Waspadai Gejala ISPA Akibat Kabut Asap Kebakaran Hutan di Kalimantan

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan dilaporkan semakin parah. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat, khususnya saluran pernapasan. Asap bahkan disebut telah mencapai negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.

Paparan kabut asap dalam waktu tertentu dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk keluhan kesehatan yang sudah ada. Salah satu gangguan yang perlu diwaspadai adalah infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Risiko ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Mengenal ISPA dan Dampak Kabut Asap

ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering mendorong masyarakat untuk berobat ke fasilitas kesehatan. Kondisi ini dapat dialami siapa saja, tetapi anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang lebih rentan karena sistem pertahanan tubuh mereka relatif lebih lemah.

Infeksi saluran pernapasan dapat terjadi pada bagian atas, seperti hidung, sinus, tenggorokan, hingga pita suara. Selain itu, infeksi juga dapat menyerang saluran pernapasan bagian bawah yang melibatkan bronkus dan paru-paru.

Secara umum, ISPA dibedakan menjadi dua kelompok, yakni pneumonia atau radang paru-paru dan ISPA bukan pneumonia. ISPA bukan pneumonia umumnya menimbulkan keluhan seperti batuk dan pilek. Sejumlah penyebab ISPA antara lain virus influenza, Rotavirus, bakteri Streptococcus pneumoniae, serta bakteri Staphylococcus aureus.

Meski kabut asap bukan satu-satunya penyebab ISPA, paparan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan. Asap juga berpotensi memperburuk keluhan pernapasan yang telah dialami seseorang. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah dengan kualitas udara yang memburuk perlu meningkatkan kewaspadaan.

Gejala ISPA Akibat Kabut Asap

Gejala ISPA akibat kabut asap dapat menyerupai gangguan pernapasan lainnya. Beberapa keluhan yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Bersin, hidung tersumbat, dan pilek yang umum ditemukan pada infeksi saluran pernapasan bagian atas.
  • Batuk dan nyeri tenggorokan akibat peradangan atau iritasi saluran pernapasan.
  • Suara serak, terutama ketika peradangan mengenai laring atau kotak suara.
  • Nyeri dada dan batuk yang dapat muncul pada gangguan saluran pernapasan seperti bronkitis.
  • Demam, terutama apabila keluhan disebabkan oleh infeksi.
  • Sesak atau kesulitan bernapas yang dapat menjadi tanda gangguan pernapasan lebih serius.
  • Nyeri otot atau myalgia.
  • Penurunan berat badan pada kondisi yang berlangsung lebih lama.

Gejala yang Perlu Diwaspadai pada Pneumonia

Pada kondisi pneumonia, gejala dapat berupa batuk, demam, sesak napas, hingga napas yang menjadi lebih cepat. Keluhan yang semakin berat sebaiknya tidak ditangani sendiri terlalu lama karena dapat menunjukkan gangguan pernapasan yang lebih serius.

Cara Mengurangi Paparan Kabut Asap

Saat kabut asap semakin pekat, langkah utama yang perlu dilakukan adalah mengurangi paparan. Masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara sedang buruk.

Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang mampu menyaring partikel udara dengan baik. Masker juga perlu dipasang secara rapat agar udara dari luar tidak mudah masuk melalui celah. Selain itu, pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup ketika kondisi udara di luar sedang buruk.

Apabila tersedia, alat penyaring udara di dalam ruangan dapat digunakan untuk membantu mengurangi paparan partikel. Masyarakat juga dianjurkan mencukupi kebutuhan cairan dan beristirahat. Minuman hangat dapat membantu memberikan rasa nyaman pada tenggorokan, tetapi bukan merupakan pengobatan utama untuk infeksi.

Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?

Masyarakat yang tinggal di daerah terdampak kabut asap perlu segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala yang semakin berat. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Demam yang tidak kunjung membaik.
  • Menggigil.
  • Batuk yang semakin berat.
  • Sesak atau kesulitan bernapas.
  • Napas berbunyi seperti “ngik”.
  • Anak menjadi sangat lemas, lebih banyak diam, atau malas beraktivitas.
  • Muntah berulang.
  • Penurunan kesadaran.

Pada anak, orang tua sebaiknya tidak menunggu kondisi memburuk apabila sudah terlihat kesulitan bernapas atau perubahan perilaku yang tidak biasa. Penanganan perlu segera dicari ketika keluhan menunjukkan tanda-tanda memburuk.

Kesimpulan

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk keluhan yang sudah ada. Masyarakat di wilayah Kalimantan yang terdampak perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang mampu menyaring partikel, serta menjaga kondisi tubuh dengan cukup beristirahat dan memenuhi kebutuhan cairan.

Gejala seperti batuk, demam, nyeri tenggorokan, suara serak, sesak napas, hingga napas berbunyi perlu diperhatikan. Jika keluhan semakin berat, terutama pada anak-anak dan lansia, pertolongan medis sebaiknya segera dicari. Selama kabut asap masih mengganggu kualitas udara, kewaspadaan masyarakat terhadap gejala ISPA menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan pernapasan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment