El Nino 2026 Picu 1.637 Wilayah Alami Hari Tanpa Hujan Lebih dari 60 Hari

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan dampak fenomena El Nino 2026 terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Sebanyak 1.637 titik pengamatan di 25 provinsi tercatat mengalami hari tanpa hujan (HTH) ekstrem, yakni lebih dari 60 hari. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi kekeringan yang melanda berbagai wilayah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa secara historis, El Nino membuat musim kemarau di Indonesia berlangsung lebih kering dan lebih panjang. Dampak tersebut terutama dirasakan di wilayah Indonesia yang berada di selatan ekuator.

“Salah satu indikasi adanya dampak El Niño adalah kekeringan yang dialami berbagai wilayah di Indonesia,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers daring, Selasa (22/9).

1.637 Titik Mengalami Hari Tanpa Hujan Lebih dari 60 Hari

Berdasarkan hasil pemantauan perkembangan musim, sebanyak 556 zona musim (ZOM) yang mencakup 61,91 persen dari luas daratan Indonesia saat ini berada dalam periode musim kemarau. Kondisi tersebut menunjukkan cakupan musim kering yang cukup luas di berbagai wilayah Indonesia.

Analisis BMKG mencatat 1.637 titik pengamatan mengalami HTH lebih dari 60 hari. Wilayah-wilayah tersebut tersebar di 25 provinsi. Durasi HTH terpanjang saat ini tercatat terjadi di Bantul, dengan 131 hari tanpa hujan atau lebih dari empat bulan.

Selain titik yang mengalami HTH ekstrem, BMKG juga mencatat 384 titik dengan periode tanpa hujan selama 21 hingga 30 hari. Sementara itu, sebanyak 872 titik lainnya mengalami HTH selama 31 hingga 60 hari.

El Nino Memicu Kemarau di Wilayah Bertipe Hujan Sepanjang Tahun

Dampak El Nino 2026 tidak hanya terlihat dari panjangnya periode tanpa hujan. Fenomena tersebut juga memicu munculnya periode kemarau di sejumlah zona musim yang secara klimatologis memiliki tipe hujan sepanjang tahun.

Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengatakan kondisi ini terjadi karena anomali curah hujan yang lebih rendah akibat pengaruh El Nino. Dengan demikian, beberapa wilayah yang biasanya tidak mengalami musim kemarau tetap mencatat periode kering.

Menurut data BMKG, terdapat 113 ZOM atau 33,68 persen wilayah Indonesia yang termasuk dalam kategori bertipe satu musim. Dari jumlah tersebut, tiga ZOM mengalami musim kemarau sepanjang tahun, sedangkan 110 ZOM mengalami musim hujan sepanjang tahun.

Hasil pemantauan iklim hingga awal September menunjukkan bahwa 98 ZOM yang bertipe hujan sepanjang tahun mengalami periode kemarau. Sementara itu, 12 ZOM lainnya masih berada dalam kondisi klimatologisnya dan belum mengalami periode kemarau.

El Nino Sangat Kuat dan IOD Positif Memperparah Kekeringan

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi El Nino 2026 tercermin dari anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4, Samudra Pasifik. Pada akhir Agustus, anomali suhu muka laut di wilayah tersebut tercatat sebesar +2,83.

Selain itu, nilai indeks ENSO untuk periode Juli, Agustus, dan September atau JAS berada di angka +2,63. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa El Nino yang berlangsung berada dalam kategori sangat kuat.

Di Samudra Hindia, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada Agustus tercatat sebesar +0,376. BMKG menyebut indeks tersebut berpeluang bergerak menuju fase positif hingga akhir tahun.

Faisal menerangkan bahwa El Nino dan IOD yang berlangsung secara bersamaan dapat memperparah serta memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kombinasi kedua fenomena tersebut juga berpengaruh terhadap waktu kedatangan musim hujan.

Musim Hujan Berpotensi Datang Lebih Lambat

Menurut BMKG, dampak lanjutan dari kombinasi El Nino dan IOD adalah musim hujan yang datang lebih terlambat dan berlangsung lebih singkat. Kondisi tersebut menjadi gambaran perkembangan cuaca yang perlu diperhatikan seiring pemantauan iklim terus dilakukan.

Dengan jumlah titik yang mengalami HTH lebih dari 60 hari mencapai 1.637 lokasi, kekeringan menjadi salah satu dampak utama El Nino 2026 di Indonesia. Pemantauan terhadap perkembangan musim, kondisi zona musim, serta perubahan indeks El Nino dan IOD akan menjadi dasar untuk melihat perkembangan situasi cuaca berikutnya.

Kesimpulan

BMKG mencatat El Nino 2026 menyebabkan 1.637 titik di 25 provinsi mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari. Bantul menjadi wilayah dengan HTH terpanjang, yakni 131 hari. Fenomena El Nino juga membuat sejumlah wilayah bertipe hujan sepanjang tahun mengalami periode kemarau.

Dengan indikasi El Nino yang sangat kuat dan peluang IOD berada dalam fase positif hingga akhir tahun, BMKG menyebut kekeringan dapat berlangsung lebih panjang. Musim hujan diperkirakan datang terlambat dan memiliki durasi yang lebih singkat dibandingkan kondisi normalnya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment