Rupiah Melemah ke Rp17.744 per Dolar AS, Sentimen Global dan Domestik Jadi Tekanan
Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (27/8) sore. Rupiah berada di level Rp17.744 per dolar AS, turun 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan mata uang Garuda tersebut berlangsung di tengah penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang global. Selain faktor eksternal, kondisi sentimen domestik yang dinilai masih rapuh turut memberikan tekanan terhadap rupiah.
Rupiah Melemah di Tengah Pergerakan Mata Uang Asia
Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia yang juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Peso Filipina tercatat turun 0,34 persen, sementara yen Jepang melemah 0,02 persen.
Namun, tidak seluruh mata uang Asia bergerak di zona merah. Sejumlah mata uang kawasan justru mencatat penguatan pada perdagangan yang sama. Yuan China naik 0,22 persen, sedangkan dolar Singapura menguat 0,07 persen.
Penguatan juga terjadi pada won Korea Selatan yang terapresiasi 0,40 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong naik tipis sebesar 0,01 persen. Adapun ringgit Malaysia tercatat bergerak datar terhadap dolar AS.
Pergerakan Mata Uang Negara Maju Bervariasi
Pergerakan mata uang utama negara-negara maju juga berlangsung beragam. Euro Eropa tercatat bergerak datar terhadap dolar AS. Di sisi lain, poundsterling Inggris melemah 0,07 persen dan dolar Kanada turun 0,04 persen.
Dolar Australia menjadi salah satu mata uang negara maju yang menguat, dengan kenaikan sebesar 0,21 persen. Sebaliknya, franc Swiss melemah 0,07 persen.
Variasi pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan dolar AS memberikan pengaruh yang berbeda terhadap mata uang di berbagai kawasan. Rupiah termasuk mata uang yang mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis sore.
Data Ekonomi AS Lebih Kuat dari Perkiraan
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring dengan penguatan dolar AS. Menurut dia, penguatan mata uang Negeri Paman Sam dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, seiring penguatan dolar AS sendiri setelah data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa faktor eksternal masih menjadi salah satu perhatian utama dalam pergerakan nilai tukar rupiah. Ketika dolar AS menguat, rupiah menghadapi tekanan dalam perdagangan terhadap mata uang tersebut.
Sentimen Domestik Turut Membebani Rupiah
Selain pengaruh dari pasar global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Lukman menilai sentimen domestik masih rapuh di tengah aksi demonstrasi besar yang berlangsung di Jakarta pada hari yang sama.
“Selain itu, sentimen domestik masih rapuh di tengah aksi demonstrasi besar yang berlangsung di Jakarta hari ini ikut menekan,” tuturnya.
Dengan demikian, pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis dipengaruhi oleh kombinasi penguatan dolar AS dan kondisi sentimen domestik. Kedua faktor tersebut menjadi perhatian dalam mencermati arah pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya.
Kesimpulan
Rupiah ditutup pada level Rp17.744 per dolar AS, melemah 19 poin atau 0,11 persen. Pelemahan tersebut berlangsung sejalan dengan penurunan sejumlah mata uang Asia, meskipun beberapa mata uang kawasan lainnya masih mampu menguat.
Menurut Lukman Leong, penguatan dolar AS setelah rilis data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan menjadi faktor eksternal yang menekan rupiah. Di dalam negeri, sentimen yang masih rapuh akibat aksi demonstrasi besar di Jakarta turut memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Ke depan, pergerakan rupiah akan tetap dipengaruhi oleh arah penguatan dolar AS serta perkembangan sentimen domestik. Kedua faktor tersebut menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam melihat potensi perubahan nilai tukar rupiah pada perdagangan selanjutnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment