Resolusi “Correct the Map” PBB Dorong Dunia Beralih dari Peta Mercator ke Equal Earth

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui resolusi yang mendorong penggunaan peta dunia dengan gambaran ukuran benua yang lebih akurat. Resolusi yang diusulkan negara-negara Afrika melalui Uni Afrika tersebut dikenal dengan nama “The Correct Map” atau “Correct the Map”.

Keputusan ini menjadi sorotan karena menantang penggunaan Peta Mercator yang telah mendominasi peta dunia selama lebih dari 450 tahun. Proyeksi tersebut dinilai membuat Afrika tampak jauh lebih kecil dibandingkan ukuran sebenarnya, sementara wilayah yang berada lebih dekat dengan kutub terlihat lebih besar.

Resolusi PBB Soroti Ketidakakuratan Peta Mercator

Dalam pemungutan suara pada Jumat (4/9), mayoritas anggota Majelis Umum PBB mendukung resolusi yang diajukan negara-negara Afrika. Melalui resolusi ini, pemerintah, sekolah, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi didorong untuk mempertimbangkan penggunaan peta yang dapat menampilkan perbandingan luas benua secara lebih proporsional.

Resolusi tersebut tidak secara resmi melarang penggunaan Peta Mercator maupun memaksakan satu jenis peta sebagai pengganti. Namun, PBB mendorong penggunaan proyeksi peta yang dinilai lebih mendekati ukuran sebenarnya, salah satunya Equal Earth.

Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, yang menjadi salah satu tokoh utama di balik inisiatif tersebut, menilai peta memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memahami dunia.

“Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil,” kata Dussey dalam wawancara dengan Reuters menjelang pemungutan suara di markas PBB, New York.

Mengapa Peta Mercator Dinilai Mendistorsi Ukuran Benua?

Proyeksi untuk Navigasi Maritim

Peta Mercator dikembangkan oleh kartografer Gerardus Mercator pada 1569. Berdasarkan penjelasan Universitas Harvard, proyeksi ini merupakan proyeksi silindris yang dirancang untuk membantu navigasi maritim.

Salah satu ciri utama Peta Mercator adalah garis lintang dan garis bujur digambarkan sebagai garis lurus yang saling berpotongan secara tegak lurus. Selain itu, sudut arah kompas di permukaan bumi dapat direpresentasikan secara akurat pada peta.

Keunggulan tersebut membuat Peta Mercator sangat berguna untuk kebutuhan navigasi. Namun, proyeksi ini memiliki kelemahan karena mendistorsi ukuran relatif daratan. Wilayah yang terletak semakin jauh dari garis khatulistiwa akan tampak lebih besar daripada ukuran sebenarnya.

Afrika dan Greenland sebagai Contoh

Salah satu contoh yang sering digunakan untuk menjelaskan distorsi Peta Mercator adalah perbandingan antara Afrika dan Greenland. Dalam peta tersebut, Greenland tampak hampir sama besar dengan Afrika. Padahal, luas Afrika disebut sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland.

Harvard menjelaskan bahwa daratan yang berada di dekat khatulistiwa cenderung ditampilkan sesuai skala. Sebaliknya, wilayah di garis lintang tinggi mengalami pembesaran visual.

Ilustrasi mengenai cara kerja proyeksi ini dapat dibayangkan melalui sebuah bola kaca yang menggambarkan bumi. Jika garis luar benua diproyeksikan ke layar silinder yang mengelilingi bola, wilayah dekat khatulistiwa akan terlihat lebih mendekati ukuran aslinya. Sementara itu, daratan yang berada di lintang tinggi akan tampak semakin besar.

Equal Earth Dinilai Lebih Mewakili Luas Benua

Dalam resolusi yang didukung mayoritas anggota Majelis Umum PBB, Equal Earth disebut sebagai salah satu alternatif yang lebih akurat dalam menggambarkan ukuran benua. Proyeksi ini diluncurkan oleh sekelompok kartografer pada 2018.

Berbeda dari Peta Mercator, Equal Earth berupaya mempertahankan perbandingan luas permukaan benua. Melalui proyeksi ini, Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Oseania tampak lebih besar dibandingkan tampilannya dalam Peta Mercator.

Kartografer Bojan Savric mengatakan Equal Earth mempertahankan luas relatif permukaan benua dan berusaha menampilkan bentuk daratan sedekat mungkin dengan tampilan pada bola dunia.

Togo menyatakan akan mendorong penggantian Peta Mercator dalam pembelajaran di sekolah setidaknya mulai akhir tahun ini. Negara tersebut juga mengajak pemerintah, sekolah, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi di berbagai negara untuk mempertimbangkan peralihan ke Equal Earth.

Perdebatan tentang Warisan Kolonial

Para pengkritik Peta Mercator menilai penggunaannya yang luas tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis. Mereka berpendapat, peta tersebut secara visual menonjolkan negara-negara Barat dan dapat memperkuat persepsi mengenai superioritas Eropa.

Dussey mengaitkan kampanye Correct the Map dengan upaya Afrika untuk menghapus warisan kolonial yang lebih luas. Meski demikian, ia menegaskan bahwa inisiatif tersebut bukan serangan terhadap Eropa maupun peradaban lain.

Menurutnya, sejarah mencatat bahwa dominasi Peta Mercator di dunia turut berkaitan dengan sejarah kolonisasi. Ia juga menekankan bahwa perubahan yang terjadi di Afrika perlu diikuti dengan perubahan cara dunia melihat benua tersebut.

Sikap Negara-Negara dalam Pemungutan Suara

Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menentang resolusi tersebut. Perwakilan AS menyebut inisiatif itu sebagai “proyek ideologis yang radikal” dan menilai isu tersebut terlalu politis.

Perwakilan AS juga menyatakan bahwa inisiatif semacam itu dapat mengganggu pekerjaan PBB serta berkontribusi terhadap menurunnya kredibilitas lembaga tersebut. Sementara itu, enam negara memilih abstain, yakni Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina.

Prancis mengambil sikap berbeda dengan menyatakan dukungan terhadap resolusi tersebut. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot bahkan menyampaikan rencana Paris untuk meninggalkan Peta Mercator dan beralih ke Equal Earth.

Barrot mengakui bahwa perubahan peta tidak akan mengubah kondisi dunia. Namun, ia menilai koreksi terhadap gambaran yang terdistorsi merupakan bagian dari upaya menyampaikan kebenaran.

Kesimpulan

Resolusi Correct the Map menandai meningkatnya perhatian dunia terhadap cara peta memengaruhi pendidikan, persepsi publik, dan pemahaman mengenai posisi tiap benua. Meskipun tidak melarang Peta Mercator, resolusi ini mendorong penggunaan proyeksi seperti Equal Earth yang dinilai lebih akurat dalam membandingkan luas daratan.

Ke depan, penerapan resolusi tersebut akan bergantung pada keputusan masing-masing pemerintah, sekolah, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi. Bagi Afrika, kampanye ini bukan sekadar pergantian desain peta, melainkan bagian dari upaya memperbaiki representasi benua sekaligus meninjau kembali warisan kolonial dalam cara dunia memandang geografi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment