Kucing Saling Menjilat Tak Selalu Tanda Sayang, Bisa Jadi Sinyal Agresi Pasif

Pendahuluan

Melihat dua kucing saling menjilati sering kali dianggap sebagai pemandangan yang menggemaskan. Perilaku tersebut umumnya dipahami sebagai bentuk kasih sayang, kedekatan, atau cara kucing merawat sesamanya. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa makna di balik perilaku ini tidak selalu positif.

Penelitian yang dilakukan oleh Morgane J.R. Van Belle dan rekan-rekannya dari Universitas Ghent, Belgia, menemukan bahwa aksi menjilat kucing lain juga dapat menjadi bentuk agresi pasif. Dalam konteks tertentu, perilaku yang dikenal sebagai allogrooming itu bisa digunakan untuk mengganggu atau bahkan mengusir kucing lain tanpa harus terlibat dalam perkelahian.

Allogrooming Tidak Selalu Berarti Kasih Sayang

Allogrooming merupakan perilaku sosial ketika seekor hewan membersihkan atau merawat hewan lain. Perilaku ini tidak hanya ditemukan pada kucing, tetapi juga pada primata, burung, kuda, dan serangga.

Pada kucing, allogrooming biasanya terlihat melalui aktivitas saling menjilati bagian kepala, leher, atau telinga. Ketika dilakukan dalam suasana yang tenang, perilaku tersebut dapat menunjukkan hubungan yang akrab. Kucing yang terlibat juga cenderung meniru postur tubuh satu sama lain, seperti berpelukan atau duduk berdampingan sebelum dan sesudah proses saling menjilat.

Kondisi tersebut berbeda dari interaksi yang dilakukan untuk mengganggu. Menurut hasil penelitian Van Belle, saling menjilat tidak selalu memiliki arti yang sama. Maknanya sangat bergantung pada konteks interaksi, postur tubuh, serta respons kucing yang menjadi sasaran.

Berawal dari Pengamatan terhadap Kucing Peliharaan

Penelitian ini berawal dari pengalaman Van Belle saat mengamati dua kucing peliharaannya. Kedua kucing tersebut diketahui memperebutkan tempat yang nyaman di dekat jendela dan terkena sinar matahari.

Van Belle melihat pola perilaku yang dianggap tidak biasa. Saat salah satu kucing berbaring di atas selimut dekat jendela, kucing lainnya datang dan mulai menjilatinya dengan cara yang mengganggu. Akibatnya, kucing yang dijilati bangun dan meninggalkan tempat tersebut.

Pengamatan itu mendorong Van Belle dan timnya untuk mengetahui apakah perilaku serupa juga terjadi pada kucing lain. Mereka kemudian meneliti 53 rumah tangga di berbagai wilayah Eropa yang memiliki lebih dari satu kucing. Para pemilik diminta memperhatikan perilaku hewan peliharaan mereka dan mengirimkan rekaman video interaksi antarkucing kepada peneliti.

Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Applied Animal Behaviour Science pada Agustus 2026. Dari analisis video, peneliti menemukan adanya perbedaan antara grooming yang bersifat ramah dan grooming yang berpotensi memicu konflik.

Ciri-Ciri Jilatan yang Mengarah pada Agresi Pasif

Dalam interaksi yang dianggap tidak ramah, kucing yang menjilat biasanya berada dalam posisi berdiri. Sementara itu, kucing yang menjadi sasaran berada dalam posisi duduk. Perbedaan postur ini menjadi salah satu petunjuk bahwa interaksi tersebut tidak berlangsung secara seimbang.

Kucing yang dijilati juga memperlihatkan sejumlah tanda stres. Beberapa di antaranya adalah menatap, mengeong, memutar telinga, menjilati bibir sendiri, hingga mencakar. Respons tersebut menunjukkan bahwa jilatan yang diterima tidak selalu dianggap sebagai bentuk perawatan yang menyenangkan.

Dalam kondisi seperti itu, jilatan dapat menjadi cara kucing menunjukkan agresi tanpa harus langsung menyerang. Jika berhasil membuat kucing lain pergi, perilaku tersebut berfungsi sebagai cara yang relatif aman untuk merebut atau mempertahankan tempat tertentu.

Pentingnya Memahami Bahasa Tubuh Kucing

Temuan ini dinilai dapat membantu pemilik kucing dan dokter hewan memahami hubungan antarkucing secara lebih baik. Suzanne MacDonald, profesor psikologi dari Universitas York, Kanada, menyebut penelitian tersebut bermanfaat karena membantu pemilik membedakan momen ketika kucing sedang menunjukkan kedekatan dan situasi yang berpotensi berujung pada perkelahian.

Ahli perilaku hewan Kristyn Vitale dari Maueyes Cat Science & Education juga menilai bahwa pemahaman terhadap bahasa tubuh kucing memiliki peran penting. Dengan mengenali perilaku dan tanda-tanda yang muncul dalam setiap interaksi, pemilik dapat lebih memahami hubungan antarkucing, mengurangi konflik, serta mendukung kesejahteraan hewan peliharaan.

Kesimpulan

Perilaku kucing yang saling menjilati memang dapat menjadi tanda kasih sayang dan hubungan sosial yang baik. Namun, studi terbaru dari Universitas Ghent menunjukkan bahwa tindakan tersebut juga bisa menjadi bentuk agresi pasif, terutama jika disertai postur tubuh yang berbeda dan tanda-tanda stres dari kucing yang dijilati.

Karena itu, pemilik sebaiknya tidak hanya menilai perilaku kucing dari tampilan luarnya. Memperhatikan bahasa tubuh, respons, serta situasi yang melatarbelakangi interaksi akan membantu menentukan apakah kucing sedang menunjukkan kedekatan atau justru berusaha mengusir sesamanya. Pemahaman yang lebih baik terhadap perilaku ini diharapkan dapat membantu mengurangi konflik dan meningkatkan kesejahteraan kucing di masa mendatang.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment