Kisah Sirtanio Banyuwangi: Dari Komunitas Petani Organik hingga Menembus Pasar Global
Beras organik Sirtanio dari Banyuwangi berhasil menembus pasar internasional setelah melalui proses panjang dalam membangun ekosistem pertanian, memperbaiki persoalan produksi, serta memperluas akses pemasaran. Keberhasilan tersebut berawal dari komunitas petani lokal yang kemudian berkembang menjadi pusat pelatihan pertanian organik sekaligus produsen beras dalam kemasan.
Kisah Sirtanio menjadi salah satu cerita yang diangkat dalam Program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur. Mengusung tema “Jelajah Ekonomi Berdaya: Merangkai Kemandirian, Inovasi, dan Keberlanjutan dari Ekosistem Lokal”, program tersebut telah memasuki penyelenggaraan yang ketiga.
Tim Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026 dilepas dari Gedung De Javasche Bank, Surabaya, menuju sejumlah wilayah di Jawa Timur pada akhir Juli 2026. Dalam kegiatan itu, perkembangan klaster pangan, UMKM, dan pondok pesantren yang memperoleh pendampingan Bank Indonesia turut dilihat secara langsung.
Berawal dari Kelompok Tani di Singojuruh
Salah satu wilayah yang menjadi tujuan program tersebut adalah Kabupaten Banyuwangi. Di daerah yang dikenal sebagai Bumi Blambangan itu, PT Sirtanio Organik Indonesia berdiri, tepatnya di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh.
Sirtanio bermula dari Kelompok Tani Mendo Sampurno. Selama hampir dua dekade, kelompok tersebut tumbuh menjadi komunitas pertanian organik yang tidak hanya memproduksi beras, tetapi juga menjadi pusat pelatihan bagi pengembangan pertanian organik.
Nama Sirtanio diambil dari bahasa Jawa, yakni “Sir” yang berarti suka dan “Tanio” yang bermakna ajakan untuk bertani. Nama tersebut mencerminkan semangat komunitas dalam mengembangkan aktivitas pertanian sekaligus dinilai sejalan dengan misi Bank Indonesia untuk mendorong kemandirian ekonomi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan, kisah keberhasilan komunitas pertanian lokal seperti Sirtanio perlu disebarluaskan agar dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.
“UMKM dan pondok pesantren, utamanya di Jatim untuk mengemuka di wilayahnya. Agar semua pihak bisa belajar. Ada success story, ada insight yang bisa direplikasi di daerah lain,” ujar Ibrahim.
Pendampingan Bank Indonesia Membuka Akses Pasar
Produk beras organik Sirtanio yang terdiri atas beras merah, hitam, dan putih kini telah menjangkau pasar domestik maupun internasional. Produk tersebut berhasil dipasarkan ke sejumlah negara, antara lain Italia, Tiongkok, dan Amerika Serikat.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember, Iqbal Reza Nugraha, menuturkan bahwa pihaknya mulai mengenal Sirtanio pada 2011. Saat itu, Bank Indonesia melihat potensi besar yang dimiliki komunitas tersebut, terutama karena Sirtanio tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu melibatkan lebih banyak petani.
Potensi lain yang dinilai penting adalah kemampuan komunitas tersebut dalam mengembangkan benih organik secara mandiri. Menurut Iqbal, langkah itu menjadi bagian penting dari pengembangan pertanian yang berkelanjutan melalui pembinaan petani organik.
Peluang Pertanian Organik Banyuwangi Masih Luas
Sektor pertanian organik di Banyuwangi masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuwangi, produksi beras pada semester pertama 2026 mencapai 255.257 ton. Pada periode yang sama, surplus beras tercatat sekitar 174.000 ton.
Namun, produksi beras organik baru mencapai 765,15 ton. Angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan total produksi beras di Banyuwangi. Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang pengembangan pertanian organik bagi petani di wilayah tersebut masih terbuka lebar.
Mengubah Keluhan Beras Apek Menjadi Solusi
Di balik keberhasilan Sirtanio memasuki pasar global, terdapat tantangan besar pada masa awal pemasaran. Direktur PT Sirtanio Organik Indonesia, Shohib Qomad Dillah, mengungkapkan bahwa Sirtanio sempat menerima banyak keluhan dari pengelola ritel hanya satu bulan setelah beras organik dipasarkan.
“Di beberapa outlet berasnya ada bau apek dan warnanya berubah,” ungkap Shohib.
Menurut Shohib, beras organik mengalami proses oksidasi lebih cepat dibandingkan beras konvensional yang menggunakan pestisida kimia. Akibatnya, beras organik memiliki tantangan tersendiri dalam hal daya simpan.
Persoalan tersebut mulai menemukan solusi setelah Sirtanio bertemu dengan Bank Indonesia Jember pada 2011. Melalui Program Sosial Bank Indonesia atau PSBI, Sirtanio memperoleh bantuan mesin pengemas vakum.
Mesin vakum pertama diterima pada 2013. Seiring perkembangan usaha, Unit Pengemasan Sirtanio kini telah menggunakan mesin vakum modern berjenis double chamber. Teknologi tersebut membuat beras dapat disimpan lebih dari satu tahun.
Penguatan Ekosistem dari Hulu hingga Hilir
Pendampingan Bank Indonesia kepada Sirtanio dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sisi hulu hingga hilir. Pendampingan mencakup masa tanam, pemeliharaan, panen, pascapanen, hingga pemasaran.
Di sisi hulu, penguatan dilakukan melalui kelembagaan petani, perluasan jejaring kemitraan, serta penerapan standar budidaya pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP). Sementara itu, di sisi hilir, para petani memperoleh pelatihan digitalisasi keuangan serta dukungan sarana dan prasarana, termasuk mesin vakum dan alat distribusi.
Bank Indonesia juga membantu membuka akses pasar melalui berbagai pameran yang diselenggarakan bersama Bank Indonesia maupun pemerintah daerah. Selain itu, Sirtanio difasilitasi dalam kegiatan business matching penjualan dan pembiayaan.
Upaya tersebut turut mendukung perluasan pasar ekspor Sirtanio ke Italia pada 2019. Pendampingan yang diberikan menunjukkan bahwa peningkatan daya saing produk pertanian membutuhkan penguatan berkelanjutan di setiap tahapan usaha.
Menopang Banyuwangi sebagai Lumbung Pangan Jawa Timur
Pengembangan klaster pangan seperti Kelompok Tani Mendo Sampurno juga berperan dalam mendukung stabilitas pangan dan pengendalian inflasi. Selain menjaga ketersediaan pangan, pembinaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani di Jawa Timur.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa pertanian merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian masyarakat. Sektor tersebut menyumbang lebih dari 26 persen terhadap PDRB Banyuwangi. Dari sisi mata pencaharian, sekitar 40 persen masyarakat bekerja di sektor pertanian.
Menurut Ipuk, Banyuwangi akan terus mempertahankan statusnya sebagai salah satu lumbung pangan utama Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga berupaya mengembangkan pertanian dengan tata kelola yang baik, sebagaimana tercermin dalam kemitraan antara Bank Indonesia dan Sirtanio.
Kesimpulan
Perjalanan Sirtanio dari kelompok tani lokal hingga mampu menembus pasar internasional menunjukkan pentingnya kolaborasi antara komunitas petani, Bank Indonesia, dan pemerintah daerah. Tantangan pascapanen yang sempat memunculkan keluhan konsumen dapat diatasi melalui teknologi pengemasan, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas petani, serta perluasan akses pasar.
Lahan pertanian organik mitra Sirtanio kini menjadi medan percontohan nasional. Ke depan, keberhasilan tersebut diharapkan dapat menginspirasi petani, pelaku UMKM, dan pondok pesantren di daerah lain untuk membangun ekonomi lokal yang mandiri, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar global.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment