El Nino Berpotensi Jadi yang Terkuat dalam 1.000 Tahun, 2027 Diprediksi Jadi Tahun Terpanas

Fenomena El Nino tahun ini diperkirakan semakin menguat dan berpotensi menjadi yang terbesar dalam setidaknya 1.000 tahun terakhir. Penguatan tersebut terjadi ketika suhu dasar Bumi terus meningkat akibat pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia.

Tambahan panas dari El Nino diperkirakan dapat mendorong 2027 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. Para ilmuwan juga memperingatkan bahwa fenomena ini berpotensi memperbesar risiko cuaca ekstrem, kebakaran hutan, kekeringan, banjir, hingga gangguan terhadap ketahanan pangan di berbagai wilayah dunia.

Anomali Suhu Pasifik Lampaui Rekor

Anomali suhu di Samudra Pasifik telah melampaui rekor, meski El Nino diperkirakan belum mencapai puncaknya. Suhu di wilayah pemantauan tercatat mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020.

Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya, yakni 3,02 derajat Celsius yang tercatat pada akhir November 2015. Namun, anomali ini tidak menunjukkan kenaikan suhu rata-rata seluruh permukaan Bumi. Angka tersebut menggambarkan selisih suhu di wilayah pemantauan El Nino dibandingkan dengan rata-rata suhu acuannya.

Ukuran lain yang banyak digunakan oleh ahli meteorologi adalah Oceanic Nino Index atau ONI di wilayah Niño 3.4. Berdasarkan indikator tersebut, suhu saat ini hanya terpaut 0,01 derajat Celsius di bawah rekor yang tercatat pada 2015.

Pengukuran ONI menggunakan rata-rata acuan selama 30 tahun yang diperbarui secara berkala. Pembaruan ini dilakukan untuk memperhitungkan dampak pemanasan global akibat aktivitas manusia. Kedua pengukuran tersebut bersandar pada data Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA.

Proyeksi El Nino Masuk Kategori Super

Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model iklim untuk melihat kemungkinan perkembangan El Nino. Hasilnya, rata-rata model tersebut memproyeksikan anomali suhu dapat mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember.

El Nino dengan anomali suhu di atas 2 derajat Celsius sudah masuk kategori sangat kuat dan kerap disebut sebagai “super El Nino”. Hausfather menyebut proyeksi penguatan tersebut sebagai sesuatu yang mencengangkan.

Analisis yang diterbitkan Carbon Brief itu juga mengacu pada berbagai bukti historis. Data dari terumbu karang, lingkaran pertumbuhan pohon, serta dokumen sejarah menunjukkan belum ada El Nino yang mencapai tingkat tersebut dalam setidaknya satu milenium terakhir.

Dampak El Nino bagi Indonesia dan Dunia

Risiko Kebakaran dan Polusi Udara

Penguatan El Nino membawa ancaman serius bagi Indonesia. Kondisi panas dan kering yang menyertai fenomena ini telah dikaitkan dengan kebakaran yang memecahkan rekor serta polusi udara pada tingkat yang mematikan.

Situasi tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap kesehatan masyarakat, terutama di wilayah yang terdampak asap dan kualitas udara buruk. Kondisi kering juga berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran di sejumlah kawasan.

Ancaman terhadap Ketahanan Pangan

Dampak El Nino terhadap sektor pangan juga menjadi perhatian. Di India, berkurangnya hujan monsun dapat mengganggu pertanian. Sementara itu, kekeringan di Amerika Tengah dan kawasan Karibia telah menyebabkan gagal panen.

Program Pangan Dunia atau WFP memperingatkan bahwa dampak El Nino berpotensi mendorong sekitar 50 juta orang mengalami kelaparan akut. Fenomena ini juga dapat meningkatkan harga pangan di berbagai wilayah.

Cuaca Ekstrem di Berbagai Kawasan

Profesor Friederike Otto dari Imperial College London menjelaskan bahwa El Nino menyebabkan redistribusi energi dalam jumlah besar di sistem iklim yang sudah semakin hangat akibat aktivitas manusia. Kondisi ini dapat memicu panas ekstrem yang belum pernah dialami sebelumnya.

Menurut Otto, dampaknya akan terasa pada kesehatan, ketahanan pangan, serta ketersediaan air. Ancaman El Nino tidak hanya berupa suhu panas dan kekeringan, tetapi juga hujan lebat serta banjir di sejumlah kawasan, seperti yang telah dialami Peru dan Chile.

Kawasan Tanduk Afrika diperkirakan rentan menghadapi peningkatan hujan lebat. Sebaliknya, Australia dan Afrika bagian selatan berpotensi mengalami musim panas yang lebih panas dan kering. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran serta kekeringan.

Perubahan Iklim Menyulitkan Mitigasi

Para ilmuwan mengkhawatirkan perubahan iklim dapat mengubah pola dampak El Nino yang selama ini dikenal. Perubahan tersebut berpotensi membuat negara dan masyarakat lebih sulit mempersiapkan diri menghadapi konsekuensi fenomena ini.

Otto mengingatkan bahwa El Nino merupakan fenomena yang datang dan pergi. Namun, pembakaran bahan bakar fosil membuat El Nino berlangsung di atas suhu dasar Bumi yang semakin panas.

Kesimpulan

El Nino tahun ini diperkirakan dapat berkembang menjadi salah satu yang terkuat dalam setidaknya 1.000 tahun terakhir. Rekor anomali suhu di Samudra Pasifik dan proyeksi sejumlah model iklim menunjukkan potensi penguatan hingga akhir tahun.

Jika terjadi bersamaan dengan pemanasan global, El Nino dapat memperbesar risiko panas ekstrem, kekeringan, kebakaran, banjir, gangguan pertanian, serta kenaikan harga pangan. Kondisi ini juga diperkirakan berkontribusi terhadap kemungkinan 2027 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.

Ke depan, meningkatnya suhu dasar Bumi akan membuat dampak El Nino semakin sulit dihadapi. Karena itu, perubahan pola cuaca dan ancaman terhadap kesehatan, air, pangan, serta keselamatan masyarakat perlu menjadi perhatian serius di berbagai negara.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment