Warga Manggarai Timur Bertahan Hidup dengan Mengumpulkan Besi Tua dari Puing Gempa

Warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa mencari cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah keterlambatan bantuan. Mayoritas warga yang berprofesi sebagai buruh tani belum berani kembali ke ladang karena masih khawatir terhadap gempa susulan dan kemungkinan air laut naik.

Situasi tersebut membuat warga di pengungsian melakukan berbagai pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Salah satu pekerjaan yang kini dilakukan adalah mengumpulkan besi tua dari puing-puing bangunan yang runtuh. Besi bekas itu kemudian dijual kepada pengepul, sementara sebagian hasilnya diserahkan untuk membiayai kebutuhan dapur umum di lokasi pengungsian.

Buruh Tani Beralih Mengumpulkan Besi Tua

Dionisius Parera, warga Kota Borong, menyampaikan kondisi yang dialami masyarakat di lokasi pengungsian pada Rabu (19/8). Menurut dia, bantuan yang ditunggu warga belum juga tiba. Di sisi lain, warga belum dapat kembali bekerja seperti biasa karena gempa susulan masih terjadi.

“Bantuan tak kunjung tiba. Sementara warga mayoritas buruh tani belum berani bekerja karena takut sewaktu-waktu terjadi gempa dan air laut naik. Apalagi gempa susulan terjadi terus-menerus dengan getaran yang lumayan kuat,” ujar Dionisius kepada CNNIndonesia.com.

Ketakutan terhadap gempa susulan membuat banyak warga memilih tetap berada di pengungsian. Dalam kondisi tersebut, mereka berusaha mendapatkan penghasilan melalui pekerjaan apa pun yang tersedia. Penghasilan itu terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama selama warga tinggal di pengungsian.

Puing Bangunan Menjadi Sumber Penghasilan

Tempat pembuangan puing reruntuhan bangunan kini berubah menjadi sumber harapan bagi warga. Mereka berbondong-bondong mengumpulkan besi bekas yang terdapat di antara reruntuhan. Besi tersebut kemudian langsung dibeli oleh pengepul besi tua yang berada di lokasi.

Sebagian hasil penjualan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi. Warga menyerahkan sebagian pendapatan kepada pengurus dapur umum untuk membeli bahan makanan. Cara tersebut menjadi bentuk gotong royong warga dalam memenuhi kebutuhan para pengungsi di tengah kondisi darurat.

Warga Saling Berbagi di Tengah Bencana

Aris Lodo (44), warga Bea Borong yang turut mengumpulkan besi tua, menyebut aktivitas tersebut sebagai “berkah” di tengah bencana. Menurut Aris, puing-puing bangunan yang berada di dekat tempat pengungsian memberikan kesempatan bagi warga untuk mendapatkan penghasilan sementara.

“Kami memang menderita akibat bencana gempa bumi, ditambah lagi belum ada bantuan yang masuk. Tapi kemudian ada puing reruntuhan yang dibuang dekat tempat pengungsian kami, sehingga dapat kami ambil besi bekasnya untuk biaya hidup dalam kondisi darurat seperti sekarang ini,” tutur Aris.

Ia mengatakan warga saling berbagi dan mengandalkan besi tua dari reruntuhan sebagai mata pencaharian baru. Aktivitas tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup selama mereka belum dapat kembali bekerja secara normal.

Mampu Mengumpulkan hingga 15 Kilogram per Hari

Aris mengaku dapat mengumpulkan hingga 15 kilogram besi tua dalam sehari. Besi yang terkumpul kemudian diserahkan kepada pengepul di Kota Borong. Meski pekerjaan itu membantu warga memperoleh penghasilan, Aris tetap berharap kondisi segera membaik.

Warga tidak ingin terus-menerus mengais puing untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka berharap bantuan segera tiba sehingga dapat menghentikan pekerjaan tersebut dan mulai menata kembali kehidupan setelah bencana.

Penutup

Keterlambatan bantuan membuat warga terdampak gempa di Manggarai Timur harus berjuang secara mandiri. Para buruh tani yang belum berani kembali ke ladang memilih mengumpulkan besi tua dari puing bangunan sebagai sumber penghasilan sementara.

Selain membantu memenuhi kebutuhan pribadi, sebagian hasil penjualan besi tua digunakan untuk membiayai dapur umum di pengungsian. Upaya tersebut menunjukkan semangat gotong royong warga di tengah situasi sulit. Namun, warga tetap berharap bantuan segera datang agar mereka dapat berhenti mengais puing dan kembali membangun kehidupan secara lebih layak.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment