Gempa M4,3 Guncang Cianjur, Dipicu Aktivitas Sesar Cisokan Bagian dari Sesar Cimandiri

Cianjur diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,3 pada Selasa, 1 September 2026. Gempa yang terjadi pada pukul 17.53.11 WIB tersebut dirasakan di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dan daerah sekitarnya. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyebut gempa itu dipicu oleh aktivitas ujung barat Segmen Sesar Cisokan.

Sesar Cisokan diketahui merupakan bagian dari sistem Sesar Cimandiri, salah satu sesar aktif di Jawa Barat. Aktivitas sesar tersebut menjadi perhatian karena membentang di wilayah yang cukup panjang dan memiliki sejarah kegempaan. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa Sesar Cimandiri memiliki karakteristik geologi yang kompleks serta terbagi ke dalam beberapa segmen.

Gempa Cianjur Dipicu Ujung Barat Sesar Cisokan

Daryono menjelaskan bahwa gempa M4,3 yang mengguncang Cianjur dan sekitarnya berkaitan dengan pergerakan di ujung barat Segmen Sesar Cisokan. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa, 1 September 2026, setelah gempa terjadi.

“Gempa magnitudo M 4,3 yang mengguncang wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dan sekitarnya pada Selasa, 1 September 2026 pukul 17.53.11 WIB dipicu ujung barat Segmen Sesar Cisokan,” kata Daryono.

Menurut penjelasannya, Sesar Cisokan sebelumnya dikenal dengan nama Segmen Rajamandala. Segmen tersebut merupakan bagian dari Sesar Cimandiri yang membentang melintasi sejumlah wilayah di Jawa Barat.

Sesar Cimandiri Merupakan Sistem Sesar Aktif

Perekayasa Ahli Utama dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Putri Natari Ratna, menyebut Sesar Cimandiri sebagai sebuah sistem sesar aktif. Keberadaan sistem sesar tersebut berpotensi memengaruhi kondisi kegempaan di wilayah Jawa Barat.

Dalam penelitian berjudul Geological and geomorphological insights into the Cimandiri Fault system: Fieldwork and preliminary findings in West Java, Indonesia, Putri menjelaskan bahwa Sesar Cimandiri merupakan salah satu sesar aktif yang memiliki bentangan sekitar 100 kilometer.

Jalur sesar itu membentang mulai dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang. Meski penelitian mengenai Sesar Cimandiri telah banyak dilakukan, hasil yang ada dinilai belum sepenuhnya memberikan kesimpulan menyeluruh mengenai karakteristik dan pergerakannya.

Karena itu, BRIN melakukan penelitian yang lebih komprehensif untuk memahami sistem Sesar Cimandiri. Kajian tersebut mencakup karakteristik geologi dan geomorfologi yang berkaitan dengan keberadaan serta aktivitas sesar.

Sejarah dan Karakteristik Sesar Cimandiri

Terbentuk sejak masa geologi lama

Berdasarkan penelitian Teknik Geologi Universitas Padjadjaran pada 2017, Sesar Cimandiri termasuk sesar tua. Sesar tersebut terbentuk ketika berlangsung orogenesa tahap II, yakni pada Akhir Eosen Tengah.

Iyan Haryanto, salah satu penulis jurnal penelitian tersebut, menjelaskan bahwa Sesar Cimandiri terus mengalami aktivitas. Pergerakan itu turut menyebabkan terbentuknya tinggian purba atau paleo high yang berada di antara Lembah Ciletuh dan Lembah Cimandiri.

Memiliki dua karakter sesar regional

Sesar Cimandiri terdiri atas dua sesar regional dengan karakter yang berbeda. Karakter pertama berupa sesar naik yang ditandai oleh deformasi lipatan batuan. Lipatan tersebut umumnya memiliki posisi tegak.

Karakter kedua berupa sesar normal. Ciri sesar ini dapat dilihat dari terbentuknya gawir sesar dengan kemiringan lebih dari 50 derajat. Di sejumlah lokasi, kemiringan gawir bahkan dilaporkan mendekati posisi vertikal.

Selain itu, penelitian yang ditulis Muhammad Adis S W dalam jurnal Universitas Gadjah Mada pada 2018 menyebut Sesar Cimandiri sebagai sesar aktif dengan orientasi timur laut–barat daya.

Sejumlah Gempa Pernah Dikaitkan dengan Sesar Cimandiri

Aktivitas Sesar Cimandiri dalam catatan penelitian juga dikaitkan dengan sejumlah kejadian gempa bumi. Beberapa di antaranya adalah Gempa Pelabuhan Ratu pada 1900, Gempa Padalarang pada 1910, dan Gempa Conggeang pada 1948.

Selain itu, terdapat Gempa Tanjungsari pada 1972, Gempa Cibadak pada 1973, Gempa Gandasoli pada 1982, serta Gempa Sukabumi pada 2001. Rangkaian catatan tersebut menunjukkan bahwa sistem Sesar Cimandiri memiliki peran dalam sejarah kegempaan di Jawa Barat.

Segmen-Segmen Sesar Cimandiri

Muhammad menjelaskan bahwa Sesar Cimandiri tersusun atas sejumlah segmen. Segmen tersebut meliputi Sesar Cimandiri Pelabuhan Ratu–Citarik, Citarik–Cadasmalang, Ciceureum–Cirampo, Cirampo–Pangleseran, serta Pangleseran–Cibeber.

Selain itu, terdapat beberapa segmen yang membentang dari Cibeber hingga Padalarang dan segmen Padalarang–Tangkuban Perahu. Keberadaan segmen-segmen tersebut menjadi bagian penting dalam kajian mengenai struktur dan aktivitas Sesar Cimandiri.

Secara geomorfologi, jalur sesar dapat diamati melalui lembah sungai yang memiliki arah hampir timur–barat. Jalur tersebut kemudian membelok ke arah timur laut mulai dari Cibeber ke arah timur.

Kesimpulan

Gempa M4,3 yang mengguncang Cianjur pada 1 September 2026 disebut dipicu oleh aktivitas ujung barat Segmen Sesar Cisokan. Segmen tersebut merupakan bagian dari Sesar Cimandiri, sistem sesar aktif di Jawa Barat yang membentang sekitar 100 kilometer dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Sesar Cimandiri memiliki sejarah geologi panjang, terbagi ke dalam sejumlah segmen, dan pernah dikaitkan dengan beberapa kejadian gempa di Jawa Barat. Penelitian lanjutan yang lebih komprehensif diharapkan dapat memperjelas karakteristik serta pola pergerakan sesar tersebut pada masa mendatang.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment