Popularitas Anjlok, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung Minta Maaf kepada Publik
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyampaikan permintaan maaf kepada publik setelah tingkat dukungannya merosot ke posisi terendah dalam dua bulan terakhir. Dalam konferensi pers mendadak pada Jumat (18/9), Lee berjanji untuk melakukan introspeksi, bersikap lebih rendah hati, serta mengembalikan agenda pemerintahannya ke jalur yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Permintaan maaf tersebut disampaikan ketika pemerintahannya menghadapi tekanan dari berbagai arah. Di dalam negeri, warga Korea Selatan mengeluhkan kondisi ekonomi dan tingginya harga properti di Seoul. Sementara itu, dari luar negeri, Seoul harus menghadapi tekanan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kerja sama keamanan, investasi, perdagangan, dan isu Selat Hormuz.
Lee Jae Myung Akui Pemerintah Belum Merespons Keluhan Publik
Dalam konferensi pers tersebut, Lee mengakui bahwa pemerintahannya belum mampu menangani berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat secara memadai. Ia mengatakan, dirinya terlalu berfokus untuk bergerak maju di tengah banyaknya agenda mendesak sehingga tidak sepenuhnya memahami perasaan publik.
“Saya ingin memulai dengan menyampaikan permintaan maaf saya kepada orang-orang yang terus berjuang menjalani kehidupan sehari-hari mereka dalam keadaan sulit,” kata Lee.
Ia juga mengaku terkejut melihat munculnya gelombang kekecewaan dan kekhawatiran dari masyarakat. Setelah melakukan perenungan dan introspeksi, Lee menyimpulkan bahwa pemerintah harus menerima suara publik sebagai hal yang utama.
“Kekurangan itu adalah kesalahan saya,” ujar Lee. Ia menambahkan bahwa rakyat selalu benar dan pemerintah perlu mendengarkan keluhan mereka secara lebih serius.
Tingkat Dukungan Lee Turun ke 37 Persen
Jajak pendapat terbaru yang dirilis pada Jumat (18/9), sebelum konferensi pers berlangsung, menunjukkan tingkat popularitas Lee berada di angka 37 persen. Angka tersebut tercatat sebagai tingkat dukungan terendah bagi Lee sejak menjabat sebagai presiden, sekaligus menjadi titik terendah dalam dua bulan terakhir.
Penurunan popularitas itu berlangsung ketika masyarakat menghadapi persoalan ekonomi yang belum sepenuhnya terselesaikan. Perkembangan industri kecerdasan buatan atau AI memang mendorong keuntungan besar bagi perusahaan chip seperti SK Hynix dan Samsung Electronics. Namun, manfaat pertumbuhan tersebut dinilai belum banyak dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil survei juga memperlihatkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap sejumlah isu, termasuk tingginya harga properti di Seoul. Kondisi tersebut menambah tekanan bagi pemerintahan Lee yang berupaya mempertahankan dukungan masyarakat.
Perombakan Kabinet Belum Pulihkan Popularitas
Untuk merespons penurunan tingkat dukungan, Lee telah melakukan perombakan besar-besaran dalam kabinetnya. Sejumlah pejabat tinggi diganti, termasuk menteri keuangan, menteri pertahanan, dan menteri kehakiman.
Penasihat kebijakan utama Lee, Kim Yong-beom, juga mengundurkan diri. Dalam surat pengunduran dirinya, Kim menyampaikan bahwa pemerintah perlu kembali memperhatikan dampak pertumbuhan ekonomi terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, fokus pemerintah tidak seharusnya hanya diukur dari persentase pertumbuhan, tetapi juga dari seberapa besar pertumbuhan itu membawa perubahan nyata bagi warga.
Meski berbagai perubahan telah dilakukan, langkah tersebut belum berhasil mendorong kenaikan popularitas Lee. Direktur Institut Penelitian Rakyat Korea, Jeong Han-wool, memperingatkan bahwa Lee berisiko dipandang sebagai presiden yang lemah dan tidak berdaya apabila gagal memulihkan dukungan publik serta mempertahankan basis politiknya.
Jeong menilai, kendali partai Lee atas parlemen tidak otomatis membuat pemerintahannya terbebas dari kritik. Setiap kebijakan tetap berpotensi mendapat sorotan apabila tidak mampu menjawab persoalan masyarakat.
Tekanan dari Amerika Serikat
Selain menghadapi tantangan domestik, Lee juga harus menjaga hubungan Korea Selatan dengan Amerika Serikat. Washington sebelumnya mengecam Seoul karena diduga enggan membantu upaya membuka kembali Selat Hormuz. Amerika Serikat juga menyoroti lambatnya kemajuan kesepakatan perdagangan dan investasi senilai US$350 miliar.
Korea Selatan dan Amerika Serikat disebut hampir mencapai kesepakatan mengenai proyek investasi pertama. Namun, Seoul baru-baru ini meminta tambahan waktu untuk menyempurnakan kesepakatan tersebut. Washington kemudian mempertanyakan tindak lanjut Korea Selatan terhadap komitmen investasi yang telah disepakati kedua negara.
Hubungan keamanan kedua negara juga menghadapi ketegangan. Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan sebagai bagian dari upaya membantu melindungi negara tersebut dari ancaman Korea Utara yang memiliki senjata nuklir.
Namun, Presiden Donald Trump membatalkan latihan militer gabungan yang sebelumnya telah lama direncanakan bersama Seoul. Trump menyebut hubungan persahabatannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un serta dugaan penolakan Korea Selatan untuk membantu menangani Iran sebagai bagian dari pertimbangannya.
Selat Hormuz Jadi Persoalan Sensitif
Pemerintahan Lee kini menjajaki sejumlah opsi untuk mendukung upaya membuka kembali Selat Hormuz. Jalur tersebut memiliki arti penting bagi Korea Selatan karena sebelum konflik pecah pada Februari, lebih dari 70 persen kebutuhan minyak negara itu diterima melalui selat tersebut.
Meski demikian, rencana keterlibatan Seoul mendapat penolakan kuat di dalam negeri. Salah satu kekhawatiran utama berkaitan dengan kemungkinan pengiriman pasukan untuk membantu mengamankan jalur strategis tersebut.
Ekonom Bloomberg Economics Hyosung Kwon dan Adam Farrar mengatakan Korea Selatan perlu menyeimbangkan tuntutan Washington dengan sejumlah risiko, termasuk kemungkinan pembalasan Iran, kesiapan militer di Semenanjung Korea, dan penolakan politik domestik.
Mereka menilai pendekatan transaksional Trump terhadap aliansi dapat membuat gesekan dalam satu isu merembet ke persoalan lainnya. Karena itu, setiap keputusan Seoul terkait Selat Hormuz berpotensi berdampak pada hubungan keamanan dan ekonomi Korea Selatan dengan Amerika Serikat.
Kesimpulan
Permintaan maaf Lee Jae Myung menunjukkan besarnya tekanan yang sedang dihadapi pemerintah Korea Selatan. Penurunan popularitas hingga 37 persen dipengaruhi oleh keluhan ekonomi masyarakat, tingginya harga properti, serta persoalan hubungan dengan Amerika Serikat.
Perombakan kabinet dan pengunduran diri penasihat utama belum mampu memulihkan dukungan publik. Ke depan, Lee perlu membuktikan bahwa introspeksi yang disampaikannya dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pada saat yang sama, pemerintahannya harus berhati-hati menyeimbangkan tuntutan Washington, kepentingan energi nasional, kesiapan keamanan, dan penolakan politik di dalam negeri.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment