Mengenal Dampak Asap Karhutla bagi Paru-Paru, Jantung, dan Kesehatan Tubuh
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu kenyamanan karena membuat udara pengap, jarak pandang menurun, dan bau menyengat. Di balik asap yang terlihat, terdapat berbagai partikel serta zat kimia yang dapat masuk ke dalam tubuh saat seseorang bernapas. Semakin lama dan semakin tinggi paparan terjadi, semakin besar pula dampaknya terhadap saluran pernapasan dan organ tubuh lainnya.
Keluhan seperti tenggorokan gatal, mata perih, batuk, hingga sesak napas kerap muncul ketika kabut asap menyelimuti suatu wilayah. Namun, dampak asap karhutla tidak berhenti pada gejala yang dirasakan dalam waktu singkat. Partikel berukuran sangat kecil dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, memicu peradangan, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk pada jantung.
Kandungan Asap Karhutla yang Perlu Diwaspadai
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), asap kebakaran merupakan campuran berbagai polutan. Kandungannya antara lain PM2.5, PM10, partikel ultrahalus, karbon monoksida, ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, serta senyawa kimia seperti polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) dan sejumlah logam beracun.
Salah satu komponen yang paling menjadi perhatian adalah PM2.5. Partikel ini memiliki ukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. WHO mencatat sekitar 90 persen massa partikel yang dilepaskan dari kebakaran berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Karena ukurannya, PM2.5 dapat ikut terhirup dan masuk hingga ke bagian dalam paru-paru. Partikel tersebut kemudian berpotensi memicu iritasi dan peradangan, yang membuat saluran pernapasan menjadi lebih sensitif.
Bagaimana Asap Mengganggu Saluran Pernapasan?
Ketika PM2.5 dan polutan lain masuk melalui pernapasan, saluran napas dapat mengalami iritasi. Kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti batuk, tenggorokan gatal, sesak napas, dan mengi atau wheezing.
Paparan asap juga dapat memperburuk kondisi orang yang telah memiliki asma atau penyakit paru lainnya. Saluran pernapasan yang menjadi lebih sensitif dapat merespons paparan polutan dengan gejala yang lebih berat.
Asap Tidak Secara Langsung Menyebabkan ISPA
Asap karhutla tidak secara langsung membuat seseorang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). ISPA merupakan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus atau bakteri. Namun, paparan asap dapat mengganggu kondisi saluran pernapasan sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap gangguan dan infeksi.
Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut: karhutla menghasilkan asap yang membawa PM2.5 dan polutan lain. Polutan tersebut kemudian terhirup, mengiritasi serta memicu peradangan pada saluran napas. Akibatnya, pertahanan saluran pernapasan terganggu dan risiko gangguan maupun infeksi pernapasan meningkat.
Dampak Paparan Asap terhadap Jantung
Selain paru-paru, jantung juga dapat terdampak oleh paparan kabut asap dalam jangka panjang. Berdasarkan informasi dari Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat, peradangan yang awalnya terjadi di paru-paru dapat menghasilkan mediator inflamasi yang masuk ke dalam sirkulasi sistemik.
Partikel juga dapat berpindah dari paru-paru ke aliran darah. EPA mengidentifikasi tiga jalur utama yang menghubungkan paparan partikel dengan gangguan kardiovaskular, yakni peradangan sistemik, masuknya partikel ke sirkulasi darah, dan gangguan pada sistem saraf otonom.
Peradangan serta stres oksidatif dapat mengganggu fungsi endotel, yaitu lapisan yang melapisi bagian dalam pembuluh darah. Akibatnya, pembuluh darah dapat mengalami kesulitan dalam mengatur pelebaran dan penyempitan. Gangguan sistem saraf otonom juga berpotensi meningkatkan denyut jantung atau mengganggu regulasi tekanan darah.
Pada orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, paparan partikel kecil dari kabut asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada.
Risiko Karhutla Berdasarkan Penelitian di Indonesia
Dampak asap karhutla tidak hanya berdasarkan penelitian dari negara lain. Kebakaran lahan gambut di Indonesia juga telah dikaji karena menghasilkan paparan polusi yang dapat berdampak luas.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health mengkaji dampak PM2.5 dari kebakaran gambut di Sumatra dan Kalimantan pada 2022. Dengan menggunakan pemodelan berbasis data satelit, kualitas udara, dan data kesehatan, peneliti memperkirakan kebakaran gambut berkaitan dengan sekitar 4.390 tambahan rawat inap akibat penyakit pernapasan setiap tahun.
Studi yang sama memperkirakan sekitar 635 ribu kasus serangan asma berat pada anak. Penelitian tersebut juga memperkirakan sekitar 33.100 kematian dini pada orang dewasa dan 2.900 kematian dini pada bayi setiap tahun di Sumatra dan Kalimantan.
Angka tersebut merupakan hasil pemodelan penelitian, bukan jumlah kematian yang secara langsung tercatat sebagai korban karhutla. Meski demikian, temuan itu menunjukkan besarnya potensi dampak kesehatan akibat polusi dari kebakaran gambut.
Asap Dapat Menyebar ke Wilayah yang Jauh
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran. Asap dapat terbawa angin dan bergerak menuju wilayah lain. WHO menyebut asap kebakaran mampu melintasi jarak yang cukup jauh, sehingga masyarakat yang tidak tinggal dekat titik api tetap dapat terkena dampaknya.
Ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit paru atau jantung menjadi kelompok yang perlu lebih berhati-hati. Kondisi tersebut menegaskan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga masalah kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
Asap karhutla mengandung berbagai polutan, terutama PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu iritasi serta peradangan. Paparan tersebut dapat menyebabkan batuk, tenggorokan gatal, sesak napas, dan mengi, sekaligus memperburuk penyakit paru yang telah dimiliki seseorang.
Dalam jangka lebih panjang, partikel dari kabut asap juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular melalui peradangan, gangguan pembuluh darah, dan perubahan fungsi sistem saraf otonom. Dengan asap yang dapat menyebar lintas wilayah, pengendalian karhutla dan pemantauan kualitas udara menjadi hal penting untuk mengurangi risiko kesehatan ke depan, terutama bagi kelompok rentan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment