Influenza A Terdeteksi Mendominasi di Indonesia, Kemenkes Pantau Perkembangannya

Influenza A belakangan menjadi perhatian setelah kasusnya disebut meningkat di sejumlah wilayah. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terus memantau perkembangan virus influenza yang beredar melalui sistem surveilans. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui jenis virus yang beredar sekaligus melihat tingkat aktivitas influenza di masyarakat.

Berdasarkan pemantauan Surveilans Sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) periode 2024-2026 hingga minggu ke-34, pengawasan dilakukan di 39 puskesmas dan 35 rumah sakit. Data tersebut menjadi salah satu rujukan pemerintah dalam memantau pola penyebaran influenza di Indonesia.

Influenza A Menjadi Virus yang Paling Banyak Terdeteksi

Laporan surveilans menunjukkan sejumlah virus influenza terdeteksi dan mendominasi pada Agustus 2026. Jenis virus tersebut meliputi influenza A (H1N1pdm09), influenza A (H3N2), serta influenza B/Victoria.

Meski demikian, aktivitas influenza pada minggu ke-34 masih berada pada level rendah. Positivity rate tercatat sebesar 28 persen dan berada di bawah angka pada musim 2025. Dalam pemantauan tersebut, influenza A (H1N1pdm09) menjadi subtipe yang paling dominan.

Temuan ini kemudian memunculkan perhatian di masyarakat, khususnya karena influenza A kerap dikaitkan dengan pandemi influenza yang pernah terjadi sebelumnya. Namun, dokter paru senior sekaligus mantan pejabat WHO SEARO, Tjandra Yoga Aditama, menilai dominasi influenza A tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan.

Dominasi Influenza A Dinilai sebagai Hal yang Umum

Menurut Tjandra, influenza A memang merupakan jenis influenza yang secara historis lebih sering ditemukan dan mendominasi dibandingkan tipe lainnya. Karena itu, temuan influenza A dalam pemantauan rutin bukan sesuatu yang luar biasa.

“Jadi, kalau informasi influenza A ditemui, ya itu memang dari dulu influenza A paling sering ditemui. Justru kalau influenza tipe B atau C yang naik, itu baru aneh. Kalau A yang dominan, memang dari dulu selalu dominan,” kata Tjandra, seperti dilansir Detikhealth pada Kamis (17/9).

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan influenza A dalam hasil surveilans tidak secara otomatis menandakan terjadinya kondisi luar biasa. Pemerintah tetap melakukan pemantauan, tetapi masyarakat tidak perlu langsung menganggap dominasi virus tersebut sebagai tanda munculnya pandemi baru.

H1N1pdm09 Bukan Virus Baru

Tjandra juga menjelaskan bahwa influenza A (H1N1pdm09) bukan merupakan virus baru. Subtipe tersebut adalah varian H1N1 yang pernah menjadi penyebab pandemi influenza pada 2009 dan saat itu dikenal luas dengan istilah flu babi atau swine flu.

Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat dapat menemukan H1N1 biasa maupun H1N1 yang dikenal sebagai pandemi 2009 atau H1N1pdm09. Oleh sebab itu, temuan H1N1pdm09 dalam pengawasan influenza saat ini tidak dapat langsung diartikan sebagai munculnya pandemi baru.

“Jadi memang sekarang ini, sehari-hari akan ketemu H1N1 yang biasa, H1N1 yang pandemi (Pdm09),” ujar Tjandra.

Subtipe Baru Perlu Mendapat Perhatian Lebih Besar

Meski H1N1pdm09 masih terdeteksi sebagai subtipe predominan, Tjandra menyebut perhatian lebih besar diperlukan apabila ditemukan subtipe influenza dengan karakteristik berbeda atau belum umum beredar pada manusia.

Ia mencontohkan H5N1 dan H7N9 sebagai jenis yang akan lebih mengkhawatirkan apabila ditemukan dalam kondisi yang belum pernah umum dilaporkan. Dengan demikian, jenis virus dan karakteristiknya menjadi aspek penting dalam menilai tingkat risiko, bukan sekadar kabar mengenai dominasi influenza A.

Pencegahan Tetap Penting Dilakukan

Walaupun influenza A yang beredar saat ini termasuk jenis yang telah dikenal, masyarakat tetap perlu melakukan langkah pencegahan, terutama ketika sedang mengalami gejala flu. Tjandra menyebut vaksin influenza dapat membantu memberikan perlindungan terhadap influenza musiman, termasuk virus seperti H1N1pdm09 dan H3N2.

Selain vaksinasi, orang yang sedang sakit juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah. Penggunaan masker menjadi langkah penting untuk membantu mencegah penularan kepada orang lain.

“Karena ini sama seperti kejadian biasa, maka pencegahannya sama seperti pencegahan flu pada umumnya. Jadi, kalau sakit, pakai masker dan jangan keluar rumah,” kata Tjandra.

Kesimpulan

Influenza A (H1N1pdm09) menjadi subtipe yang paling dominan dalam pemantauan surveilans influenza di Indonesia hingga minggu ke-34. Namun, aktivitas influenza masih berada pada level rendah dengan positivity rate 28 persen, bahkan tercatat di bawah musim 2025.

Dominasi influenza A juga dinilai sebagai hal yang umum karena virus tersebut secara historis lebih sering ditemukan. H1N1pdm09 bukan virus baru dan keberadaannya tidak otomatis menunjukkan pandemi baru. Ke depan, pemantauan melalui surveilans tetap penting untuk melihat perkembangan virus, sementara masyarakat perlu menjaga pencegahan dasar, terutama menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar rumah ketika sedang sakit.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment