Konflik Houthi vs Arab Saudi Memanas, Ancaman Drone dan Kekuatan Milisi Yaman

Konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi kembali menjadi sorotan setelah terjadi saling serang di tengah ketegangan yang belum berakhir antara Amerika Serikat dan Iran. Perseteruan tersebut tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur perdagangan serta fasilitas minyak Arab Saudi.

Pasukan koalisi Yaman yang dipimpin Saudi pada Rabu (16/9) melaporkan bahwa Houthi meluncurkan sebuah drone ke arah wilayah dekat kota suci Mekkah sehari sebelumnya. Serangan itu disebut berhasil ditangkis, sementara puing-puing drone dilaporkan jatuh di sebelah selatan Mekkah.

Drone Houthi Menuju Dekat Mekkah

Laporan mengenai peluncuran drone tersebut memicu kecaman dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Organisasi itu menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesucian Mekkah. Namun, kelompok Houthi membantah bahwa mereka menargetkan kota suci tersebut.

Peristiwa ini menambah panjang daftar eskalasi antara Houthi dan Arab Saudi. Kedua pihak telah terlibat dalam konflik berkepanjangan yang turut menyeret sejumlah negara dan kelompok regional. Situasi semakin rumit karena ketegangan itu berlangsung ketika perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran juga belum sepenuhnya berakhir.

Awal Perselisihan Houthi dan Arab Saudi

Perseteruan terbaru antara Houthi dan Riyadh bermula setelah Bandara Sanaa, ibu kota Yaman, diserang pada 13 Juli. Houthi menuduh Arab Saudi berada di balik serangan yang dilakukan oleh militer Yaman tersebut.

Setelah insiden itu, Houthi dilaporkan memblokade jalur perairan yang digunakan Arab Saudi untuk mengekspor minyak. Kelompok tersebut juga melancarkan serangan terhadap sejumlah situs dan fasilitas minyak Saudi. Dampaknya, jalur pipa minyak utama milik Riyadh terpaksa ditutup.

Serangkaian tindakan itu membuat Arab Saudi menghadapi tekanan keamanan dan ekonomi. Sebagai negara penghasil minyak, gangguan terhadap fasilitas energi dan jalur ekspor dapat menimbulkan kekhawatiran lebih luas di kawasan Teluk.

Houthi dan Perang Saudara di Yaman

Houthi merupakan kelompok milisi di Yaman yang bersekutu dengan Iran. Kelompok ini menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk Sanaa serta sejumlah daerah di bagian barat dan utara yang berbatasan dengan Arab Saudi.

Dikutip dari Al Jazeera, Houthi mulai muncul pada dekade 1990-an dan memperoleh perhatian besar pada 2014 ketika memberontak terhadap pemerintah Yaman. Pemberontakan tersebut kemudian berkembang menjadi perang saudara dan memicu krisis kemanusiaan yang berdampak luas.

Setelah perang saudara pecah, Arab Saudi turun tangan untuk membantu pemerintah Yaman. Riyadh kemudian memimpin koalisi militer yang bertujuan melawan Houthi. Namun, setelah bertahun-tahun konflik berlangsung, Houthi justru dinilai semakin kuat, bukan melemah.

Dukungan Iran dan Perkembangan Persenjataan

Salah satu faktor yang disebut mendorong penguatan Houthi adalah dukungan Iran dan kelompok-kelompok proksinya. Dukungan tersebut mencakup keahlian, pelatihan, serta persenjataan canggih.

Michael Knights, kepala peneliti di Horizon Engage yang banyak menulis mengenai Houthi, menyebut kelompok tersebut sebagai sekutu regional Iran yang sangat berkomitmen, kuat secara ideologis, dan agresif. Menurutnya, Iran mengembangkan Houthi dalam waktu relatif cepat. Ia membandingkan perkembangan itu dengan Hizbullah Lebanon yang membutuhkan waktu sekitar 20 tahun, sedangkan Houthi berkembang dalam kurun lima tahun.

Houthi diketahui memiliki beragam persenjataan, antara lain rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Sejumlah senjata yang dimiliki kelompok itu disebut memiliki kemiripan dengan persenjataan Iran. Kemampuan tersebut membuat Houthi dapat menjangkau negara-negara Teluk dan Israel.

Selain itu, Houthi juga memiliki rudal antikapal serta drone angkatan laut. Persenjataan tersebut digunakan untuk menyerang kapal-kapal yang dikaitkan dengan Israel di Laut Merah.

Jumlah Pejuang Houthi Meningkat

Kekuatan Houthi juga tercermin dari pertumbuhan jumlah anggotanya. Laporan para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 menyebut kelompok tersebut telah merekrut hingga 350.000 pejuang. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan sekitar 30.000 orang pada 2015.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik berkepanjangan tidak otomatis mengurangi kemampuan Houthi. Sebaliknya, kelompok itu mampu mempertahankan pengaruh dan memperluas kapasitas militernya di tengah perang yang terus berlangsung.

Arab Saudi Mencari Dukungan Pertahanan

Konflik dengan Houthi membuat Arab Saudi semakin cemas, terutama setelah muncul kabar mengenai menipisnya stok persenjataan Amerika Serikat. Selama ini, AS memasok berbagai peralatan militer kepada Saudi, termasuk pesawat canggih dan sistem pertahanan rudal mutakhir.

Di tengah tekanan tersebut, Riyadh berupaya menggalang dukungan dari sejumlah negara, termasuk Pakistan dan Turki. Pada 7 Agustus, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menandatangani “Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah”. Kesepakatan itu disebut memiliki konsep serupa dengan NATO, yakni serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Kesimpulan

Memanasnya konflik Houthi dan Arab Saudi menunjukkan bahwa perang di Yaman masih menjadi salah satu sumber ketegangan utama di kawasan. Laporan mengenai drone yang jatuh di sekitar Mekkah, meski dibantah Houthi sebagai serangan terhadap kota suci, telah memicu kecaman keras dan meningkatkan sensitivitas politik maupun keamanan.

Dengan dukungan persenjataan dan pelatihan dari Iran, jumlah pejuang yang terus bertambah, serta kemampuan Houthi menyerang fasilitas minyak dan kapal di Laut Merah, ancaman terhadap Arab Saudi diperkirakan tetap menjadi perhatian. Sementara itu, upaya Riyadh membangun kerja sama pertahanan dengan Pakistan dan Turki menunjukkan bahwa persaingan ini dapat berkembang menjadi persoalan keamanan regional yang lebih luas.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment