Mendikdasmen Luruskan Viral SD di NTT Dapat IFP tetapi Tak Punya Listrik

Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memberikan penjelasan mengenai video viral sebuah sekolah dasar negeri di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang disebut menerima fasilitas Smart TV, tetapi tidak memiliki aliran listrik. Menurut Mu’ti, informasi yang beredar di media sosial tersebut tidak sepenuhnya akurat.

Mu’ti menjelaskan bahwa perangkat yang terlihat dalam video bukan Smart TV, melainkan Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel (IFP). Perangkat tersebut merupakan bagian dari program digitalisasi sekolah yang ditujukan untuk mendukung proses pembelajaran di kelas.

Mendikdasmen Sebut Informasi Viral Tidak Akurat

Dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI pada Senin (21/9), Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa kondisi sekolah yang ditampilkan dalam video viral hanya menggambarkan salah satu ruang kelas. Ruangan tersebut memang sedang mengalami kerusakan dan tidak berfungsi, termasuk IFP yang berada di dalamnya.

Namun, ia menegaskan bahwa sekolah tersebut memiliki beberapa ruang kelas lain yang masih dapat digunakan. Dengan demikian, kondisi yang terlihat dalam video tidak dapat dijadikan gambaran keseluruhan situasi sekolah.

“Khusus berita yang viral, tentang sebuah SD negeri di NTT itu sesungguhnya yang beredar di media sosial itu tidak akurat. Karena sebenarnya SDN itu memiliki beberapa ruang kelas, yang lainnya masih berfungsi,” kata Mu’ti.

Ia menambahkan, IFP yang berada di ruang kelas lain juga masih berfungsi. Adapun perangkat yang terlihat dalam video berada di ruang yang sedang tidak digunakan karena mengalami kerusakan.

Empat Komitmen Program Digitalisasi Sekolah

Abdul Mu’ti mengatakan, program digitalisasi sekolah tidak hanya berfokus pada pemberian perangkat pembelajaran. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memiliki empat komitmen yang harus dipenuhi agar digitalisasi dapat berjalan secara optimal.

Perangkat, Pelatihan, dan Akses Jaringan

Empat komitmen tersebut meliputi pemberian Papan Interaktif Digital, pelatihan bagi guru, pemberian laptop, serta penyediaan akses jaringan. Keempat aspek itu dinilai saling berkaitan dalam mendukung pemanfaatan teknologi untuk kegiatan belajar mengajar.

Mu’ti menegaskan bahwa akses jaringan mencakup dua hal, yakni jaringan internet dan jaringan listrik. Keduanya menjadi kebutuhan penting agar perangkat digital yang telah diberikan dapat digunakan secara maksimal di sekolah.

“Yang pertama pemberian IFP-nya. Yang kedua pelatihan gurunya, jadi gurunya kita latih. Yang ketiga itu pemberian laptop. Kemudian yang keempat itu akses jaringan,” ujar Mu’ti.

Solusi Internet dan Listrik untuk Daerah 3T

Untuk sekolah yang belum memiliki akses internet, terutama di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), Kemendikdasmen menyiapkan dukungan melalui layanan internet berbasis satelit, yakni Starlink.

Menurut Mu’ti, bantuan akses internet melalui Starlink telah dilakukan di sejumlah daerah 3T. Layanan tersebut digunakan sebagai salah satu upaya untuk menjangkau sekolah-sekolah yang belum terhubung dengan jaringan internet konvensional.

Sementara itu, sekolah yang belum memiliki jaringan listrik akan ditangani melalui dua skema. Skema pertama adalah pemanfaatan panel surya. Skema kedua dilakukan melalui pembangunan jaringan listrik baru bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Mu’ti menyebut pembahasan dengan PLN mengenai pembangunan jaringan listrik tersebut telah dilakukan. Ia berharap kerja sama itu dapat direalisasikan untuk membantu sekolah yang belum mendapatkan akses listrik.

Sorotan DPR dan Kondisi SDN Mboeng

Dalam rapat yang sama, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, turut menyoroti kondisi SDN Mboeng di NTT. Ia menyampaikan bahwa sekolah tersebut disebut menerima smart board, tetapi bangunan sekolahnya tidak memiliki listrik.

Bonnie juga mengingatkan bahwa perangkat digital yang tidak digunakan dalam waktu lama berpotensi mengalami kerusakan. Karena itu, ketersediaan fasilitas pendukung seperti listrik menjadi hal penting agar bantuan perangkat pembelajaran dapat dimanfaatkan.

Sebelumnya, Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen Moch. Salim Somad menyampaikan bahwa SDN Mboeng akan menjalani proses revitalisasi pada tahun ini. Pihak Kemendikdasmen juga telah mendatangi sekolah tersebut untuk melihat secara langsung kondisi bangunan serta memastikan kebutuhan perbaikannya.

Salim mengatakan, perbaikan dilakukan pada ruang kelas yang mengalami kerusakan berat maupun ruang kelas dalam kondisi darurat. Mengenai bantuan perangkat yang disebut sebagai Smart TV, ia menjelaskan bahwa berdasarkan data pokok pendidikan atau Dapodik, sekolah tersebut tercatat memiliki sumber listrik.

Data tersebut menjadi salah satu dasar sekolah menerima perangkat televisi yang digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Namun, kondisi di lapangan, termasuk ruang kelas yang rusak dan tidak berfungsi, menjadi perhatian yang perlu ditangani.

Kesimpulan

Penjelasan Mendikdasmen Abdul Mu’ti menunjukkan bahwa video viral mengenai sekolah di NTT tidak menggambarkan kondisi seluruh ruang kelas. Perangkat yang disebut Smart TV sebenarnya merupakan IFP, sementara ruang kelas yang terlihat dalam video sedang tidak berfungsi karena mengalami kerusakan.

Ke depan, keberhasilan program digitalisasi sekolah tidak hanya ditentukan oleh pengadaan perangkat, tetapi juga kesiapan guru, laptop, internet, dan listrik. Penyediaan Starlink bagi daerah yang belum memiliki internet serta penggunaan panel surya dan pembangunan jaringan baru bersama PLN diharapkan dapat membantu sekolah-sekolah di wilayah 3T memanfaatkan teknologi pembelajaran secara lebih optimal.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment