berwenang agar dapat ditangani secara tepat.

Orang Utan Menjadi Satwa Terbanyak yang Dievakuasi

Dari total 100 satwa yang diselamatkan, sebanyak 53 individu merupakan orang utan. Jumlah itu menjadikan orang utan sebagai satwa dengan angka penyelamatan tertinggi dalam penanganan karhutla di enam provinsi prioritas.

Selain orang utan, satwa yang paling banyak diselamatkan berikutnya adalah trenggiling. Kemenhut mencatat sebagian besar satwa yang dievakuasi berasal dari wilayah Kalimantan.

Ristianto menyebutkan, sekitar 97 persen satwa yang dievakuasi berada di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar upaya penyelamatan satwa dalam penanganan karhutla berlangsung di wilayah Kalimantan.

Delapan Satwa Dinyatakan Mati

Dari 100 satwa yang ditangani, Kemenhut juga mencatat terdapat delapan satwa yang kondisinya telah mati. Satwa yang mati terdiri atas ular, biawak, kura-kura, serta satu ekor orang utan.

“Kemudian juga ada delapan satwa dari 100 itu kondisinya mati. Itu ada ular, biawak, kura-kura, termasuk kemarin ada satu ekor orang utan itu,” kata Ristianto.

Catatan tersebut menjadi bagian dari laporan penanganan satwa terdampak karhutla yang dilakukan Kemenhut. Setiap satwa memerlukan penanganan sesuai kondisi yang ditemukan sehingga proses penyelamatan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Masyarakat Diminta Melaporkan Temuan Satwa

Kemenhut mengimbau masyarakat untuk segera melapor apabila menemukan satwa liar yang terdampak karhutla. Laporan dari masyarakat dinilai penting agar satwa dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas yang berwenang.

Ristianto menegaskan bahwa penanganan terhadap satwa liar tidak boleh dilakukan secara gegabah. Masyarakat diharapkan tidak mengambil tindakan sendiri yang berpotensi memengaruhi kondisi satwa atau menyulitkan proses penanganan.

Melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, Kemenhut akan menindaklanjuti laporan mengenai satwa yang terdampak karhutla. Petugas akan membantu proses penanganan sesuai situasi yang dihadapi di lapangan.

“Kami dari Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam setempat pasti akan segera mem-follow up untuk membantu penanganan satwa yang terdampak dari karhutla ini,” ujar Ristianto.

Kesimpulan

Kementerian Kehutanan telah menyelamatkan 100 satwa liar yang terdampak karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 53 satwa di antaranya merupakan orang utan, sedangkan trenggiling menjadi satwa dengan jumlah penyelamatan tertinggi berikutnya. Sebagian besar satwa yang dievakuasi berada di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.

Di sisi lain, delapan satwa dilaporkan mati, terdiri atas ular, biawak, kura-kura, dan satu orang utan. Ke depan, masyarakat diharapkan aktif melaporkan temuan satwa terdampak karhutla kepada pihak terkait. Kemenhut melalui BKSDA setempat akan menindaklanjuti laporan tersebut agar penanganan satwa dapat dilakukan secara tepat dan tidak gegabah.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment