Serangan Drone Rusia Hantam Mal di Kryvyi Rig, 16 Orang Tewas

Serangan drone Rusia menghantam sebuah pusat perbelanjaan atau mal di Kryvyi Rig, Ukraina timur, pada Jumat (21/8). Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai 130 lainnya, termasuk 23 anak-anak. Insiden ini kembali menyoroti meningkatnya intensitas serangan Rusia terhadap sejumlah kota di Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.

Kryvyi Rig merupakan kota kelahiran Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Kota industri yang berada sekitar 60 kilometer dari garis depan pertempuran itu telah berulang kali menjadi sasaran serangan Rusia selama perang berlangsung.

Serangan Drone Menewaskan 16 Orang

Layanan darurat Ukraina awalnya melaporkan 15 orang meninggal dunia dan 130 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan terhadap pusat perbelanjaan tersebut. Jumlah korban tewas kemudian bertambah menjadi 16 orang setelah Kepala Administrasi Militer Wilayah Dnipropetrovsk Oleksandr Ganzha memberikan konfirmasi terbaru.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan petugas penyelamat bergegas memberikan pertolongan kepada para korban di jalanan sekitar lokasi. Asap tebal tampak membubung dari bangunan yang terdampak serangan.

Sekitar 30 menit setelah ledakan pertama, sebuah drone lain kembali menghantam bagian atap gedung. Presiden Zelensky menyebut serangan susulan tersebut sengaja diarahkan kepada petugas tanggap darurat yang sedang menangani korban dan situasi di lokasi.

Korban Jiwa dalam Serangan Terpisah

Menteri Dalam Negeri Ukraina Ivan Vygivsky juga menyampaikan bahwa empat orang lainnya tewas dalam serangan terpisah di wilayah Mykolaiv, Ukraina selatan. Tiga di antaranya merupakan anak-anak.

Zelensky mengecam keras serangan yang terjadi di Kryvyi Rig. Dalam sebuah video yang diunggah di platform X, ia menyebut tindakan Rusia sebagai kekejaman yang tidak dapat dimaafkan dan menegaskan bahwa Ukraina akan memberikan balasan.

Kecaman Ukraina dan Uni Eropa

Zelensky kemudian meminta para sekutu Ukraina memberikan respons yang lebih tegas terhadap Rusia. Menurutnya, perdamaian hanya dapat terwujud apabila negara agresor menghadapi tekanan nyata dan dimintai pertanggungjawaban.

Presiden Ukraina itu juga mengungkapkan telah berbicara melalui telepon dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Jumat. Dalam pembicaraan tersebut, Zelensky menyampaikan perkembangan terbaru mengenai serangan Rusia serta jatuhnya korban sipil.

Diplomat tertinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, turut mengecam serangan terhadap pusat perbelanjaan di Kryvyi Rig. Ia menyebut insiden tersebut sebagai “teror yang terencana” dan mengancam akan memberlakukan daftar sanksi paling berat terhadap Rusia.

Melalui unggahan di X, Kallas menilai serangan itu menunjukkan kekejaman dan sikap tanpa nurani dalam perang yang dilancarkan Moskow. Ia juga menyatakan bahwa Rusia dinilai berupaya membuat kota-kota Ukraina tidak lagi layak dihuni.

Sekutu Ukraina Siapkan Pertemuan di Kyiv

Di tengah meningkatnya serangan, para sekutu Ukraina dijadwalkan bertemu pada Senin untuk menegaskan kembali dukungan mereka bagi Kyiv. Pertemuan tersebut akan berlangsung bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Ukraina.

Koalisi negara pendukung Ukraina itu akan dipimpin bersama oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang mengikuti pertemuan melalui panggilan video, Kanselir Jerman Friedrich Merz, serta Perdana Menteri Inggris yang baru, Andy Burnham.

Menurut pejabat Uni Eropa, sekitar 10 pemimpin negara, termasuk Ketua Dewan Eropa Antonio Costa, akan hadir langsung di Kyiv. Pertemuan ini diharapkan menjadi kesempatan bagi negara-negara pendukung untuk membahas langkah lanjutan dalam membantu Ukraina menghadapi serangan Rusia.

Konflik Ukraina-Rusia Belum Menemukan Titik Temu

Kyiv terus meminta tambahan bantuan dari negara-negara sekutunya karena intensitas serangan Rusia semakin meningkat. Pasukan Ukraina disebut menghadapi kesulitan, terutama dalam menghadapi rentetan rudal balistik yang diluncurkan ke wilayah mereka.

Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina juga meningkatkan serangan balasan ke wilayah Rusia. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan Moskow agar bersedia kembali ke meja perundingan dan mengakhiri konflik yang disebut sebagai perang paling berdarah di Eropa sejak Perang Dunia II.

Namun, berbagai upaya diplomatik sejauh ini belum menghasilkan kesepakatan. Rusia masih menuntut konsesi wilayah dan politik dalam jumlah besar dari Kyiv. Zelensky menolak tuntutan tersebut karena menilainya sebagai bentuk menyerah yang dapat membuat Ukraina semakin rentan terhadap serangan Rusia di masa depan.

Kesimpulan

Serangan drone Rusia terhadap mal di Kryvyi Rig menambah panjang daftar korban sipil dalam perang Ukraina. Dengan 16 orang tewas dan 130 lainnya terluka, termasuk anak-anak, insiden ini memicu kecaman dari Ukraina, Uni Eropa, serta seruan agar komunitas internasional mengambil tindakan lebih tegas.

Pertemuan para sekutu Ukraina di Kyiv akan menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan dukungan lanjutan bagi negara tersebut. Namun, selama tuntutan politik dan wilayah antara Rusia serta Ukraina belum menemukan titik temu, ancaman serangan dan kegagalan diplomasi masih membayangi upaya menuju perdamaian.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment