NASA Ungkap Kalimantan Hampir Tertutup Asap Karhutla, Dampak El Nino Makin Mengkhawatirkan

Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, kembali memperlihatkan kondisi Kalimantan yang diselimuti asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam citra satelit terbaru, sebagian besar wilayah pulau tersebut nyaris tidak terlihat karena tertutup kabut asap yang pekat.

Potret tersebut tidak hanya menggambarkan luasnya sebaran asap, tetapi juga menunjukkan titik-titik panas atau hot spot yang tersebar di sejumlah kawasan Kalimantan. Kondisi ini menjadi perhatian karena kebakaran berlangsung ketika Indonesia menghadapi musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino kuat.

Citra Satelit NASA Perlihatkan Kalimantan Tertutup Asap

Foto Kalimantan diambil pada Selasa (1/9) menggunakan instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) yang terpasang pada satelit Aqua milik NASA. Instrumen tersebut menangkap kondisi atmosfer dan permukaan wilayah yang terdampak kabut asap, sekaligus mendeteksi sejumlah titik api.

Dalam citra itu, asap tampak menyelimuti sebagian besar wilayah Kalimantan. Kepulan asap yang tebal membuat bentang alam pulau tersebut sulit diamati dari luar angkasa. Selain menjadi gambaran visual mengenai luasnya dampak karhutla, hasil pemantauan NASA juga membantu menunjukkan persebaran aktivitas kebakaran di berbagai lokasi.

Pengamatan melalui satelit menjadi salah satu cara yang digunakan untuk memantau kebakaran secara cepat. Pemerintah Indonesia memanfaatkan data dari satelit NASA dan NOAA melalui sensor MODIS serta VIIRS untuk memperoleh informasi mengenai titik panas secara near-real-time.

El Nino Kuat Memperparah Musim Kebakaran

Peneliti Columbia University, Robert Field, menyebut fenomena El Nino kategori kuat sebagai salah satu faktor yang memperburuk karhutla di Kalimantan. El Nino membuat musim kemarau di wilayah rawan kebakaran menjadi lebih kering sehingga lahan lebih mudah terbakar dan api lebih sulit dikendalikan.

Robert Field, yang turut mengembangkan Global Fire Weather Database untuk membuat prakiraan cuaca kebakaran secara real-time, memperkirakan kondisi kebakaran kali ini dapat lebih parah dibandingkan kejadian serupa pada 1997 dan 2015.

Menurutnya, Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi aktivitas api telah meningkat tajam dan menunjukkan pola yang menyerupai kondisi pada 2015. Ia menjelaskan bahwa El Nino yang kuat membuat wilayah-wilayah rentan kebakaran mengalami kekeringan lebih parah.

Pada 2015, kebakaran yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan melepaskan sekitar 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca. Jumlah tersebut bahkan lebih besar dibandingkan total emisi tahunan Jepang. Sementara itu, hingga Rabu (2/9), kebakaran pada tahun ini yang baru berlangsung sekitar satu bulan telah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari total emisi kebakaran pada 2015.

Lahan Gambut Menjadi Tantangan Utama

Kekeringan yang parah dan meluas turut meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 90 persen wilayah Indonesia mencatat curah hujan yang sangat sedikit hingga tidak mengalami hujan sama sekali pada awal Agustus.

Dalam kondisi normal, lapisan gambut yang berada di bawah permukaan tanah di Kalimantan, Sumatra, dan Papua memiliki kadar air yang cukup tinggi sehingga api sulit menyebar. Namun, ketika kekeringan terjadi, lahan gambut menjadi lebih kering dan mudah terbakar.

Robert menjelaskan bahwa kebakaran di permukaan tanah masih relatif lebih mudah ditangani. Persoalan menjadi jauh lebih sulit ketika api merambat hingga ke lapisan bawah tanah. Api di dalam gambut dapat terus membara dan diperkirakan baru berhenti setelah hujan turun pada Oktober atau November.

Data Satelit Memiliki Keterbatasan

Platform pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan, SiPongi, mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026. Meski demikian, angka tersebut tidak selalu menggambarkan keseluruhan kebakaran yang terjadi di lapangan.

Sensor MODIS dan VIIRS memiliki keterbatasan dalam mendeteksi api yang tertutup asap tebal, awan, kanopi hutan, maupun api yang berada di bawah permukaan tanah gambut. Karena itu, ketika kebakaran mencapai kondisi paling parah, jumlah api yang terpantau melalui satelit justru dapat terlihat menurun.

Ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, Mark Cochrane, mengatakan peristiwa kabut asap terburuk secara paradoks menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.

Kabut Asap Ganggu Aktivitas Masyarakat

Cochrane menilai pembangunan saluran irigasi dan pengeringan rawa gambut dalam skala besar pada 1990-an, yang dilakukan untuk proyek cetak sawah, turut meningkatkan kerawanan kebakaran. Aktivitas tersebut menurunkan permukaan air tanah secara drastis di wilayah lahan basah.

Selain itu, perkebunan kelapa sawit dan konsesi hutan tanaman industri juga banyak terdapat di wilayah yang terdampak. Kombinasi kondisi lahan yang kering dan aktivitas pembukaan kawasan membuat risiko karhutla semakin besar.

Kabut asap yang menyelimuti Indonesia dan negara-negara tetangga mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Pemerintah memperingatkan bahwa sebagian besar warga terpapar asap berbahaya. Sejumlah sekolah mengalihkan kegiatan belajar mengajar secara daring, sembilan taman nasional ditutup sementara, dan beberapa penerbangan mengalami penundaan karena jarak pandang menurun.

Penanganan Karhutla Membutuhkan Komitmen Berkelanjutan

Mark Cochrane menilai perhatian terhadap karhutla sering kali meningkat ketika El Nino terjadi, tetapi kembali menurun setelah kondisi membaik. Menurutnya, penyelesaian persoalan kebakaran membutuhkan fokus dan komitmen berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika situasi tidak terlalu parah.

Citra NASA menunjukkan bahwa karhutla di Kalimantan telah menimbulkan kabut asap dalam skala luas. Dengan kondisi El Nino yang kuat, kekeringan, serta kerentanan lahan gambut, kebakaran berpotensi terus menjadi persoalan serius hingga hujan kembali turun. Pemantauan satelit dan penanganan di lapangan tetap penting, tetapi upaya jangka panjang untuk menjaga kelembapan lahan gambut dan mencegah kebakaran juga diperlukan agar dampak asap serta emisi besar tidak terus berulang.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment