Harga Minyak Bergerak Tipis, Investor Pantau Konflik AS-Iran dan Selat Hormuz
Harga minyak bergerak terbatas pada perdagangan awal Kamis (20/8). Pergerakan tersebut dipengaruhi perhatian investor terhadap perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta kondisi keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Kedua faktor itu dinilai penting karena dapat memengaruhi kelancaran pasokan energi global.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent berjangka untuk kontrak pengiriman Oktober naik 25 sen atau 0,3 persen menjadi US$91,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak September turun tipis 2 sen menjadi US$85,81 per barel.
Adapun kontrak WTI Oktober yang lebih aktif diperdagangkan menguat 14 sen atau 0,2 persen menjadi US$84,53 per barel. Pergerakan harga tersebut menunjukkan pasar masih berada dalam kondisi hati-hati, dengan investor menimbang risiko geopolitik dan perkembangan pasokan minyak dari Amerika Serikat.
Harga Brent dan WTI Menguat Empat Sesi Beruntun
Pada perdagangan Rabu (19/8), harga Brent dan WTI sama-sama mencatat kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut. Kedua acuan harga minyak tersebut juga ditutup pada level tertinggi sejak 24 Juli.
Namun, penguatan harga minyak masih berlangsung secara terbatas. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah berakhirnya kontrak WTI September pada Kamis (20/8). Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati pergerakan kontrak WTI Oktober yang memiliki aktivitas perdagangan lebih tinggi.
Chief Strategist Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, mengatakan harga minyak masih bertahan pada level tinggi karena pasar mendapat dukungan dari serangan sporadis di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, harga belum memiliki momentum baru untuk menguat lebih besar jika tidak terjadi eskalasi konflik yang signifikan.
Ketegangan Timur Tengah Menjadi Perhatian Investor
Menurut Kikukawa, harga minyak masih berpeluang melanjutkan tren kenaikan secara bertahap. Prospek tersebut dipengaruhi ketidakpastian pembicaraan damai serta meningkatnya ketegangan yang melibatkan Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Iran.
Keputusan UEA untuk menangguhkan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga waktu yang belum ditentukan turut menyoroti memburuknya hubungan antara kedua negara. UEA merupakan salah satu negara produsen minyak utama di kawasan Teluk, sementara Iran juga memiliki peran penting dalam pasar energi regional.
Perkembangan hubungan antara negara-negara di kawasan tersebut menjadi perhatian karena perubahan situasi geopolitik dapat memengaruhi sentimen pelaku pasar. Investor pun terus memantau apakah ketegangan akan mereda atau justru berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Ketidakpastian Selat Hormuz Tekan Pasokan Energi
Lalu Lintas Kapal Melambat
Selain konflik AS-Iran, kondisi Selat Hormuz masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi harga minyak. Presiden AS Donald Trump pada Selasa (18/8) mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menyebut Selat Hormuz terbuka. Namun, Iran menyatakan jalur perairan tersebut masih ditutup.
Perbedaan pernyataan mengenai status Selat Hormuz menambah ketidakpastian bagi pelaku industri pelayaran dan energi. Data pelayaran pada Rabu (19/8) menunjukkan lalu lintas kapal melalui selat strategis tersebut melambat. Sebagian besar pemilik kapal memilih menghindari rute itu karena belum terdapat sinyal yang jelas mengenai pembukaan kembali jalur yang diblokade selama perang Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak global. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi menghambat distribusi pasokan energi. Apabila kondisi itu berlanjut, risiko kenaikan harga minyak dapat meningkat karena pasar akan memperhitungkan kemungkinan terjadinya gangguan pasokan.
Stok Minyak Mentah AS Meningkat
Dari Amerika Serikat, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah dan bensin meningkat pada pekan lalu. Pada saat yang sama, stok produk sulingan tercatat mengalami penurunan.
Persediaan minyak mentah AS bertambah 4,4 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus. Kenaikan tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan persediaan akan turun sekitar 600 ribu barel.
Peningkatan stok minyak mentah di AS menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan harga minyak. Bertambahnya persediaan menunjukkan adanya tekanan dari sisi pasokan, sehingga mampu menahan dampak positif sentimen geopolitik terhadap harga Brent dan WTI.
Kesimpulan
Harga minyak masih bergerak dalam tren menguat, tetapi kenaikannya terbatas. Brent mencatat penguatan pada awal perdagangan Kamis, sedangkan WTI kontrak September bergerak sedikit melemah dan kontrak Oktober naik tipis.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik AS-Iran, ketegangan antara negara-negara di kawasan Teluk, serta kejelasan kondisi pelayaran di Selat Hormuz. Di sisi lain, peningkatan persediaan minyak mentah AS dapat membatasi ruang penguatan harga. Dengan demikian, pasar minyak masih berpotensi bergerak fluktuatif sambil menunggu perkembangan geopolitik dan data pasokan berikutnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment