Karhutla Gunung Lakawan Enrekang Meluas hingga 500 Hektare, Pemadaman Terkendala Medan Terjal
ENREKANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Gunung Lakawan, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, berdampak cukup luas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Enrekang mencatat area yang terbakar mencapai kurang lebih 500 hektare.
Kebakaran tersebut mulai terjadi pada Senin malam, 31 Agustus. Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, dan Polri telah dikerahkan untuk menangani kobaran api. Namun, hingga Rabu, 2 September, api masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan karena titik kebakaran berada di kawasan dengan medan yang terjal dan sulit dijangkau.
Lahan Terbakar Capai 500 Hektare
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Enrekang, Amiruddin, mengatakan luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 500 hektare. Kebakaran tidak hanya melanda kawasan hutan dan lahan di Gunung Lakawan, tetapi juga telah menjalar ke kebun bawang merah milik warga.
“Iya, luas lahan terbakar kurang lebih mencapai 500 hektare,” kata Amiruddin pada Rabu (2/9).
Perluasan area terdampak menjadi perhatian karena api bergerak di wilayah yang memiliki kontur sulit. Kondisi tersebut membuat petugas tidak dapat secara leluasa mendekati titik api untuk melakukan pemadaman secara langsung.
Medan Terjal Hambat Proses Pemadaman
Amiruddin menjelaskan, proses pemadaman menghadapi berbagai kendala di lapangan. Lokasi kebakaran berada di medan terjal sehingga sejumlah titik tidak dapat dijangkau petugas. Selain itu, batu-batu dari bagian atas tebing dilaporkan ikut turun dan berpotensi membahayakan keselamatan personel yang bertugas.
Situasi tersebut membuat upaya pemadaman harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Petugas gabungan bersama warga setempat masih menggunakan cara manual untuk mengendalikan kobaran api di Gunung Lakawan.
Titik Api Masih Dipantau
Kepala BPBD Enrekang Syamsul Bahri mengatakan pihaknya masih memantau sejumlah titik api yang tetap membara, terutama di sekitar kawasan tebing. Penanganan kebakaran semakin sulit karena akses jalan menuju lokasi mengalami putus, sementara armada pemadam kebakaran juga kesulitan menembus area tersebut.
Menurut Syamsul, tingginya tebing dan kondisi medan yang terjal menjadi penghalang utama bagi petugas untuk memadamkan api dari jarak dekat. Ancaman lain juga muncul dari bebatuan panas yang dapat jatuh sewaktu-waktu dan membahayakan petugas maupun warga di sekitar lokasi.
“Akses jalan yang berat. Kemudian tebing tinggi dan terjal menjadi penghalang memadamkan api dengan jarak dekat. Bebatuan panas yang jatuh juga menjadi ancaman membahayakan bagi petugas dan warga,” jelas Syamsul.
Enrekang Catat 24 Kasus Karhutla
Karhutla di Gunung Lakawan menambah daftar kejadian kebakaran hutan yang terjadi di Kabupaten Enrekang. BPBD Enrekang mencatat sebanyak 24 kasus karhutla sepanjang 2026 hingga saat ini.
Syamsul mengatakan, kebakaran di Gunung Lakawan termasuk dalam catatan tersebut. Data itu menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian, khususnya ketika kondisi lahan mengalami kekeringan.
Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki
BPBD Enrekang belum dapat memastikan penyebab kebakaran di Gunung Lakawan. Syamsul menyebut kebakaran bisa saja dipengaruhi oleh kondisi kekeringan pada musim kemarau atau dampak El Nino. Namun, ia juga membuka kemungkinan adanya faktor lain, seperti aktivitas warga membersihkan lahan atau puntung rokok yang dibuang sembarangan.
“Kebakaran tentu ada sebab, karena tidak serta-merta dampaknya musim kemarau. Tapi, tentu tidak lepas dari pengaruh El Nino, semua lahan kekeringan atau penyebab lainnya, mungkin ada orang bersih-bersih maupun ada warga yang buang puntung rokok,” ungkapnya.
Pemadaman Masih Berlangsung
Hingga berita ini ditulis, upaya pemadaman di Gunung Lakawan masih berlangsung. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, dan Polri terus berupaya menangani titik api bersama warga setempat dengan metode manual.
Dengan kondisi medan yang sulit, akses jalan yang terputus, serta ancaman bebatuan panas dari tebing, proses pemadaman membutuhkan kewaspadaan tinggi. Pemantauan terhadap titik api juga terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas ke area lain, termasuk lahan milik warga.
Kesimpulan
Karhutla di Gunung Lakawan, Enrekang, telah membakar sekitar 500 hektare lahan dan menjalar hingga ke kebun bawang merah warga. Upaya pemadaman masih menghadapi kendala serius karena lokasi berada di medan terjal, akses jalan terputus, dan terdapat risiko bebatuan panas yang jatuh dari tebing.
BPBD Enrekang masih memantau titik api yang belum padam, sementara penyebab kebakaran belum dapat dipastikan. Pemadaman manual oleh petugas gabungan dan warga masih terus dilakukan hingga seluruh titik api berhasil dikendalikan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment