Rusia Sindir Klaim Trump soal Selat Hormuz sebagai “Wilayah AS”
Perwakilan Tetap Rusia untuk organisasi-organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, menyindir klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz sebagai “wilayah Amerika Serikat”. Pernyataan tersebut memicu perhatian karena disampaikan bersamaan dengan unggahan peta Trump yang memasukkan selat strategis itu sebagai bagian dari wilayah AS.
Ulyanov menanggapi klaim tersebut dengan nada mengejek melalui akun X. Dalam unggahan yang dikutip CNN pada 16 Agustus, ia menyebut ancaman untuk menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS hanyalah sebuah lelucon. Pernyataan itu kemudian turut diberitakan oleh sejumlah media, termasuk IRNA Iran, saba.net dari Yaman, Dawn Pakistan, dan Middle East Eye.
Ulyanov Sindir Klaim Trump
Dalam unggahannya, Ulyanov menulis bahwa Gedung Putih telah mengonfirmasi ancaman untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai “wilayah AS” hanya merupakan lelucon. Ia juga menambahkan sindiran mengenai “selera humor yang sangat istimewa”.
Komentar pejabat Rusia tersebut muncul setelah Trump mengunggah peta yang menampilkan Selat Hormuz sebagai bagian dari Amerika Serikat. Pada peta itu terdapat tulisan, “Wilayah baru AS Selat Hormuz”. Unggahan tersebut menjadi sorotan karena Selat Hormuz selama ini disebut secara langsung dalam konteks hubungan AS dan Iran.
Trump Sebut Tidak Ada Negosiasi dengan Iran
Dalam unggahan lain, Trump menyatakan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz. Ia juga mengatakan bahwa blokade pasukan AS terhadap kapal-kapal Iran di perairan tersebut tetap berlaku sepenuhnya.
Pernyataan Trump itu mempertegas sikap pemerintah AS dalam isu Selat Hormuz. Namun, dari informasi yang tersedia, tidak disebutkan adanya rincian lebih lanjut mengenai bentuk blokade maupun perkembangan komunikasi antara Washington dan Teheran terkait perairan tersebut.
Iran Balas dengan Unggahan Satir
Pemerintah Iran cenderung menanggapi klaim tersebut dengan dingin. Salah satu respons datang dari akun resmi Konsulat Jenderal Iran di Hyderabad, India, yaitu @IraninHyderabad. Akun tersebut mengunggah ulang konten dari akun Gedung Putih yang menampilkan tangkapan layar unggahan Trump di Truth Social mengenai klaim atas Selat Hormuz.
Setelah itu, akun perwakilan Iran tersebut mengunggah peta negara bagian Amerika Serikat. Dalam peta tersebut, California diberi tanda dengan warna biru. Unggahan itu disertai tulisan, “Wilayah baru Republik Islam Iran,” dan dipublikasikan pada Rabu (19/8).
Respons satir tersebut mendapat perhatian besar di media sosial. Unggahan itu tercatat memperoleh 463 komentar, disukai lebih dari 15.100 akun, serta diunggah ulang oleh sekitar 1.700 akun. Jumlah interaksi tersebut menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap saling sindir antara AS dan Iran mengenai Selat Hormuz.
California dan Komunitas Keturunan Iran
Pemilihan California dalam unggahan tersebut juga memiliki konteks tersendiri. California, khususnya Los Angeles, merupakan salah satu wilayah dengan komunitas warga keturunan Iran yang besar di luar Iran.
Berdasarkan data Iranian Diaspora Dashboard yang dikelola Center for Near Eastern Studies di Universitas California, diperkirakan terdapat sekitar 141.000 warga Amerika Serikat keturunan Iran yang tinggal di Los Angeles County.
Komunitas Iran di California Selatan berkembang pesat setelah Revolusi Islam Iran pada 1979. Kawasan Westwood di Los Angeles dikenal sebagai salah satu pusat utama kehidupan diaspora Iran. Wilayah tersebut bahkan sering disebut “Tehrangeles”, sebagaimana dikutip Anadolu Agency.
Isu Selat Hormuz Masih Menjadi Sorotan
Saling sindir antara pejabat Rusia, Presiden AS, dan perwakilan Iran memperlihatkan bagaimana isu Selat Hormuz berkembang menjadi perdebatan politik sekaligus perang narasi di media sosial. Klaim Trump mengenai “wilayah baru AS” dibalas Rusia dengan sindiran, sementara Iran merespons melalui unggahan satir yang menyinggung California.
Ke depan, perhatian terhadap isu ini diperkirakan tetap tertuju pada sikap Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah Trump menyatakan tidak ada negosiasi yang berlangsung serta menegaskan keberlanjutan blokade terhadap kapal-kapal Iran. Untuk saat ini, klaim mengenai Selat Hormuz masih menjadi bahan pernyataan politik dan sindiran terbuka di antara pihak-pihak yang terlibat.
Kesimpulan
Mikhail Ulyanov menyindir klaim Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Trump sebelumnya mengunggah peta dengan label “Wilayah baru AS Selat Hormuz” dan menyatakan tidak ada negosiasi dengan Iran. Iran kemudian membalas secara satir dengan menampilkan California sebagai “wilayah baru Republik Islam Iran”. Respons tersebut mendapat ribuan interaksi dan menyoroti keberadaan komunitas keturunan Iran di California, khususnya Los Angeles. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada sikap AS dan Iran terhadap isu Selat Hormuz serta bagaimana kedua negara menyampaikan posisi mereka di ruang publik.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment