BMKG Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Datang Terlambat dan Berlangsung Lebih Singkat

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2026/2027 di Indonesia akan datang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis. Selain mundur, durasi musim hujan juga diperkirakan berlangsung lebih singkat di sebagian besar wilayah.

BMKG menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang terjadi secara bersamaan. Kedua fenomena itu dinilai memperparah sekaligus memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, kondisi atmosfer dan laut yang saat ini terpantau menyebabkan awal musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers bertajuk “Prediksi Musim Hujan” yang digelar secara daring pada Selasa (22/9).

El Nino Sangat Kuat dan IOD Berpeluang Positif

Faisal menjelaskan, pemantauan BMKG terhadap anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4, Samudra Pasifik, menunjukkan nilai sebesar +2,83 pada akhir Agustus 2026. Sementara itu, indeks ENSO untuk periode Juli-Agustus-September atau JAS tercatat sebesar +2,63.

Nilai tersebut mengindikasikan bahwa fenomena El Nino berada dalam kategori sangat kuat. Pada saat yang sama, kondisi di Samudra Hindia juga menunjukkan perkembangan yang perlu diperhatikan. Indeks IOD pada Agustus tercatat sebesar +0,376 dan berpeluang bergerak menuju fase positif hingga akhir tahun.

Menurut BMKG, kombinasi El Nino dan IOD yang berlangsung bersamaan dapat memperpanjang kondisi kering di sejumlah besar wilayah Indonesia. Dampaknya, kedatangan musim hujan diprediksi mengalami keterlambatan dan periode musim hujan menjadi lebih pendek dibandingkan kondisi normalnya.

Awal Musim Hujan Tidak Terjadi Bersamaan

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember. Namun, waktu awal musim hujan tersebut berbeda-beda berdasarkan zona musim atau ZOM.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memaparkan, sebanyak 185 ZOM atau sekitar 24,66 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengawali musim hujan pada November. Selanjutnya, sebanyak 266 ZOM atau sekitar 17,31 persen wilayah diprediksi mulai mengalami musim hujan pada Desember.

Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis, sebanyak 529 ZOM yang mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami musim hujan lebih lambat. Sementara itu, hanya 11 ZOM atau 1,12 persen luas daratan yang diprediksi memasuki musim hujan lebih cepat.

Adapun sebanyak 26 ZOM atau 2,15 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami awal musim hujan yang sama dengan kondisi normal. Data tersebut menunjukkan bahwa keterlambatan awal musim hujan akan menjadi pola yang dominan pada musim hujan 2026/2027.

Sifat Hujan Umumnya Normal

Meski durasinya diperkirakan lebih singkat, BMKG menyebut sifat musim hujan 2026/2027 secara umum masih berada dalam kategori normal. Kondisi normal itu diprediksi terjadi di 510 ZOM atau mencakup 69,76 persen luas daratan Indonesia.

Namun, terdapat wilayah yang perlu mendapatkan perhatian karena diperkirakan mengalami hujan dengan sifat lebih basah. Kondisi tersebut diprediksi terjadi di 147 ZOM atau sekitar 18,55 persen luas daratan Indonesia.

Di sisi lain, sebanyak 42 ZOM atau 11,69 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami sifat hujan di bawah normal atau lebih kering. Perbedaan karakteristik hujan tersebut menunjukkan bahwa kondisi musim hujan tidak akan seragam di seluruh wilayah Indonesia.

Puncak Musim Hujan Diperkirakan pada Desember hingga Februari

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim hujan pada Desember, Januari, dan Februari. Periode tersebut menjadi waktu dengan intensitas musim hujan yang diprediksi paling tinggi di banyak wilayah.

Meski demikian, durasi musim hujan secara keseluruhan diperkirakan lebih pendek dibandingkan rata-ratanya. Sebanyak 482 ZOM yang mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan dengan durasi lebih singkat dari normal.

Sementara itu, musim hujan dengan durasi lebih panjang dari normal diperkirakan terjadi di 60 ZOM atau 8,58 persen luas daratan Indonesia. Adapun 40 ZOM atau 5,06 persen luas daratan diproyeksikan memiliki durasi musim hujan yang sama dengan kondisi normal.

Kesimpulan

BMKG memprediksi musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat akibat kombinasi El Nino yang sangat kuat serta IOD yang berpeluang berada dalam fase positif hingga akhir tahun. Sebagian besar wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember, dengan puncak hujan berlangsung pada Desember, Januari, dan Februari.

Walaupun secara umum sifat hujan diprediksi normal, terdapat wilayah yang berpotensi mengalami kondisi lebih basah maupun lebih kering. Karena itu, perkembangan fenomena El Nino dan IOD serta pembaruan prediksi BMKG akan menjadi hal penting untuk mencermati dinamika musim hujan di berbagai zona musim Indonesia.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment