Survei Reuters/Ipsos: Kepuasan Publik terhadap Donald Trump Turun ke Level Terendah

Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengalami penurunan tajam. Berdasarkan jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos, hanya 32 persen responden yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump. Angka tersebut menjadi tingkat kepuasan terendah sepanjang karier politiknya.

Penurunan dukungan tersebut terutama dipengaruhi kekecewaan masyarakat terhadap cara pemerintahan Trump menangani masalah biaya hidup serta konflik dengan Iran. Kedua isu itu dinilai menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Trump, terlebih menjelang pemilihan umum sela yang akan digelar pada 3 November mendatang.

Kepuasan terhadap Kebijakan Biaya Hidup Sangat Rendah

Survei Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa hanya 17 persen responden yang menyetujui kebijakan Trump dalam menangani persoalan biaya hidup. Rendahnya angka tersebut mencerminkan meluasnya ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Isu biaya hidup diperkirakan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arah pemilu sela. Dalam pemilihan tersebut, Partai Republik berupaya mempertahankan keunggulan tipisnya di Kongres Amerika Serikat.

Masalah biaya hidup juga mulai memengaruhi pandangan pendukung Trump dari Partai Republik. Untuk pertama kalinya, mayoritas pendukung partai tersebut, yakni 51 persen, menyatakan tidak setuju dengan cara Trump menangani persoalan biaya hidup.

Dukungan dari Partai Republik Ikut Menurun

Survei yang dilakukan secara daring terhadap 1.277 orang dewasa itu memperlihatkan adanya penurunan dukungan yang cukup signifikan di kalangan Partai Republik. Dalam kurun waktu satu pekan, tingkat dukungan dari kelompok tersebut turun dari 82 persen menjadi 73 persen.

Penurunan ini menjadi perhatian karena basis pendukung Partai Republik selama ini merupakan salah satu sumber dukungan utama bagi Trump. Munculnya ketidakpuasan di kalangan pendukung inti menunjukkan bahwa persoalan biaya hidup dan kebijakan luar negeri mulai memengaruhi penilaian terhadap kepemimpinan presiden.

Konflik Iran Tekan Dukungan terhadap Trump

Ketidakpuasan terhadap Trump semakin menguat sejak Amerika Serikat memulai perang dengan Iran pada Februari lalu. Konflik yang hingga kini masih berlarut-larut itu disebut memicu lonjakan tajam harga bahan bakar, sehingga menambah beban masyarakat.

Kenaikan harga bahan bakar turut memperburuk persepsi publik terhadap penanganan masalah biaya hidup. Kebijakan Trump dalam menghadapi konflik tersebut juga menjadi sorotan, terutama karena perang itu belum menunjukkan penyelesaian yang jelas.

Pekan lalu, Trump menyatakan bahwa perang dengan Iran sudah “mendekati akhir”. Ia juga membuka kemungkinan untuk kembali menempuh jalur diplomasi. Namun, pihak Iran belum memberikan konfirmasi mengenai apakah negosiasi damai telah kembali dimulai.

Penurunan dari Angka Kepuasan Saat Pelantikan

Sebelum hasil terbaru dirilis, tingkat kepuasan publik terhadap Trump berada di angka 35 persen. Dengan penurunan menjadi 32 persen, posisi Trump kini tercatat sebagai yang terendah dalam sejarah karier politiknya.

Trump kembali menjabat di Gedung Putih pada Januari 2025 dengan membawa dua janji utama, yaitu mengendalikan laju inflasi dan mengakhiri konflik militer di luar negeri. Ketika dilantik, tingkat kepuasan publik terhadap dirinya tercatat mencapai 47 persen.

Perbandingan antara angka kepuasan saat pelantikan dan hasil survei terbaru menunjukkan adanya penurunan dukungan yang cukup besar. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Trump untuk memenuhi janji politiknya sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat.

Survei Dilakukan pada September

Jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru dilakukan secara daring selama empat hari, yakni pada 16 hingga 20 September. Survei tersebut melibatkan 1.277 orang dewasa dengan margin kesalahan sebesar kurang lebih 3 poin persentase.

Kesimpulan

Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap Donald Trump turun menjadi 32 persen, angka terendah sepanjang karier politiknya. Kekecewaan terhadap penanganan biaya hidup dan konflik dengan Iran menjadi faktor utama yang mendorong penurunan tersebut.

Menurunnya dukungan dari kalangan Partai Republik juga menjadi sinyal penting bagi pemerintahan Trump. Dengan pemilu sela pada 3 November mendatang, isu biaya hidup berpotensi menjadi penentu penting bagi upaya Partai Republik mempertahankan keunggulan tipis di Kongres. Sementara itu, perkembangan konflik Iran dan kemungkinan kembalinya jalur diplomasi akan terus menjadi perhatian publik.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment