Rupiah Melemah ke Rp17.721 per Dolar AS di Tengah Sentimen Risk-Off Global

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (24/8) sore. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.721 per dolar AS, turun 27 poin atau 0,15 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah berlangsung ketika pergerakan mata uang Asia menunjukkan arah yang beragam terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang kawasan tercatat mengalami depresiasi, sementara beberapa lainnya mampu menguat atau bergerak stabil. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan yang tidak merata di pasar valuta asing Asia pada perdagangan tersebut.

Rupiah Melemah 27 Poin

Pada penutupan perdagangan Senin sore, rupiah berada di level Rp17.721 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan pelemahan sebesar 27 poin atau 0,15 persen dari perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan kembali dolar AS. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam berlangsung di tengah sentimen risk-off global, yaitu kondisi ketika pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati akibat meningkatnya ketidakpastian.

Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi

Sejumlah mata uang Asia tercatat melemah terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,04 persen, sedangkan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,09 persen. Dolar Singapura juga melemah 0,09 persen.

Tekanan serupa terjadi pada yen Jepang yang turun 0,18 persen. Sementara itu, won Korea Selatan terdepresiasi tipis sebesar 0,01 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sebagian mata uang regional berada di bawah tekanan dolar AS pada perdagangan Senin.

Dolar Hong Kong Menguat, Peso Filipina Stabil

Di tengah pelemahan sejumlah mata uang Asia, dolar Hong Kong justru menguat 0,04 persen terhadap dolar AS. Adapun peso Filipina bergerak stabil atau tidak mengalami perubahan berarti pada perdagangan tersebut.

Variasi pergerakan mata uang Asia menjadi salah satu gambaran kondisi pasar valuta asing regional. Sebagian mata uang mengalami koreksi, sedangkan lainnya mampu bertahan atau mencatat penguatan tipis.

Mayoritas Mata Uang Negara Maju Tertekan

Tekanan terhadap dolar AS tidak hanya terlihat pada mata uang Asia. Mayoritas mata uang utama negara maju juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

Euro Eropa turun 0,11 persen, sedangkan poundsterling Inggris melemah 0,08 persen. Dolar Australia terkoreksi 0,12 persen. Pelemahan terbesar dalam daftar mata uang negara maju terjadi pada dolar Kanada yang turun 0,57 persen.

Franc Swiss juga tercatat melemah 0,15 persen terhadap dolar AS. Data tersebut memperlihatkan bahwa penguatan dolar AS berlangsung di tengah tekanan terhadap sejumlah mata uang utama global.

Sentimen Risk-Off Menekan Rupiah

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring dengan penguatan dolar AS di tengah sentimen risk-off global.

Menurut Lukman, rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang mengalami rebound. Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian mengenai dampak “Economic D-Day” yang diserukan AS.

Ia menjelaskan, situasi tersebut berpotensi mendorong pemberian sanksi terhadap negara pihak ketiga, bank asing, maupun perusahaan komersial yang memberikan dukungan ekonomi vital kepada Teheran. Ketidakpastian mengenai kemungkinan dampak kebijakan tersebut kemudian turut memengaruhi sentimen di pasar keuangan global.

Kesimpulan

Rupiah ditutup melemah 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.721 per dolar AS pada perdagangan Senin (24/8). Pelemahan ini terjadi ketika dolar AS kembali menguat di tengah sentimen risk-off global dan meningkatnya ketidakpastian terkait dampak “Economic D-Day” yang diserukan AS.

Pergerakan mata uang Asia dan negara maju juga cenderung beragam, dengan mayoritas berada di bawah tekanan terhadap dolar AS. Ke depan, arah pergerakan rupiah dalam konteks perdagangan tersebut masih berkaitan dengan dinamika penguatan dolar AS serta perkembangan sentimen risiko global.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment