AI dan Data Center Jadi Sorotan di New York Climate Week 2026 karena Boros Energi
Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pusat data menjadi salah satu topik utama dalam gelaran New York Climate Week 2026. Perhatian terhadap kedua teknologi tersebut meningkat karena kebutuhan listrik dan air yang besar, sementara dunia tengah menghadapi kondisi iklim yang semakin mengkhawatirkan.
Para pemimpin global memulai rangkaian pembicaraan pada Senin (21/9) untuk membahas langkah cepat dalam memperbaiki kondisi Bumi. Energi terbarukan menjadi salah satu harapan penting dalam pembahasan tersebut. Namun, para ahli dan aktivis menilai diskusi mengenai perubahan iklim perlu segera diikuti tindakan nyata, bukan sekadar menjadi agenda tahunan.
Ancaman Perubahan Iklim Makin Serius
New York Climate Week digelar setiap tahun bersamaan dengan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Forum ini mempertemukan pejabat tinggi pemerintahan dan eksekutif bisnis untuk membahas persoalan pemanasan global. Meski demikian, pertemuan serupa dinilai masih terlalu sering berakhir tanpa langkah konkret yang sebanding dengan skala masalah.
Melansir AP News, pola pembicaraan tersebut dinilai perlu berubah. Perkembangan AI dan pusat data berlangsung pesat, sementara harga bahan bakar fosil meningkat akibat perang di Iran dan Ukraina. Di saat yang sama, bencana yang dipicu perubahan iklim di Asia baru-baru ini mencapai tingkat kehancuran yang semakin parah.
Situasi Bumi juga tergambar dalam laporan baru yang dirilis Planetary Boundaries Science Lab dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, Jerman. Laporan tersebut menyebutkan bahwa manusia telah melampaui tujuh dari sembilan batasan planet yang ditentukan secara ilmiah sebagai batas aman bagi kesehatan Bumi.
Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research, Johan Rockström, menggambarkan kondisi Bumi seperti pasien yang sedang tidak sehat. Menurut dia, manusia tidak hanya mengancam stabilitas dan ketahanan planet, tetapi juga sistem pendukung kehidupan di dalamnya.
Rockström memperingatkan bahwa dunia semakin dekat dengan ambang batas yang dapat memicu konsekuensi tidak dapat dipulihkan dan sulit dikendalikan. Pernyataan tersebut memperkuat urgensi bagi pemerintah dan sektor bisnis untuk mempercepat upaya pengurangan dampak perubahan iklim.
Transisi Energi Disebut sebagai Kewajiban Keamanan
UK Secretary of State Edward Miliband mengatakan, peralihan menuju energi yang lebih bersih dan terbarukan kini tidak lagi hanya berkaitan dengan isu lingkungan. Menurutnya, transisi energi juga merupakan kewajiban bagi keamanan nasional.
Ia menilai krisis iklim harus menjadi perhatian para menteri luar negeri, perdana menteri, serta menteri energi dan iklim. Isu tersebut juga perlu dibahas oleh sektor keamanan dan pertahanan, termasuk kalangan militer. Dengan demikian, persoalan perubahan iklim tidak hanya menjadi perhatian para aktivis lingkungan.
AI dan Pusat Data Hadir sebagai Sebuah Paradoks
Dalam forum tersebut, AI dan pusat data disebut menghadirkan paradoks. Di satu sisi, teknologi ini berpotensi membantu manusia menghadapi perubahan iklim. Namun, di sisi lain, operasionalnya membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar sehingga berisiko memperburuk persoalan lingkungan.
Kekhawatiran terhadap Konsumsi Energi
Helen Clarkson, CEO organisasi nirlaba Climate Group yang menjadi penyelenggara New York Climate Week, menyebut dampak lingkungan AI dan pusat data sebagai topik yang sangat hangat. Para peserta menyampaikan harapan sekaligus kekhawatiran mengenai masa depan AI serta perannya dalam menghadapi perubahan iklim.
Kepala Bidang Iklim PBB Simon Stiell mengatakan, AI yang boros energi dapat mendorong peningkatan polusi. Ketergantungan terhadap batu bara, minyak, dan gas untuk memenuhi kebutuhan listrik berpotensi memperparah pemanasan global. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya energi bagi rumah tangga dan pelaku usaha.
Stiell menambahkan, para pemimpin perusahaan AI kini menghadapi tantangan dalam memperoleh izin operasi. Dukungan publik terhadap pengembangan teknologi tersebut juga disebut semakin sulit diraih apabila dampak lingkungannya tidak segera dikurangi.
AI Dinilai Tetap Penting bagi Masa Depan
Pandangan berbeda disampaikan Eva Riesenhuber, kepala keberlanjutan perusahaan otomasi asal Jerman, Siemens. Ia menilai AI tetap penting bagi umat manusia dan dapat membantu mengatasi perubahan iklim.
Menurut Riesenhuber, berbagai pihak perlu berlomba mengurangi dampak lingkungan AI secepat mungkin. Ia menegaskan bahwa manusia membutuhkan kecerdasan buatan untuk merancang masa depan yang sesuai dengan kebutuhan planet.
Evelyn Wang, Wakil Presiden Bidang Energi dan Iklim Massachusetts Institute of Technology, juga menilai persoalan yang ditimbulkan pusat data terhadap iklim dan ketersediaan air tidak akan berlangsung selamanya. Ia memperkirakan pusat data membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk mencapai kondisi water netral.
Wang juga menyebut pusat data diperkirakan memerlukan waktu sekitar satu dekade untuk berhenti menambah emisi yang memicu pemanasan global. Sementara itu, sejumlah aksi protes terkait AI dikabarkan akan berlangsung sepanjang New York Climate Week.
Kesimpulan
Pembahasan AI dan pusat data dalam New York Climate Week 2026 menunjukkan adanya tantangan besar di balik perkembangan teknologi digital. Kebutuhan listrik dan air yang tinggi membuat teknologi ini berpotensi memperburuk krisis iklim, tetapi pada saat yang sama AI juga dipandang memiliki peran dalam merancang solusi bagi masa depan.
Perdebatan tersebut menegaskan pentingnya tindakan nyata, terutama dalam mempercepat penggunaan energi bersih dan mengurangi dampak lingkungan pusat data. Ke depan, perkembangan AI akan terus menjadi perhatian publik, pemerintah, dunia usaha, serta kelompok lingkungan yang menginginkan kemajuan teknologi berjalan seiring dengan perlindungan Bumi.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment