Menag Nasaruddin Umar Terkejut Polemik Pemilihan Rektor UINSA Ditolak Mahasiswa

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengaku terkejut dengan polemik pemilihan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Pemilihan rektor yang sebelumnya dinilai berjalan lancar justru memicu penolakan dari mahasiswa hingga berujung pada penyegelan sejumlah gedung kampus.

Nasaruddin menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VIII pada Selasa (22/9). Ia mengatakan, proses pemilihan rektor di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam selama ini berlangsung tanpa gejolak besar. Karena itu, munculnya aksi mahasiswa di UINSA menjadi perhatian khusus bagi Kementerian Agama.

Menag Terkejut Pemilihan Rektor UINSA Berujung Polemik

Nasaruddin menjelaskan bahwa pihaknya sebelumnya telah berkonsultasi dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mengenai mekanisme pemilihan rektor. Konsultasi tersebut dilakukan karena proses pemilihan rektor di bawah Kementerian Agama selama ini dianggap berjalan mulus.

Menurut dia, pihak Kemenristekdikti bahkan pernah mempelajari mekanisme yang diterapkan Kementerian Agama dalam pemilihan rektor. Namun, ia tidak menyangka mekanisme serupa justru menimbulkan persoalan serius di UINSA Surabaya.

Ia menilai polemik tersebut menjadi hal yang berbeda karena aturan dan mekanisme yang digunakan tidak berubah. Nasaruddin menyebut, peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemilihan rektor tetap sama seperti sebelumnya.

Kementerian Agama Akan Menelusuri Dugaan Penyimpangan

Menag menegaskan bahwa dirinya akan mencermati lebih lanjut persoalan yang terjadi antara mahasiswa dan pihak rektorat UINSA. Salah satu hal yang akan ditelusuri adalah kesesuaian proses pemilihan rektor dengan peraturan yang berlaku.

Nasaruddin ingin memastikan apakah terdapat penyimpangan dalam pelaksanaan pemilihan rektor atau tidak. Menurutnya, pemeriksaan terhadap aspek aturan menjadi penting untuk mengetahui penyebab munculnya penolakan mahasiswa di Surabaya.

Ia juga mengaku telah berkomunikasi dengan pihak terkait di Surabaya untuk memantau kondisi perkuliahan mahasiswa. Berdasarkan informasi yang diterimanya, sebagian mahasiswa masih mengikuti kegiatan belajar mengajar secara daring melalui Zoom.

Sementara itu, sebagian mahasiswa lainnya belum dapat mengikuti perkuliahan karena gedung perkuliahan dan sejumlah kantor masih ditutup serta disegel. Kondisi tersebut menjadi dampak langsung dari aksi mahasiswa yang berlangsung di lingkungan kampus.

Mahasiswa Segel Kampus dan Tuntut Rektor Mundur

Ratusan mahasiswa UINSA Surabaya menyegel kampus pada Senin (21/9). Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari demonstrasi yang telah berlangsung selama beberapa hari. Para mahasiswa menuntut Rektor UINSA Achmad Muzakki mundur dari jabatannya.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menduduki gedung rektorat. Mereka juga menyampaikan orasi dan melakukan pembakaran di halaman gedung. Sebelumnya, pihak kampus telah menemui mahasiswa untuk melakukan mediasi.

Namun, mediasi tersebut belum menghasilkan jawaban yang dapat memenuhi tuntutan massa. Aksi mahasiswa diketahui telah berlangsung sejak Rabu (16/9), sebelum akhirnya berujung pada penyegelan kampus.

Delapan Tuntutan Mahasiswa

Mahasiswa membawa delapan tuntutan utama dalam rangkaian aksi tersebut. Salah satu tuntutan paling utama adalah desakan agar rektor dicopot dari jabatannya.

Selain itu, mahasiswa meminta adanya transparansi informasi publik, termasuk mengenai pembentukan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID). Mereka juga menuntut pengusutan kasus Kopertais serta evaluasi terhadap fasilitas bagi mahasiswa baru.

Sejumlah kebijakan kampus turut menjadi sorotan. Mahasiswa memprotes penentuan Uang Kuliah Tunggal (UKT), kapasitas penerimaan mahasiswa, serta aturan mengenai jam malam di lingkungan kampus.

Perkuliahan Masih Berlangsung secara Daring

Di tengah berlangsungnya aksi dan penyegelan gedung, kegiatan akademik mahasiswa belum sepenuhnya berhenti. Sebagian mahasiswa tetap mengikuti perkuliahan secara daring menggunakan Zoom.

Namun, kondisi tersebut belum dapat dirasakan oleh seluruh mahasiswa. Sebagian lainnya masih tidak mengikuti kegiatan perkuliahan karena gedung yang digunakan untuk aktivitas kampus masih ditutup dan disegel.

Kesimpulan

Polemik pemilihan Rektor UINSA Surabaya menjadi perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar karena proses yang sebelumnya berjalan lancar justru memicu penolakan mahasiswa. Kementerian Agama akan mencermati proses tersebut, terutama dari sisi aturan, untuk memastikan ada atau tidaknya penyimpangan.

Di sisi lain, mahasiswa masih menyuarakan sejumlah tuntutan, mulai dari desakan pencopotan rektor hingga evaluasi berbagai kebijakan kampus. Ke depan, penyelesaian polemik ini diharapkan dapat memperjelas persoalan pemilihan rektor sekaligus memastikan kegiatan perkuliahan mahasiswa tetap berjalan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment