Rupiah Melemah ke Rp17.876 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga BI

Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (22/9) pagi. Mata uang Garuda berada di level Rp17.876 per dolar AS, turun 29 poin atau 0,16 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah berlangsung di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang regional masih mampu mencatat penguatan, sementara mata uang lainnya mengalami tekanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencermati perkembangan global, terutama arah kebijakan suku bunga AS dan keputusan moneter di masing-masing negara.

Rupiah Melemah di Tengah Pergerakan Mata Uang Asia

Pada perdagangan pagi ini, beberapa mata uang Asia tercatat menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina naik 0,13 persen, sedangkan ringgit Malaysia menguat tipis 0,01 persen. Penguatan terbesar di kawasan tersebut dicatatkan oleh won Korea Selatan yang meningkat 0,98 persen.

Namun, tidak seluruh mata uang Asia bergerak positif. Yuan China melemah 0,03 persen, dolar Singapura turun 0,02 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,10 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong tercatat bergerak datar terhadap dolar AS.

Pergerakan yang beragam tersebut menjadi salah satu latar belakang dinamika nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini. Rupiah harus menghadapi tekanan ketika sebagian mata uang regional bergerak tidak seragam dan dolar AS masih mendapatkan perhatian dari pasar.

Mata Uang Negara Maju Bergerak Bervariasi

Pergerakan beragam juga terlihat pada mata uang negara-negara maju. Euro Eropa tercatat melemah 0,01 persen terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris juga turun 0,01 persen, sedangkan dolar Australia mengalami koreksi sebesar 0,19 persen.

Dolar Kanada turut melemah 0,05 persen. Di sisi lain, franc Swiss justru menguat 0,02 persen terhadap dolar AS. Variasi kinerja mata uang tersebut memperlihatkan bahwa pasar masih merespons perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter global secara berbeda-beda.

Sentimen The Fed Tekan Rupiah

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih berpotensi mengalami tekanan terhadap dolar AS. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve atau The Fed, Goolsbee.

Pernyataan tersebut kembali meningkatkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga AS akan bertahan di level tinggi. Prospek suku bunga yang lebih tinggi dapat menjaga perhatian investor terhadap dolar AS dan memberikan tekanan terhadap rupiah.

“Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS menyusul pernyataan hawkish pejabat The Fed, Goolsbee, yang kembali meningkatkan ekspektasi suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Pasar Menanti Keputusan RDG Bank Indonesia

Selain mencermati kebijakan The Fed, pelaku pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan digelar pada hari berikutnya. Keputusan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah dalam waktu dekat.

Suku Bunga BI Diperkirakan Tetap

Lukman memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga. Namun, keputusan tersebut dinilai dapat membatasi dukungan terhadap rupiah karena tidak memberikan tambahan sentimen positif bagi mata uang domestik.

“Di sisi lain, keputusan RDG BI besok yang diperkirakan mempertahankan suku bunga juga dapat membatasi dukungan terhadap rupiah,” katanya.

Dengan demikian, arah rupiah akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, pasar menyoroti prospek suku bunga AS. Sementara dari dalam negeri, keputusan BI menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi persepsi terhadap daya dukung kebijakan moneter bagi rupiah.

Rupiah Diproyeksikan Bergerak di Rentang Rp17.800-Rp17.900

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS. Proyeksi tersebut mencerminkan potensi pergerakan rupiah yang masih terbatas di tengah tekanan dari dolar AS dan sikap pelaku pasar yang menunggu kepastian kebijakan suku bunga.

Kesimpulan

Rupiah melemah 0,16 persen ke level Rp17.876 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi. Pelemahan ini berlangsung ketika mata uang Asia dan negara maju bergerak bervariasi. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut seiring pernyataan hawkish pejabat The Fed yang meningkatkan ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi.

Di dalam negeri, pasar juga menanti keputusan RDG BI yang diperkirakan mempertahankan suku bunga. Keputusan tersebut dinilai dapat membatasi dukungan terhadap rupiah. Untuk sementara, rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS, dengan perkembangan kebijakan The Fed dan keputusan BI menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment