Apa yang Terjadi jika Sering Menahan BAB? Ini Dampaknya bagi Kesehatan Pencernaan

Menahan buang air besar (BAB) sesekali umumnya tidak langsung menimbulkan masalah. Namun, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak dilakukan berulang kali. Terlalu sering menahan BAB dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, mulai dari sembelit hingga penumpukan feses di usus besar atau rektum.

Keinginan untuk BAB merupakan sinyal alami tubuh yang menunjukkan bahwa feses telah berada di rektum dan siap dikeluarkan. Karena itu, seseorang dianjurkan untuk tidak mengabaikan dorongan tersebut dan segera menggunakan toilet ketika sudah memungkinkan.

Feses Menjadi Lebih Keras dan Kering

Menurut penjelasan Medical News Today, menahan BAB membuat feses berada lebih lama di dalam usus besar. Selama berada di sana, usus besar terus menyerap air dari feses. Akibatnya, tekstur feses dapat berubah menjadi lebih keras dan kering.

Feses dengan tekstur keras tentu lebih sulit dikeluarkan. Kondisi ini dapat memicu sembelit dan membuat seseorang harus mengejan lebih kuat saat BAB. Selain menyulitkan proses BAB, sembelit juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada perut.

Risiko Penumpukan Feses di Usus Besar dan Rektum

Jika kebiasaan menahan BAB terus dilakukan, feses dapat menumpuk di dalam saluran pencernaan. Dalam kondisi yang semakin parah, penumpukan tersebut dapat menyebabkan fecal impaction, yaitu keadaan ketika massa feses yang keras dan kering tersangkut di usus besar atau rektum.

Dikutip dari Healthline, fecal impaction merupakan salah satu dampak yang dapat terjadi ketika feses menumpuk dan menjadi semakin sulit dikeluarkan. Meski komplikasi serius akibat menahan BAB tergolong jarang, sembelit yang sangat parah tetap dapat menimbulkan masalah pada saluran pencernaan.

Sensitivitas Rektum Bisa Berkurang

Kebiasaan menahan BAB juga dapat membuat rektum meregang akibat penumpukan feses. Dalam kondisi tertentu, sensitivitas rektum terhadap keberadaan feses dapat ikut berkurang.

Akibatnya, seseorang mungkin tidak lagi merasakan dorongan untuk BAB seperti sebelumnya. Berkurangnya sensasi tersebut pada kasus tertentu dapat menyebabkan kebocoran feses atau inkontinensia fekal. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan menahan BAB tidak sebaiknya dianggap sebagai hal yang sepele.

Frekuensi BAB Setiap Orang Berbeda

Tidak ada waktu atau frekuensi BAB yang berlaku sama bagi semua orang. Sebagian orang dapat BAB beberapa kali dalam sehari, sedangkan yang lain mungkin hanya mengalaminya beberapa kali dalam seminggu.

Perbedaan frekuensi tersebut tidak berarti seseorang boleh mengabaikan rasa ingin BAB. Ketika tubuh memberikan sinyal untuk mengeluarkan feses, sebaiknya dorongan itu tidak ditunda terlalu lama. Jika sedang tidak dapat menggunakan toilet, menahannya sesaat biasanya tidak menjadi masalah. Namun, usahakan untuk segera BAB ketika sudah tersedia kesempatan.

Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Dokter?

Seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila terlalu sering menahan BAB dan mengalami sembelit secara berulang. Pemeriksaan juga penting dilakukan apabila mulai kehilangan sensasi ingin BAB atau mengalami perubahan pola BAB yang menetap.

Perubahan tersebut perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan kebiasaan menahan feses yang berlangsung terus-menerus. Dengan berkonsultasi kepada dokter, kondisi yang dialami dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.

Kebiasaan Menahan BAB pada Anak

Pada anak-anak, kebiasaan menahan BAB juga perlu mendapat perhatian. Pengalaman BAB yang terasa menyakitkan dapat membuat anak merasa takut. Rasa takut tersebut kemudian dapat mendorong anak untuk kembali menahan feses, sehingga masalah sembelit berulang.

Karena itu, kebiasaan BAB pada anak sebaiknya diamati, terutama jika anak tampak enggan menggunakan toilet atau mengalami sembelit berulang setelah BAB yang menyakitkan.

Kesimpulan

Menahan BAB sesekali biasanya tidak berbahaya, tetapi kebiasaan yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko sembelit, feses keras dan kering, penumpukan feses, serta berkurangnya sensasi ingin BAB. Pada kondisi tertentu, masalah tersebut juga dapat menyebabkan kebocoran feses atau inkontinensia fekal.

BAB merupakan proses alami tubuh yang sebaiknya tidak sering ditunda. Mendengarkan sinyal tubuh dan segera menggunakan toilet ketika dorongan BAB muncul dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Ke depan, kebiasaan ini perlu diperhatikan, terutama jika sembelit terus berulang, sensasi ingin BAB berkurang, atau pola BAB mengalami perubahan yang menetap.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment