Rupiah Melemah ke Rp17.847 per Dolar AS, BI Soroti Risiko Geopolitik dan Harga Minyak
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (21/9). Bank Indonesia (BI) menyatakan pelemahan tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang turut menjaga harga minyak mentah dunia tetap tinggi.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada perdagangan siang hari tercatat melemah 0,50 persen atau 89 poin. Dengan pergerakan tersebut, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.847 per dolar AS.
Bank sentral menilai kondisi eksternal tersebut berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap perekonomian global. Harga minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel dinilai dapat meningkatkan risiko inflasi global sekaligus memberi tekanan terhadap prospek fiskal sejumlah negara.
Geopolitik Timur Tengah Tekan Rupiah
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pelemahan rupiah masih berkaitan erat dengan kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan di kawasan tersebut mendorong harga minyak mentah dunia tetap berada pada level tinggi.
Menurut Erwin, kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada pasar komoditas, tetapi juga meningkatkan risiko inflasi secara global. Pada saat yang sama, kondisi tersebut dapat memengaruhi outlook fiskal dan mendorong pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
“Pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$100 per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis pada awal pekan ini.
Permintaan Valas dan Arus Modal Jadi Faktor Tambahan
Selain sentimen global, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari faktor domestik. Erwin menyebut kebutuhan valuta asing dari importir turut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Peningkatan permintaan valas tersebut memberikan tekanan tambahan ketika pasar sedang menghadapi ketidakpastian eksternal.
Tekanan lainnya datang dari arus keluar dana pada portofolio aset domestik. Pergerakan dana portofolio yang keluar dapat memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing, terutama ketika investor melakukan penyesuaian terhadap risiko global.
Meski demikian, BI menyatakan akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Langkah tersebut dilakukan agar stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga dan pergerakannya sesuai dengan fundamental perekonomian.
Strategi BI Menjaga Stabilitas Nilai Tukar
Erwin menjelaskan bahwa BI melakukan pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya bank sentral dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Selain itu, BI akan memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar serta memastikan kecukupan likuiditas. Salah satu langkah yang ditempuh ialah melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.
Intervensi di pasar juga akan dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. BI menggunakan sejumlah instrumen, di antaranya transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Bank Indonesia juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar. Berbagai instrumen tersebut digunakan untuk merespons dinamika nilai tukar dan kondisi likuiditas di pasar keuangan.
BI Dorong Arus Modal dan Transaksi Mata Uang Lokal
Koordinasi serta komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif. Menurut Erwin, langkah tersebut antara lain diarahkan untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan.
BI juga berupaya mendiversifikasi permintaan valuta asing melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Skema ini menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan kebutuhan transaksi valas dan penguatan stabilitas pasar.
Rupiah Masih Menguat Secara QTD
Di tengah pelemahan harian tersebut, Erwin menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat menguat 0,37 persen.
Posisi cadangan devisa Indonesia juga mengalami peningkatan. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa tercatat mencapai US$146,5 miliar. Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian.
Kesimpulan
Pelemahan rupiah ke level Rp17.847 per dolar AS dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak di atas US$100 per barel meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan terhadap outlook fiskal. Di dalam negeri, kebutuhan valas importir serta arus keluar dana portofolio turut memberi tekanan terhadap rupiah.
Ke depan, BI akan melanjutkan intervensi melalui berbagai instrumen pasar, memperkuat operasi moneter pro-market, menjaga kecukupan likuiditas, serta mendorong arus modal dan transaksi melalui skema LCT. Meskipun menghadapi tekanan jangka pendek, pergerakan rupiah secara QTD masih menunjukkan penguatan dan cadangan devisa berada pada level US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment