Mengenal Jaringan Proksi Iran di Timur Tengah dan Perubahan Strategi AS-Israel
Konflik di Timur Tengah tidak hanya melibatkan negara-negara secara langsung, tetapi juga berbagai kelompok bersenjata yang memiliki hubungan politik, ideologis, maupun militer dengan kekuatan regional. Salah satu negara yang kerap disebut memiliki jaringan kelompok sekutu di kawasan adalah Iran. Jaringan tersebut mencakup milisi di Yaman, Lebanon, Irak, Suriah, Gaza, dan wilayah lainnya.
Houthi di Yaman menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mendapat perhatian karena konfliknya dengan Arab Saudi. Milisi yang bermarkas di Yaman itu disebut didanai dan dilatih oleh Iran. Di luar Houthi, Iran juga memiliki hubungan erat dengan sejumlah kelompok bersenjata lain, termasuk Hizbullah di Lebanon, Pasukan Mobilisasi Populer atau PMF di Irak, serta Brigade Zaynabiyoun di Suriah.
Houthi, Sekutu Iran di Yaman
Houthi dikenal sebagai salah satu sekutu regional Iran yang paling berkomitmen. Michael Knights, kepala peneliti di Horizon Engage yang banyak menulis tentang Houthi, menyebut kelompok tersebut sebagai sekutu Iran yang paling murni secara ideologis dan paling agresif.
Kelompok ini berbasis di Yaman dan memiliki konflik dengan Arab Saudi. Hubungan Houthi dengan Iran menjadikannya bagian penting dari jaringan kekuatan yang dipandang sebagai perpanjangan pengaruh Teheran di Timur Tengah.
Hizbullah hingga PMF
Hizbullah di Lebanon
Di Lebanon, Iran mendanai dan melatih Hizbullah. Kelompok ini disebut sebagai salah satu milisi terbesar dan terus berkembang di Timur Tengah. Hizbullah diinisiasi oleh kelompok yang menganut paham Syiah asal Iran dan telah berada di Lebanon selama sekitar 20 tahun.
Keberadaan Hizbullah memperlihatkan bagaimana hubungan Iran dengan kelompok bersenjata tidak hanya berlandaskan kepentingan militer, tetapi juga memiliki dimensi ideologis yang kuat.
PMF di Irak
Irak memiliki Quwwat al-Hashd ash-Sha’bi atau Pasukan Mobilisasi Populer, yang lebih dikenal sebagai PMF. Kelompok ini merupakan jaringan paramiliter yang disponsori oleh pemerintah Irak, tetapi memiliki hubungan erat dengan Iran.
Posisi PMF menunjukkan kompleksitas hubungan antara struktur keamanan resmi suatu negara dan jaringan kelompok yang memiliki kedekatan dengan kekuatan asing. Hubungan tersebut turut menjadi bagian dari dinamika pengaruh Iran di kawasan.
Brigade Zaynabiyoun di Suriah
Sementara itu, di Suriah terdapat Brigade Zaynabiyoun. Kelompok milisi Syiah tersebut telah ada sejak 2014 dan dilatih langsung oleh Pasukan Quds Iran yang berada di bawah Garda Revolusi Iran.
Konsep Poros Perlawanan Iran
Menurut Harvard Kennedy School, selama dua dekade Republik Islam Iran berupaya mempromosikan kepemimpinannya atas apa yang disebut sebagai “poros perlawanan” di seluruh Timur Tengah. Jaringan ini ditampilkan sebagai front persatuan untuk menghadapi Israel dan Amerika Serikat, dengan dukungan terhadap Palestina sebagai salah satu landasan narasinya.
Melalui ideologi “mengekspor revolusi”, retorika Iran mengenai kelompok-kelompok bersenjata di Lebanon, Yaman, Irak, Suriah, Gaza, dan wilayah lain kerap mengacu pada gagasan “kesatuan front”. Narasi tersebut membangun citra adanya koordinasi yang kuat dan strategi yang berjalan secara selaras.
Lina Khatib, Dosen Tamu di Inisiatif Timur Tengah Sekolah Harvard Kennedy, mengatakan kerangka itu dirancang untuk menempatkan Iran sebagai kekuatan regional dominan yang mampu membentuk dinamika keamanan Timur Tengah.
Model Proksi Iran Mengalami Degradasi
Namun, Khatib menyebut model proksi Iran kini mengalami degradasi. Sebagian besar kelompok yang menjadi bagian dari jaringan tersebut disebut telah kehilangan sebagian besar kemampuan militer, politik, dan finansial mereka.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran mendasar dalam doktrin strategis Amerika Serikat dan Israel. Keduanya tidak lagi memandang penguatan regional Iran sebagai status quo yang masih dapat ditoleransi.
Serangan 7 Oktober turut memperkuat pandangan bahwa kekuatan proksi Iran bukan sekadar tantangan keamanan yang dapat dikendalikan, melainkan ancaman eksistensial bagi kawasan. Negara-negara Teluk sendiri telah lama menganggap Iran dan jaringan proksinya sebagai ancaman keamanan serius.
Perubahan Kebijakan Amerika Serikat
Selama lebih dari satu dekade, kebijakan Amerika Serikat lebih memprioritaskan persoalan nuklir Iran dibandingkan intervensi regional Teheran. Kondisi tersebut mendorong negara-negara Teluk memilih strategi de-eskalasi dengan Iran sebagai cara untuk mengelola risiko.
Namun, peristiwa 7 Oktober menunjukkan keterbatasan pendekatan tersebut. De-eskalasi dinilai belum mampu membatasi kapasitas Iran dalam mengguncang stabilitas kawasan.
Dengan berkuasanya pemerintahan Donald Trump, kebijakan Amerika Serikat bergeser dan semakin selaras dengan penilaian Israel. Peran regional Iran dipandang perlu dihadapi secara langsung, bukan lagi sekadar diakomodasi.
Kesimpulan
Jaringan kelompok yang memiliki hubungan dengan Iran menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika keamanan Timur Tengah. Houthi, Hizbullah, PMF, dan Brigade Zaynabiyoun memiliki karakter serta konteks masing-masing, tetapi semuanya disebut berada dalam lingkup pengaruh Teheran.
Di tengah melemahnya sebagian kemampuan militer, politik, dan keuangan kelompok-kelompok tersebut, perubahan sikap Amerika Serikat dan Israel berpotensi membuat persaingan dengan Iran berlangsung lebih terbuka. Ke depan, hubungan Iran dengan jaringan proksinya akan tetap menjadi salah satu isu utama yang menentukan arah keamanan dan stabilitas Timur Tengah.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment