Kemenhut Perkuat Penanganan Karhutla di Kalsel, 44 Hotspot Terdeteksi
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel). Penguatan dilakukan dengan menambah pengerahan pasukan darat serta dukungan operasi udara untuk mengatasi titik panas yang masih terdeteksi di sejumlah wilayah.
Berdasarkan pemantauan pada Minggu (23/8) pukul 06.00 WITA, terdapat 44 hotspot yang tersebar di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), dan Kabupaten Tapin. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jumlah titik panas kembali meningkat setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan.
44 Hotspot Tersebar di Empat Wilayah
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, titik panas masih ditemukan di beberapa daerah di Kalimantan Selatan. Pemantauan pada pagi hari menunjukkan adanya 44 hotspot di Banjar, Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin.
“Masih ada per hari ini seperti tadi, per jam 6 pagi tadi masih ada 44 titik panas di Banjar, Banjarbaru, HSS, dan Tapin,” kata Raja Juli, dikutip dari Antara, Minggu.
Data tersebut tercatat dalam pemantauan Sipongi milik Kementerian Kehutanan. Sebelumnya, jumlah hotspot pada 21 Agustus mencapai 157 titik. Angka itu kemudian menurun menjadi 11 titik pada malam 22 Agustus pukul 21.00 WIB.
Namun, hasil pemantauan pada pagi berikutnya menunjukkan jumlah titik panas kembali meningkat. Perubahan jumlah hotspot tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat langkah penanganan di lapangan.
Operasi Darat dan Udara Dilakukan Secara Terpadu
Raja Juli menjelaskan, penanganan karhutla akan disesuaikan dengan lokasi titik panas yang terdeteksi. Dengan demikian, pengerahan personel dan peralatan akan diarahkan ke wilayah yang dinilai membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Operasi terpadu melibatkan berbagai unsur, yakni Manggala Agni, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta dukungan operasi udara berupa water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Insyaallah nanti kita akan koordinasi bagaimana kemudian pasukan darat, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD dan juga water bombing kita arahkan ke tempat-tempat yang memang sangat perlu,” ujar Raja Juli.
Keterlibatan sejumlah instansi tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi dalam menangani karhutla. Pasukan darat dikerahkan untuk mendukung penanganan langsung di lokasi, sementara operasi udara digunakan sebagai dukungan tambahan sesuai kebutuhan di lapangan.
BNPB Tambah Satu Helikopter Water Bombing
Selain menambah pengerahan pasukan darat, penguatan operasi juga dilakukan melalui penambahan armada water bombing. BNPB akan mengerahkan satu helikopter tambahan untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan Selatan.
Helikopter tersebut didatangkan dari Riau. Menurut Raja Juli, dukungan dari Riau dialihkan sementara karena kondisi karhutla di wilayah itu relatif lebih terkendali, sehingga armada dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan di Kalsel.
“Kita dapat informasi tadi dari BNPB akan ada penambahan satu water bombing lagi, helikopter yang diambil dari Riau, dibawa dari Riau,” kata Raja Juli.
Ia menambahkan, pengalihan dukungan tersebut dilakukan karena angka karhutla di Riau lebih rendah. Armada itu kemudian dipinjam sementara untuk memperkuat operasi udara di Kalimantan Selatan.
“Riau alhamdulillah angkanya lebih rendah lagi, jadi kita pinjam dulu sementara dari teman-teman untuk penambahan water bombing di Kalimantan Selatan ini,” tuturnya.
Penanganan Menyesuaikan Perkembangan Hotspot
Perubahan jumlah titik panas dari 157 titik pada 21 Agustus, turun menjadi 11 titik pada malam 22 Agustus, lalu kembali terpantau 44 titik pada pagi 23 Agustus menunjukkan bahwa kondisi karhutla masih perlu dipantau secara berkelanjutan.
Kemenhut bersama unsur terkait akan mengarahkan pasukan darat dan dukungan water bombing berdasarkan lokasi hotspot yang terdeteksi. Koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan segera.
Kesimpulan
Kementerian Kehutanan memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Selatan setelah terdeteksi 44 hotspot di Banjar, Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin pada Minggu (23/8) pukul 06.00 WITA. Penguatan dilakukan melalui pengerahan Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, serta tambahan satu helikopter water bombing dari BNPB yang didatangkan dari Riau.
Ke depan, penanganan akan diarahkan berdasarkan perkembangan titik panas di setiap wilayah. Pemantauan dan koordinasi terpadu diperlukan agar pengerahan personel serta dukungan operasi udara dapat dilakukan di lokasi yang paling membutuhkan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment