Korea Utara Kembali Tembakkan Rudal Usai Trump Minta Bertemu Kim Jong Un
SEOUL — Korea Utara kembali menembakkan satu proyektil yang diperkirakan sebagai rudal balistik pada Kamis (20/8). Peluncuran tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Perkembangan ini menjadi perhatian karena berlangsung di tengah upaya Trump untuk menghidupkan kembali hubungan dengan Kim Jong Un. Pada saat yang sama, keputusan Amerika Serikat dan Korea Selatan untuk mengurangi skala latihan militer gabungan juga memunculkan kekhawatiran di antara sejumlah sekutu Washington di Asia.
Korea Utara Kembali Meluncurkan Proyektil
Kantor Perdana Menteri Jepang menyampaikan melalui unggahan di platform X bahwa proyektil yang ditembakkan Korea Utara diperkirakan merupakan rudal balistik. Namun, belum ada rincian lebih lanjut mengenai jenis rudal, jarak tempuh, maupun lokasi peluncuran tersebut.
Sebelumnya, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan kepada AFP bahwa Korea Utara telah meluncurkan setidaknya satu “proyektil tak dikenal”. Pernyataan itu disampaikan beberapa jam setelah Trump mengungkapkan keinginannya untuk kembali bertemu dengan Kim Jong Un.
Peluncuran tersebut menambah ketegangan di Semenanjung Korea, terutama karena terjadi ketika perhatian internasional tertuju pada kemungkinan dimulainya kembali komunikasi antara Washington dan Pyongyang.
Trump Ingin Menghidupkan Kembali Hubungan dengan Kim
Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Rabu (19/8), Trump mengatakan ingin bertemu dengan Kim Jong Un. Ia menyebut pertemuan itu sebagai upaya untuk menghidupkan kembali ikatan yang menurutnya telah terjalin selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden Amerika Serikat.
Trump juga menekankan pentingnya menjalin hubungan baik dengan pemimpin Korea Utara tersebut. Dalam kesempatan yang sama, ia menyatakan bahwa Pyongyang kini memiliki 57 senjata nuklir yang disebutnya “sangat kuat”.
Pernyataan Trump menunjukkan adanya perhatian khusus terhadap hubungan personalnya dengan Kim Jong Un. Namun, hingga saat ini, belum terdapat kepastian mengenai rencana pertemuan baru antara kedua pemimpin tersebut.
Respons Kim Yo Jong
Kim Yo Jong, saudara perempuan sekaligus salah satu tokoh penting di lingkaran kepemimpinan Korea Utara, turut menanggapi permintaan Trump. Ia mengatakan tidak mengetahui adanya komunikasi yang dilaporkan terjadi antara Kim Jong Un dan presiden Amerika Serikat tersebut.
Meski demikian, Kim Yo Jong menyatakan bahwa kakaknya masih memiliki “kenangan dan kesan positif” terhadap Trump. Ia juga mengatakan hubungan antara kedua pemimpin itu tetap “sangat baik”.
Pernyataan tersebut membuka kemungkinan bahwa komunikasi antara Washington dan Pyongyang masih dapat kembali berlangsung. Namun, peluncuran rudal terbaru Korea Utara menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tetap diwarnai ketegangan dan ketidakpastian.
Latihan Militer AS-Korea Selatan Dipangkas
Fokus Trump terhadap Kim Jong Un juga disertai keputusan untuk mengurangi skala latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Keputusan tersebut membuat khawatir sejumlah sekutu Amerika di Asia karena latihan bersama selama ini menjadi bagian dari kesiapan pertahanan kedua negara.
Pada Rabu, militer Korea Selatan memutuskan memangkas durasi latihan bersama dengan Amerika Serikat setelah Trump menyatakan bahwa latihan gabungan itu akan dikurangi. Latihan yang semula direncanakan berlangsung hingga 27 Agustus tersebut akan diselesaikan pada akhir pekan berdasarkan “usulan pihak AS”.
Perubahan jadwal itu memicu spekulasi mengenai arah kebijakan luar negeri Trump. Fokus mendadak terhadap Kim Jong Un dan pengurangan latihan militer dinilai berkaitan dengan upaya mencari jalan keluar kebijakan luar negeri, di tengah kebuntuan upaya yang berkaitan dengan konflik Iran.
Perkiraan Persenjataan Nuklir Korea Utara
Di tengah perkembangan tersebut, Menteri Pertahanan Korea Selatan menyampaikan bahwa Korea Utara diperkirakan memiliki sekitar 80 hingga 120 senjata nuklir. Angka ini berbeda dari jumlah yang disebut Trump dalam pernyataannya di Gedung Putih, yakni 57 senjata nuklir.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan adanya beragam perkiraan mengenai kapasitas nuklir Korea Utara. Namun, kedua pernyataan itu sama-sama menegaskan bahwa program nuklir Pyongyang masih menjadi persoalan utama dalam hubungan keamanan di kawasan.
Kesimpulan
Korea Utara kembali menembakkan proyektil yang diperkirakan sebagai rudal balistik tidak lama setelah Donald Trump menyampaikan keinginan untuk bertemu Kim Jong Un. Di sisi lain, Kim Yo Jong menyebut pemimpin Korea Utara masih memiliki kesan positif terhadap Trump, meski ia mengaku tidak mengetahui adanya komunikasi terbaru antara keduanya.
Situasi ke depan akan bergantung pada kemungkinan terjadinya komunikasi langsung antara Washington dan Pyongyang. Pengurangan durasi latihan militer AS-Korea Selatan dapat membuka ruang bagi pendekatan diplomatik, tetapi peluncuran rudal terbaru menunjukkan bahwa ketegangan di Semenanjung Korea masih belum mereda.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment