Militer Iran Balas Ancaman Trump: Siap Lancarkan Serangan Lebih Melumpuhkan ke AS dan Israel
Militer Iran menanggapi ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan negaranya dapat memusnahkan Iran apabila tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Teheran menilai pernyataan tersebut mencerminkan jalan buntu strategis yang sedang dihadapi Washington dalam konflik dengan Iran.
Pernyataan itu disampaikan Staf Umum Iran dan disiarkan oleh kantor berita Mehr. Dalam keterangannya, militer Iran menuduh Trump memanfaatkan podium Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membenarkan tindakan yang mereka sebut sebagai agresi terhadap bangsa Iran.
Di tengah ancaman terbuka tersebut, Iran menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata mereka tetap siaga. Militer Iran bahkan menyatakan siap melancarkan serangan terhadap Amerika Serikat dan Israel dengan kekuatan yang lebih besar, lebih melumpuhkan, serta sulit diprediksi.
Iran Sebut Ancaman Trump sebagai Tanda Keputusasaan
Dalam pernyataannya, Staf Umum Iran menyebut kata-kata Trump menunjukkan bahwa Amerika Serikat berada dalam situasi strategis yang buntu. Iran menilai ancaman berulang dari presiden AS itu tidak dapat dianggap sebagai bukti kekuatan.
“Kata-kata semacam itu menunjukkan jalan buntu strategis yang dihadapi Amerika dalam agresinya terhadap bangsa Iran,” demikian bunyi pernyataan Staf Umum Iran yang dikutip dari Mehr.
Militer Iran juga menyatakan bahwa ancaman tersebut justru memperlihatkan apa yang mereka sebut sebagai keputusasaan strategis Amerika Serikat. Penilaian itu disampaikan setelah Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras mengenai kemungkinan tindakan militer terhadap Iran.
Iran kemudian menegaskan kesiapan militernya untuk merespons ancaman tersebut. Menurut pernyataan yang sama, serangan terhadap AS dan Israel dapat dilakukan dengan cara yang lebih keras, lebih melumpuhkan, dan lebih sulit diprediksi.
Trump Ancam Memusnahkan Iran
Tanggapan militer Iran muncul setelah Trump menyampaikan ancaman dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB pada Selasa (22/9). Dalam pidato tersebut, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat menghancurkan Iran dalam waktu singkat apabila tidak ada kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Trump mengatakan dirinya harus mengambil keputusan besar mengenai arah konflik tersebut. Ia mempertanyakan apakah kesepakatan dengan Iran dapat dicapai sehingga negara itu bisa membangun kembali dan menciptakan negara yang lebih besar daripada sebelumnya.
“Saya harus membuat keputusan besar,” kata Trump dalam pidatonya, seperti dikutip Reuters.
Trump kemudian menyampaikan pilihan lain yang menurutnya dapat diambil apabila kesepakatan tidak tercapai. Ia mempertanyakan apakah Amerika Serikat harus memusnahkan Republik Islam dengan cepat agar Iran tidak kembali membunuh dan menghancurkan rakyat maupun negara lain.
“Atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang dan negara lagi?” ujar Trump.
Perundingan AS-Iran Kembali Dimulai
Pernyataan Trump disampaikan ketika para negosiator Amerika Serikat dan Iran kembali memulai perundingan untuk menyelesaikan konflik. Namun, pada saat yang sama, hubungan kedua negara masih diwarnai oleh ancaman terbuka dan pernyataan keras dari masing-masing pihak.
Konflik tersebut berlangsung setelah Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, menggempur Iran secara besar-besaran pada akhir Februari. Sejak serangan itu, AS, Israel, dan Iran disebut terus terlibat dalam aksi saling gempur hingga saat ini.
Situasi ini membuat proses perundingan berada dalam tekanan. Di satu sisi, para negosiator berupaya mencari kesepakatan untuk mengakhiri perang. Di sisi lain, pernyataan Trump dan respons militer Iran menunjukkan bahwa ancaman eskalasi masih menjadi bagian penting dalam perkembangan konflik.
Kesimpulan
Militer Iran membalas ancaman Trump dengan menilai pernyataan tersebut sebagai tanda keputusasaan strategis Amerika Serikat, bukan kekuatan. Teheran juga menegaskan kesiapan Angkatan Bersenjata untuk melancarkan serangan yang lebih keras dan sulit diprediksi terhadap AS serta Israel.
Sementara itu, Trump tetap membuka kemungkinan penghancuran Iran apabila tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Dengan perundingan AS-Iran yang kembali berlangsung, perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak meredakan ancaman dan mencapai kesepakatan. Namun, selama pernyataan keras serta aksi saling gempur masih berlanjut, ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel diperkirakan tetap menjadi perhatian utama.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment