Dukungan Gianni Infantino untuk Pemilihan Presiden FIFA Mulai Goyah

Dukungan terhadap Gianni Infantino dalam kontestasi pemilihan presiden FIFA mulai mengalami tekanan. Situasi tersebut mencuat setelah muncul persoalan terkait rencana penjualan saham Piala Dunia dan sejumlah turnamen lainnya. Perkembangan ini semakin menjadi perhatian setelah Chief Operating Officer FIFA, Kevin Lamour, berpisah dengan badan sepak bola dunia menyusul kritik yang disampaikannya terhadap program Infantino dan kolega.

Kepergian Lamour kemudian memengaruhi sikap sejumlah tokoh penting di internal FIFA. Salah satu perubahan sikap tersebut datang dari Sandor Csanyi, wakil presiden FIFA sekaligus anggota Dewan FIFA. Csanyi menyampaikan kritik terbuka kepada Infantino dan menilai keputusan terhadap Lamour menimbulkan pertanyaan serius mengenai profesionalisme, etika, serta transparansi dalam organisasi.

Kepergian Kevin Lamour Guncang Internal FIFA

Kevin Lamour sebelumnya dikenal sebagai salah satu pejabat yang memiliki peran penting dalam operasional FIFA. Namun, hubungannya dengan organisasi tersebut berakhir setelah ia menyampaikan kritik terhadap rencana penjualan saham Piala Dunia dan turnamen lainnya yang dikembangkan Infantino bersama koleganya.

Situasi itu menjadi semakin rumit setelah Lamour meninggalkan FIFA. Dalam pernyataannya kepada Infantino, seperti dilaporkan Reuters, Sandor Csanyi menyebut puncak persoalan tersebut adalah pemecatan Lamour yang berlangsung secara tidak terduga.

“Puncaknya adalah pemecatan tak terduga terhadap Kevin Lamour,” tulis Csanyi dalam pernyataannya kepada Infantino.

Menurut Csanyi, Lamour merupakan sosok yang dapat dipercaya dan diandalkan dalam menjalankan tugasnya. Karena itu, keputusan yang berujung pada kepergian Lamour dianggap sebagai tanda bahwa posisi Infantino mulai menghadapi guncangan di lingkungan internal FIFA.

Kritik terhadap Profesionalisme dan Standar Etik

Csanyi menilai Lamour telah menjalankan tanggung jawabnya dengan profesionalisme tinggi. Ia juga menyoroti standar etik yang dimiliki Lamour sebagai pejabat yang kompeten serta kontribusinya terhadap operasional FIFA yang transparan.

“Kevin sudah menjalankan tugas dengan profesionalisme tinggi dan standar etik sebagai pejabat kompeten, serta berkontribusi signifikan terhadap operasional transparan dalam organisasi,” ujar Csanyi.

Ia juga menilai bahwa keputusan terhadap Lamour berkaitan dengan kritik atau inisiatif yang dianggap sebagai kesalahpahaman. Menurut Csanyi, persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi masalah yang lebih serius karena menyentuh penilaian profesional, standar etik, dan kepemimpinan di tubuh FIFA.

“Fakta bahwa pemecatannya dipicu oleh kritik atau yang disebut sebagai inisiatif yang bisa kita lihat sebagai kesalahpahaman mengarah pada konsekuensi serius pada penilaian profesional, standar etik, dan kepemimpinan,” tegas Csanyi.

Dejan Savicevic Soroti Komunikasi dan Transparansi FIFA

Kritik terhadap arah kepemimpinan Infantino juga disampaikan oleh Dejan Savicevic. Ia merupakan Presiden Federasi Sepak Bola Montenegro sekaligus anggota Dewan FIFA sejak 2017. Savicevic, yang juga dikenal sebagai legenda sepak bola Montenegro, menyatakan kekhawatirannya terhadap rencana pengembangan program FIFA.

Menurut Savicevic, persoalan yang dihadapi FIFA tidak hanya berkaitan dengan rencana program, tetapi juga pola komunikasi dan transparansi organisasi. Ia menilai masalah tersebut dapat berdampak pada asosiasi anggota, pihak internal, Dewan FIFA, serta struktur yang seharusnya menjadi fondasi utama FIFA.

“Rencana pengembangan program FIFA benar-benar mengkhawatirkan dan menunjukkan parahnya pola komunikasi dan transparansi, tidak hanya untuk asosiasi anggota, tetapi juga pihak internal, Dewan FIFA, dan struktur yang seharusnya menjadi fondasi FIFA,” tulis Savicevic.

Pernyataan dari Csanyi dan Savicevic menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara sejumlah petinggi FIFA terhadap kebijakan serta pola kepemimpinan Infantino. Kritik tersebut muncul pada saat dukungan terhadap Infantino dalam persaingan menuju kursi presiden FIFA disebut semakin berkurang.

PSSI Tetap Dukung Gianni Infantino

Meski menghadapi kritik dari sejumlah tokoh di internal FIFA, Infantino masih memperoleh dukungan dari beberapa pihak. Indonesia melalui PSSI menjadi salah satu pihak yang menyatakan tetap berada di belakangnya.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan sikap Indonesia untuk tetap satu komando dengan Gianni Infantino. PSSI mendukung Infantino agar kembali menjabat sebagai presiden FIFA dalam pemilihan mendatang.

Sikap tersebut memperlihatkan bahwa perubahan dukungan terhadap Infantino belum sepenuhnya terjadi di seluruh anggota FIFA. Di tengah munculnya kritik terkait penjualan saham Piala Dunia serta kepergian Kevin Lamour, masih terdapat pihak yang memilih mempertahankan dukungan terhadap kepemimpinan Infantino.

Pemilihan Presiden FIFA Digelar pada 2027

Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan berlangsung dalam Kongres FIFA di Rabat, Maroko, pada 17 Maret 2027. Gianni Infantino masih menjadi salah satu nama kuat yang disebut dalam persaingan tersebut.

Selain Infantino, sejumlah nama lain juga disebut sebagai kandidat kuat, yakni Victor Montagliani, Aleksander Ceferin, dan Lise Klaveness. Persaingan menuju pemilihan tersebut diperkirakan akan menjadi perhatian, terutama setelah munculnya kritik terbuka dari beberapa pejabat FIFA.

Kesimpulan

Dukungan terhadap Gianni Infantino dalam pemilihan presiden FIFA mulai menghadapi tantangan setelah kontroversi terkait rencana penjualan saham Piala Dunia dan turnamen lainnya. Kepergian Kevin Lamour, kritik Sandor Csanyi, serta kekhawatiran Dejan Savicevic mengenai komunikasi dan transparansi FIFA menjadi tanda adanya tekanan di internal organisasi.

Namun, dukungan terhadap Infantino belum sepenuhnya hilang. PSSI melalui Erick Thohir masih menyatakan komitmen untuk berada satu komando dengan Infantino. Dengan pemilihan yang baru akan berlangsung pada 17 Maret 2027, perkembangan sikap para anggota dan pejabat FIFA akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah persaingan menuju kursi presiden FIFA.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment