Aktivitas Fisik Anak Indonesia Masih Rendah, Kenyamanan Pakaian Perlu Diperhatikan
Aktivitas fisik memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Meski demikian, masih banyak anak dan remaja di Indonesia yang belum cukup aktif bergerak dalam kesehariannya. Kondisi tersebut terlihat dari data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan tingginya proporsi anak dan remaja dengan tingkat aktivitas fisik rendah.
Berdasarkan Physical Activity Factsheet: Indonesia 2024 yang diterbitkan WHO, sebanyak 58 persen anak dan remaja berusia 10-14 tahun di Indonesia tergolong kurang aktif secara fisik. Data tersebut merujuk pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sementara itu, pada kelompok usia 15-19 tahun, proporsinya mencapai 50,4 persen.
Kurangnya aktivitas fisik pada anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pakaian memang bukan satu-satunya penentu tingkat keaktifan anak, tetapi aspek kenyamanan tetap menjadi hal yang perlu dipertimbangkan orang tua ketika memilih busana untuk berbagai kegiatan.
Kenyamanan Pakaian Mendukung Anak Bergerak
Dalam satu hari, anak dapat menjalani beragam aktivitas. Mereka bisa berpindah dari kegiatan belajar di sekolah ke kelas olahraga, bermain bersama teman, beraktivitas di luar ruangan, hingga mengikuti kegiatan bersama keluarga.
Rangkaian aktivitas tersebut membutuhkan pakaian yang tidak menghambat pergerakan. Pakaian yang terlalu ketat, panas, gatal, atau terasa membatasi gerak berpotensi membuat anak tidak nyaman. Pada akhirnya, kondisi itu dapat memengaruhi keinginan anak untuk menggunakan pakaian tersebut dalam aktivitas sehari-hari.
Karena itu, orang tua tidak hanya perlu mempertimbangkan ukuran dan tampilan pakaian. Ruang gerak yang cukup juga penting agar anak dapat bergerak dengan lebih leluasa, baik saat berolahraga maupun ketika melakukan kegiatan di luar ruangan.
Pilihan Pakaian Anak Semakin Memperhatikan Kenyamanan
Perhatian terhadap kenyamanan dan keamanan anak turut terlihat dari perkembangan kategori pakaian anak di Indonesia. Data Euromonitor International yang dipublikasikan melalui MarketResearch.com mencatat, nilai penjualan ritel pakaian anak di Indonesia mencapai Rp16,8 triliun pada 2025. Angka tersebut tumbuh 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Laporan itu menyebutkan bahwa peningkatan pendapatan kelas menengah serta perhatian yang lebih besar terhadap kenyamanan dan keamanan anak ikut mendorong pertumbuhan kategori pakaian anak.
Dalam memilih pakaian aktif, terdapat sejumlah aspek sederhana yang dapat diperhatikan. Ukuran menjadi salah satunya. Pakaian sebaiknya tidak terlalu ketat agar tidak membatasi gerak, tetapi juga tidak terlalu longgar sehingga berpotensi mengganggu aktivitas anak.
Material Pakaian Perlu Disesuaikan
Material juga menjadi bagian penting dalam menentukan kenyamanan pakaian. Indonesia memiliki kondisi cuaca yang hangat dan lembap, sehingga bahan yang tetap terasa nyaman ketika digunakan dalam waktu lama dapat membantu anak beraktivitas secara lebih leluasa.
Selain itu, orang tua dapat memperhatikan respons anak setelah mengenakan pakaian. Keluhan berupa rasa gatal, kepanasan, pakaian terlalu ketat, atau kesulitan bergerak dapat menjadi tanda bahwa pakaian yang dipilih belum sesuai dengan kebutuhan anak.
Mendengarkan Pengalaman Anak
Dalam memilih pakaian, orang tua tidak harus hanya berpatokan pada tampilan. Pengalaman anak saat mengenakan pakaian tersebut juga dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah pakaian akan benar-benar digunakan kembali.
Managing Director moodytiger Indonesia Hengky Wijaya mengatakan, orang tua umumnya menjadi pihak yang menentukan pembelian. Namun, setelah itu anak memiliki keputusan lain, yakni apakah mereka bersedia mengenakan pakaian tersebut kembali.
“Khusus untuk pakaian aktif, menurut kami pengalaman anak saat memakainya itu perlu ikut dipertimbangkan. Pakaian bisa saja terlihat bagus dan sesuai dengan ukuran anak, tetapi ketika anak merasa geraknya terbatas, kepanasan, atau tidak nyaman, hal-hal tersebut pada akhirnya bisa menjadi lebih penting daripada penampilan,” ujar Hengky.
Menurut Hengky, anak tidak harus menentukan seluruh keputusan pembelian. Meski demikian, mendengarkan apa yang mereka rasakan dapat membantu orang tua menemukan pilihan yang lebih sesuai.
“Tujuannya bukan memilih antara apa yang dianggap praktis oleh orang tua dan apa yang disukai anak. Idealnya, keduanya bisa bertemu. Orang tua tetap dapat mempertimbangkan kualitas, material, dan kesesuaian penggunaan, sementara anak dapat memberi tahu apakah mereka benar-benar merasa nyaman saat bergerak,” katanya.
Perkembangan Pakaian Aktif Anak
Perhatian terhadap kenyamanan menjadi bagian dari perkembangan kategori pakaian anak, termasuk pakaian untuk aktivitas olahraga dan kegiatan luar ruang. Salah satu brand yang mengambil pendekatan tersebut adalah moodytiger.
Brand tersebut menawarkan pakaian aktif, alas kaki, dan aksesori untuk anak berusia 4-16 tahun. Pilihan produknya mencakup kebutuhan untuk berbagai aktivitas, seperti tenis, renang, golf, kegiatan luar ruang, hingga penggunaan sehari-hari.
Moodytiger membuka flagship store di Pacific Place, Jakarta, pada Desember 2025. Brand tersebut juga tercatat sebagai bluesign system partner, sebuah sistem yang berfokus pada penggunaan bahan kimia secara lebih bertanggung jawab serta efisiensi sumber daya dalam rantai pasok tekstil.
Kesimpulan
Data WHO menunjukkan bahwa aktivitas fisik anak dan remaja di Indonesia masih menjadi perhatian. Pakaian bukan faktor tunggal yang menentukan keaktifan anak, tetapi kenyamanan busana dapat membantu memastikan mereka tetap leluasa bergerak dalam berbagai kegiatan.
Ke depan, orang tua dapat menyeimbangkan pertimbangan antara ukuran, material, kualitas, tampilan, dan pengalaman anak saat mengenakan pakaian. Dengan mendengarkan respons anak, pilihan pakaian diharapkan tidak hanya terlihat sesuai, tetapi juga benar-benar mendukung aktivitas mereka sehari-hari.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment