Bulan Menjauh dari Bumi 3,8 Cm per Tahun, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Bulan ternyata tidak selalu berada pada jarak yang sama dari Bumi. Dalam jangka panjang, satelit alami Bumi tersebut perlahan bergerak menjauh dengan laju rata-rata sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Fenomena ini merupakan bagian dari interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan yang berlangsung secara alamiah dalam rentang waktu sangat panjang.
Jarak rata-rata antara Bumi dan Bulan saat ini mencapai sekitar 384.000 kilometer. Meski perubahan jaraknya terus terjadi, pergerakan tersebut terlalu kecil untuk dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Para peneliti menjelaskan, proses ini berkaitan erat dengan gaya pasang surut, rotasi Bumi, serta perpindahan energi dan momentum sudut di antara keduanya.
Gravitasi Bumi dan Bulan Memengaruhi Rotasi
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa Bumi dan Bulan terus berinteraksi melalui gaya gravitasi. Interaksi tersebut memengaruhi rotasi Bumi sekaligus orbit Bulan.
Gravitasi Bumi menimbulkan efek pasang surut pada Bulan. Pengaruh ini secara perlahan memperlambat rotasi Bulan hingga akhirnya terkunci pada periode 27,3 hari, sama dengan waktu yang dibutuhkan Bulan untuk menyelesaikan satu kali revolusi mengelilingi Bumi.
Kondisi tersebut membuat sisi Bulan yang sama selalu menghadap Bumi. Proses penguncian ini berlangsung sangat lama dan merupakan salah satu dampak dari interaksi gravitasi yang terus terjadi antara kedua benda langit tersebut.
Gaya Pasang Surut Membuat Bulan Menjauh
Selain memengaruhi Bulan, gaya gravitasi Bulan juga menimbulkan pasang surut di Bumi. Tarikan gravitasi Bulan terhadap air laut menghasilkan tonjolan pasang surut di permukaan Bumi.
Ketika Bumi berputar lebih cepat dibandingkan pergerakan Bulan, putaran Bumi ikut menyeret tonjolan air pasang tersebut ke arah depan. Proses ini secara perlahan mengerem rotasi Bumi. Akibatnya, kecepatan rotasi Bumi terus berkurang dan panjang hari bertambah dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Thomas memperkirakan, dalam 200 juta tahun, rotasi Bumi dapat melambat sekitar satu jam. Dengan demikian, panjang satu hari di Bumi diperkirakan menjadi 25 jam.
Perlambatan rotasi Bumi juga berkaitan dengan perpindahan energi dan momentum sudut. Tarikan dari air pasang memberikan dorongan energi kepada Bulan. Transfer momentum sudut dari gaya pasang surut tersebut membuat orbit Bulan perlahan melebar sehingga jarak rata-rata Bulan dari Bumi bertambah sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun.
Orbit Bulan Berbentuk Elips
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa lintasan Bulan mengelilingi Bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna, melainkan elips. Karena itu, jarak Bulan terhadap Bumi selalu berubah dalam setiap periode revolusinya.
Mengenal Perigee dan Apogee
Titik ketika Bulan berada paling dekat dengan Bumi disebut perigee. Sementara itu, titik ketika Bulan berada pada jarak paling jauh disebut apogee. Perbedaan jarak tersebut merupakan bagian normal dari pergerakan Bulan dalam orbitnya.
Namun, perubahan jarak antara perigee dan apogee berbeda dengan kecenderungan jangka panjang yang menyebabkan jarak rata-rata Bumi dan Bulan terus bertambah. Pergerakan menjauh tersebut dipicu oleh interaksi gravitasi dan mekanisme pasang surut yang berlangsung secara perlahan.
Tidak Berdampak Langsung bagi Kehidupan Sehari-hari
Fenomena Bulan yang menjauh dari Bumi tidak perlu dikhawatirkan. Laju perubahan sekitar 3,8 sentimeter per tahun sangat kecil sehingga tidak menimbulkan dampak langsung yang dapat dirasakan manusia.
Bulan memang memiliki peran penting terhadap pasang surut air laut. Fenomena ini berpengaruh terhadap sejumlah aktivitas di wilayah pesisir, termasuk kegiatan nelayan. Akan tetapi, pasang surut bukanlah dampak baru yang muncul karena Bulan sedang menjauh dari Bumi.
Pasang surut merupakan proses alamiah yang telah berlangsung akibat interaksi gravitasi antara Bumi, Bulan, dan Matahari. Dampak perubahan jarak Bulan baru dapat terlihat melalui mekanisme lain dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Masa Depan Bumi dan Bulan
Meskipun terus menjauh, Bulan tidak akan lepas begitu saja dari gravitasi Bumi dalam waktu dekat. Dalam skenario yang sangat jauh di masa depan, rotasi Bumi diperkirakan terus melambat hingga akhirnya terkunci secara pasang surut dengan Bulan.
Jika kondisi tersebut terjadi, satu sisi Bumi akan selalu menghadap Bulan dan Bulan tidak lagi terus menjauh. Namun, skenario ini baru akan berlangsung setelah rentang waktu yang jauh lebih panjang dibandingkan usia peradaban manusia.
Sebelum kemungkinan tersebut tercapai, Bumi diperkirakan menghadapi perubahan kosmik yang lebih besar. Dalam sekitar satu miliar tahun, Matahari diprediksi semakin terang dan dapat membuat Bumi kehilangan air sehingga tidak lagi layak dihuni oleh kehidupan seperti sekarang.
Beberapa miliar tahun setelahnya, Matahari akan mengembang menjadi raksasa merah dan kemungkinan menghancurkan Bumi beserta Bulan.
Kesimpulan
Bulan menjauh dari Bumi dengan laju sekitar 3,8 sentimeter per tahun akibat interaksi gravitasi dan gaya pasang surut. Proses tersebut memperlambat rotasi Bumi, memperpanjang durasi hari, sekaligus memindahkan energi dan momentum sudut ke orbit Bulan.
Fenomena ini berlangsung sangat lambat dan tidak memberikan dampak langsung bagi manusia. Perubahan besar terhadap hubungan Bumi dan Bulan baru akan terjadi dalam skala waktu kosmik, jauh melampaui rentang kehidupan manusia. Pada akhirnya, perubahan Matahari diperkirakan menjadi faktor yang lebih menentukan bagi masa depan Bumi dan Bulan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment