Utang Luar Negeri Indonesia Naik 4,4 Persen Jadi US$453,4 Miliar pada Kuartal II 2026

Utang luar negeri (ULN) Indonesia meningkat pada kuartal II 2026. Bank Indonesia mencatat posisi ULN mencapai US$453,4 miliar atau tumbuh 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik yang mencakup pemerintah dan bank sentral, sementara pertumbuhan ULN swasta masih mengalami kontraksi.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan ULN tetap menjadi perhatian pemerintah dan Bank Indonesia. Koordinasi dalam pemantauan utang terus diperkuat untuk memastikan pengelolaannya tetap sehat serta mampu mendukung pembiayaan pembangunan tanpa meningkatkan risiko terhadap stabilitas perekonomian nasional.

ULN Pemerintah Tumbuh 2,9 Persen

Ramdan merinci, ULN pemerintah pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$216,3 miliar. Nilai tersebut meningkat 2,9 persen secara tahunan. Pertumbuhan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN).

Menurut Ramdan, aliran masuk ke SBN mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang dinilai tetap terjaga. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan ULN publik pada periode laporan.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah digunakan untuk mendukung sejumlah sektor strategis. Porsi terbesar dialokasikan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial dengan kontribusi 22 persen dari total ULN pemerintah.

Selain itu, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk sektor Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib dengan pangsa 20,6 persen. Sektor Jasa Pendidikan menyumbang 16,2 persen, diikuti Konstruksi sebesar 11,5 persen, serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,5 persen.

ULN Swasta Masih Mengalami Kontraksi

Berbeda dengan ULN publik, ULN swasta pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$194,6 miliar. Angka tersebut mengalami kontraksi 0,6 persen secara tahunan. Penurunan terutama didorong oleh ULN lembaga keuangan atau financial corporations yang terkontraksi 3,4 persen secara yoy.

Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut memiliki pangsa gabungan sebesar 79,4 persen dari total ULN swasta.

Struktur ULN swasta juga masih didominasi oleh utang berjangka panjang. Porsi ULN jangka panjang tercatat mencapai 75,7 persen terhadap total ULN swasta. Komposisi tersebut menjadi bagian dari struktur pengelolaan ULN yang terus dipantau oleh otoritas.

Rasio ULN terhadap PDB Tercatat 30,6 Persen

Bank Indonesia menilai struktur ULN Indonesia tetap berada dalam kondisi sehat. Penilaian tersebut didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang luar negeri.

Ramdan menyebutkan, kondisi tersebut tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 30,6 persen. Selain itu, ULN Indonesia masih didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa 82,1 persen dari total ULN.

Dominasi utang jangka panjang tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam melihat struktur ULN secara keseluruhan. Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ULN agar tetap terjaga dan dikelola secara hati-hati.

Koordinasi Pemerintah dan BI Terus Diperkuat

Bank Indonesia bersama pemerintah memastikan koordinasi dalam pemantauan ULN akan terus diperkuat. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kesehatan struktur utang serta mengantisipasi risiko yang berpotensi memengaruhi stabilitas perekonomian.

Indonesia juga akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, pengelolaan ULN diarahkan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan upaya meminimalkan risiko.

Kesimpulan

ULN Indonesia pada kuartal II 2026 meningkat 4,4 persen secara tahunan menjadi US$453,4 miliar. Kenaikan tersebut terutama berasal dari peningkatan ULN publik, termasuk ULN pemerintah yang mencapai US$216,3 miliar atau tumbuh 2,9 persen. Di sisi lain, ULN swasta tercatat US$194,6 miliar dan mengalami kontraksi 0,6 persen.

Meski mengalami peningkatan, struktur ULN dinilai tetap sehat dengan rasio terhadap PDB sebesar 30,6 persen dan dominasi utang jangka panjang sebesar 82,1 persen. Ke depan, pemerintah dan Bank Indonesia akan melanjutkan koordinasi serta pemantauan agar ULN dapat mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, dengan tetap menjaga stabilitas nasional.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment