Mohammed bin Salman Minta Dukungan Mesir Hadapi Eskalasi Serangan Houthi
Kairo — Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) meminta dukungan Mesir untuk menghadapi meningkatnya serangan kelompok Houthi Yaman terhadap pelayaran dan infrastruktur strategis Saudi. Eskalasi tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan di Laut Merah serta berpotensi mengganggu pasokan minyak global.
Permintaan itu disampaikan Mohammed bin Salman ketika bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo pada Selasa (15/9). Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin menegaskan komitmen untuk menjaga kebebasan dan keamanan navigasi maritim di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.
Kantor Presiden Sisi juga menyampaikan bahwa Mesir memiliki “posisi yang teguh dalam mendukung Arab Saudi”. Meski demikian, kedua negara belum menjelaskan secara rinci bentuk dukungan yang akan diberikan Kairo maupun langkah lanjutan untuk merespons serangan Houthi.
Houthi Perkuat Posisi di Sekitar Bab el-Mandeb
Arab Saudi saat ini menghadapi peningkatan serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Dalam sepekan terakhir, Houthi dilaporkan merebut lebih banyak wilayah di Yaman dan memperkuat posisi mereka di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Dalam beberapa hari terakhir, kelompok tersebut disebut menguasai Pelabuhan Mokha di Laut Merah serta tiga pulau strategis di dalam dan sekitar selat tersebut. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran yang menjadi salah satu akses penting menuju pasar minyak utama Arab Saudi di Asia.
Selat Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan samudra terbuka. Jika jalur ini terganggu atau ditutup, pengiriman minyak Saudi melalui Laut Merah dapat terdampak. Houthi sendiri telah menyerang pelayaran Saudi sejak akhir Juli.
Infrastruktur Minyak Saudi Terancam
Kerentanan sektor energi Arab Saudi semakin meningkat setelah serangan beberapa hari sebelumnya merusak jalur pipa minyak terbesar negara tersebut. Serangan itu dilaporkan dilakukan oleh Houthi.
Jalur Pipa Timur-Barat diperkirakan harus ditutup sebagian besar selama beberapa pekan untuk menjalani perbaikan. Menurut pejabat regional, kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan minyak ke pasar global hingga beberapa juta barel per hari.
Gangguan terhadap jalur pipa dan ancaman terhadap pelayaran turut mendorong kenaikan harga minyak global. Apabila ekspor melalui Laut Merah ikut terhambat, tekanan terhadap pasokan energi dunia dapat semakin besar.
Saudi Dihadapkan pada Pilihan Sulit
Di tengah meningkatnya serangan, Arab Saudi sejauh ini disebut masih enggan melancarkan operasi militer besar terhadap Houthi. Riyadh khawatir serangan berskala besar akan memicu aksi balasan terhadap infrastruktur minyaknya.
Selain itu, operasi militer besar juga berisiko kembali menyeret Arab Saudi lebih jauh ke dalam perang saudara di Yaman. Karena itu, Saudi menghadapi pilihan antara meningkatkan respons militer atau mencari penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Mesir kemungkinan tidak akan mengirim bantuan militer secara langsung kepada Saudi. Namun, Kairo memiliki pengaruh besar di dunia Arab sehingga dapat membantu menghimpun dukungan politik bagi kerajaan tersebut.
Selama tiga tahun terakhir, Mesir juga menjadi salah satu pusat upaya mediasi konflik di kawasan. Kairo mempertahankan hubungan dengan berbagai pihak, termasuk Iran dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan negara tersebut. Posisi ini dapat memberi ruang bagi Mesir untuk memainkan peran diplomatik.
Dampak terhadap Mesir dan Terusan Suez
Mesir turut terdampak langsung oleh serangan Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah. Serangan selama perang Gaza menyebabkan lalu lintas kapal melalui Terusan Suez menurun. Penurunan tersebut berdampak terhadap pendapatan Mesir dari salah satu jalur perdagangan terpenting di dunia.
Dalam situasi konflik, Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui Laut Merah. Sebagian pengiriman kemudian melewati Terusan Suez atau menggunakan jaringan pipa Mesir yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania.
Namun, penutupan Jalur Pipa Timur-Barat Saudi berpotensi mengurangi atau bahkan menghentikan pengiriman tersebut selama beberapa pekan. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan keamanan di sekitar Bab el-Mandeb tidak hanya berdampak pada Saudi, tetapi juga dapat memengaruhi kepentingan ekonomi Mesir.
Desakan Yaman kepada Dewan Keamanan PBB
Sementara itu, Duta Besar Yaman untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Abdullah Al-Saadi, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa pasukan pemerintah Yaman sedang berkumpul kembali dan berupaya merebut kendali wilayah.
Al-Saadi mendesak agar embargo senjata PBB terhadap Houthi diberlakukan. Ia juga meminta Dewan Keamanan mengutuk eskalasi konflik tersebut.
“Apakah komunitas internasional akan menerima jika salah satu gerbang terpenting dunia untuk perdagangan dan energi menjadi alat pemerasan di tangan kelompok teroris transnasional?” ujar Al-Saadi.
Batas Dukungan Mesir
Analis HA Hellyer menilai Mohammed bin Salman kemungkinan tidak mengharapkan Mesir mengirim pasukan untuk membantu menghadapi Houthi. Menurutnya, pengerahan pasukan dari Kairo akan menjadi permintaan yang sulit dipenuhi.
Di sisi lain, dukungan dari sekutu utama Saudi, Amerika Serikat, juga dinilai sulit diprediksi dalam menghadapi konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump disebut tampak enggan memperluas perang yang tidak populer menjelang pemilihan Kongres.
Uni Emirat Arab, yang sebelumnya menjadi bagian dari koalisi pimpinan Saudi melawan Houthi, juga telah menarik diri dari konflik. Langkah tersebut diambil setelah terjadi perselisihan antara sekutu UEA di Yaman dan Arab Saudi.
Kesimpulan
Permintaan Mohammed bin Salman kepada Mesir menunjukkan semakin seriusnya ancaman Houthi terhadap keamanan pelayaran dan infrastruktur energi Saudi. Selat Bab el-Mandeb menjadi titik penting karena berperan dalam jalur perdagangan serta pengiriman minyak menuju pasar Asia.
Mesir kemungkinan lebih berperan melalui dukungan politik dan diplomasi daripada pengerahan pasukan. Ke depan, perkembangan konflik akan bergantung pada kemampuan Saudi menjaga jalur ekspor minyak, respons internasional terhadap Houthi, serta peluang penyelesaian diplomatik di tengah meningkatnya risiko terhadap perdagangan dan energi global.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment