Keluarga Korban Speed Boat Arupadhatu 1 Tabur Bunga di Perairan Gunung Anak Krakatau
Keluarga lima jurnalis dan tiga awak kapal cepat Arupadhatu 1 yang hilang kontak melaksanakan tabur bunga di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, pada Jumat (18/9). Kegiatan tersebut dilakukan setelah operasi pencarian dan pertolongan atau SAR gabungan resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari.
Tabur bunga menjadi momen penghormatan sekaligus bentuk doa bagi para penumpang kapal yang hingga kini belum ditemukan. Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat memberikan dukungan moril kepada keluarga yang masih menanti kabar mengenai keberadaan para korban.
Keluarga Korban Tabur Bunga di Sekitar Gunung Anak Krakatau
Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Ahiles Hutapea, mengatakan tabur bunga dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan dan doa bersama keluarga korban. Kegiatan itu berlangsung di wilayah perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, yang menjadi lokasi hilangnya kontak dengan kapal Arupadhatu 1.
Menurut Maruli, Polda Banten bersama seluruh unsur terkait tetap memberikan dukungan kepada keluarga korban. Dukungan tersebut diberikan setelah upaya pencarian yang dilakukan secara intensif oleh tim SAR gabungan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
“Tabur bunga ini merupakan bentuk penghormatan dan doa bersama keluarga korban. Polda Banten bersama seluruh unsur terkait terus memberikan dukungan kepada keluarga korban,” ujar Maruli dalam keterangan tertulis.
Doa Bersama di Atas Kapal Polisi
Kegiatan tabur bunga dilakukan menggunakan kapal milik Direktorat Polisi Air dan Udara Polda Banten. Selain menaburkan bunga ke laut, keluarga korban dan seluruh awak kapal yang terlibat juga melaksanakan doa bersama.
Doa bersama tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan penghormatan bagi para korban. Polda Banten berharap prosesi itu dapat membantu memberikan ketenangan dan kekuatan bagi keluarga jurnalis serta awak kapal yang hilang kontak.
“Semoga kegiatan ini dapat memberikan ketenangan dan kekuatan bagi keluarga korban,” kata Maruli.
Operasi SAR Dihentikan Setelah 10 Hari
Sebelumnya, operasi SAR berskala besar terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau resmi dihentikan pada Kamis (17/9). Operasi tersebut dilakukan selama 10 hari sejak kapal Arupadhatu 1 dilaporkan hilang kontak.
Kapal cepat itu diketahui hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026. Sepanjang masa pencarian, tim SAR gabungan belum menemukan petunjuk yang mengarah pada keberadaan kapal maupun para penumpangnya.
Operasi pencarian melibatkan sejumlah unsur, termasuk Basarnas dari wilayah Banten, Lampung, hingga Bengkulu. Tim gabungan menyisir wilayah yang menjadi lokasi dugaan hilangnya kapal, tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Arupadhatu 1 ataupun delapan orang yang berada di dalam kapal tersebut.
Dukungan bagi Keluarga Tetap Diberikan
Penghentian operasi pencarian menjadi fase berat bagi keluarga korban. Setelah pencarian resmi dihentikan, kegiatan tabur bunga dipilih sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus ungkapan doa bagi para penumpang kapal.
Polda Banten menyatakan dukungan kepada keluarga korban terus diberikan bersama seluruh unsur terkait. Kehadiran aparat dan pihak-pihak yang terlibat dalam prosesi tersebut menunjukkan adanya perhatian serta pendampingan moril bagi keluarga di tengah situasi yang masih penuh duka.
Kesimpulan
Keluarga lima jurnalis dan tiga awak kapal Arupadhatu 1 melaksanakan tabur bunga di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah operasi SAR dihentikan selama 10 hari tanpa menemukan kapal maupun delapan penumpangnya. Prosesi tersebut menjadi bentuk penghormatan, doa, dan dukungan moril bagi keluarga korban.
Ke depan, dukungan dari Polda Banten dan unsur terkait diharapkan tetap diberikan kepada keluarga korban. Meski operasi pencarian telah dihentikan, pendampingan dan perhatian terhadap keluarga menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi yang mereka alami.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment