Wanita di China Didiagnosis Empat Penyakit Autoimun Sekaligus, Bermula dari Defisiensi Zat Besi

Seorang wanita berusia 40 tahun di China mengalami kasus medis yang sangat langka setelah dokter menemukan empat penyakit autoimun dalam tubuhnya secara bersamaan. Kasus tersebut terungkap ketika pasien mengalami defisiensi zat besi berat, sementara pemeriksaan awal tidak menemukan sumber perdarahan yang jelas.

Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, tim medis mendapati bahwa masalah tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan asupan zat besi. Pasien mengalami gangguan pada lambung akibat serangan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuhnya kesulitan menyerap zat besi dari makanan.

Dikutip dari Science Alert, laporan mengenai kasus langka ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Immunology pada 11 Agustus 2026. Temuan tersebut memperlihatkan kompleksitas penyakit autoimun, terutama pada pasien yang telah memiliki lebih dari satu gangguan akibat sistem imun.

Empat Penyakit Autoimun dalam Satu Tubuh

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi justru menyerang sel atau jaringan sehat. Pada pasien ini, gangguan autoimun sebelumnya telah diketahui menyerang beberapa organ, yakni usus besar, hati, dan saluran empedu.

Kolitis Ulseratif

Penyakit pertama yang dimiliki pasien adalah kolitis ulseratif. Kondisi ini merupakan peradangan pada lapisan usus besar yang dapat menimbulkan nyeri, diare, dan perdarahan.

Namun, ketika pemeriksaan defisiensi zat besi dilakukan, kolitis ulseratif pasien sedang berada dalam kondisi remisi. Karena itu, kemungkinan perdarahan dari usus besar dinilai kecil sebagai penyebab utama menurunnya kadar zat besi.

Autoimmune Hepatitis

Pasien juga diketahui mengalami autoimmune hepatitis. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh menyerang hati. Penyakit tersebut berbeda dari hepatitis virus karena tidak disebabkan oleh infeksi.

Primary Sclerosing Cholangitis

Selain itu, pasien menderita primary sclerosing cholangitis, yaitu penyakit yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan penyempitan pada saluran empedu. Dengan demikian, sebelum gangguan pada lambung ditemukan, sistem imun pasien telah diketahui menyerang tiga area penting dalam tubuh.

Autoimmune Gastritis

Diagnosis keempat baru terungkap setelah dokter mencari penyebab lain dari defisiensi zat besi. Pemeriksaan lambung menunjukkan bahwa lapisan dalam organ tersebut menipis secara signifikan.

Pemeriksaan mikroskopis memperlihatkan adanya sel-sel imun yang memicu peradangan pada jaringan lambung. Selain itu, banyak sel yang biasanya menghasilkan asam lambung tampak rusak atau hilang.

Hasil tes darah turut menunjukkan keberadaan antibodi yang menyerang sel parietal, yaitu sel penghasil asam lambung. Berdasarkan gabungan temuan tersebut, dokter mengonfirmasi bahwa pasien mengalami autoimmune gastritis.

Defisiensi Zat Besi Tidak Disebabkan Perdarahan

Pemeriksaan darah menunjukkan kadar hemoglobin pasien turun menjadi 89 gram per liter. Karena kadar zat besinya juga rendah, dokter pada awalnya mencari kemungkinan adanya perdarahan tersembunyi.

Akan tetapi, pemeriksaan tinja yang dilakukan berulang kali tidak menemukan darah. Pemeriksaan ginekologis juga tidak menunjukkan adanya sumber kehilangan darah dari area reproduksi.

Setelah sumber perdarahan tidak ditemukan, kecurigaan dokter beralih pada gangguan penyerapan nutrisi. Kerusakan sel penghasil asam lambung menjadi petunjuk penting dalam kasus ini.

Asam lambung berperan membantu proses penyerapan zat besi di usus halus. Ketika sel penghasil asam tersebut rusak akibat serangan sistem imun, zat besi dari makanan menjadi lebih sulit diserap tubuh, meskipun jumlah asupan pasien sebenarnya mencukupi.

Risiko Kekurangan Vitamin B12

Autoimmune gastritis juga dapat mengganggu penyerapan vitamin B12. Vitamin tersebut dibutuhkan tubuh untuk membantu pembentukan sel darah dan sel saraf yang sehat.

Meski demikian, kadar vitamin B12 pada pasien masih berada dalam kondisi normal. Menurut para dokter, defisiensi zat besi dapat menjadi tanda peringatan yang muncul lebih awal dibandingkan kekurangan vitamin B12.

Dokter memberikan suplemen zat besi kepada pasien dan berencana memantau kadar vitamin B12 serta folat. Pasien juga dijadwalkan menjalani pemeriksaan lambung ulang dengan biopsi dalam satu hingga dua tahun.

Masih Banyak Pertanyaan yang Belum Terjawab

Walaupun kasus ini menarik perhatian, laporan tersebut hanya melibatkan satu pasien. Oleh karena itu, belum dapat dipastikan seberapa sering kombinasi empat penyakit autoimun seperti ini terjadi.

Para peneliti juga belum dapat memastikan apakah salah satu penyakit autoimun memicu munculnya penyakit lain. Selain itu, masih belum diketahui apakah semua pasien yang memiliki beberapa penyakit autoimun perlu menjalani pemeriksaan lambung.

Analisis penyebab kasus ini juga belum sepenuhnya lengkap karena sebagian riwayat medis pasien tidak tersedia. Di sisi lain, autoimmune gastritis dikaitkan dengan peningkatan risiko tumor lambung tertentu dalam jangka panjang, sehingga pemantauan lanjutan tetap diperlukan.

Kesimpulan

Kasus wanita 40 tahun di China ini menunjukkan bahwa defisiensi zat besi yang tidak memiliki penyebab jelas tidak selalu berkaitan dengan pola makan atau perdarahan. Pada pasien yang telah memiliki penyakit autoimun, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa sistem kekebalan tubuh sedang menyerang organ lain yang belum terdeteksi.

Temuan ini sekaligus menegaskan pentingnya pemeriksaan menyeluruh dan pemantauan jangka panjang pada pasien dengan penyakit autoimun. Meski belum bisa dijadikan gambaran umum karena hanya melibatkan satu pasien, kasus tersebut dapat menjadi pengingat bagi dokter untuk mempertimbangkan gangguan penyerapan nutrisi ketika penyebab defisiensi zat besi tidak ditemukan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment