Dampak Makan Bergizi Gratis di SMPN 23 Surabaya: Meringankan Beban Ibu dan Meningkatkan Semangat Belajar Siswa

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa perubahan bagi keluarga dan siswa di SMP Negeri 23 Surabaya. Bagi orang tua, program ini membantu meringankan beban menyiapkan bekal sekaligus mengurangi pengeluaran harian. Sementara bagi siswa, MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan makanan, tetapi juga mendorong semangat hadir ke sekolah, meningkatkan fokus belajar, dan mempererat interaksi antarteman.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Nina Martina Iswandari, ibu rumah tangga berusia 45 tahun yang tinggal di Kelurahan Kali Rungkut, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Setiap pagi, jauh sebelum azan subuh berkumandang, Nina telah berada di dapur untuk menyiapkan makanan bagi tiga anaknya yang bersekolah.

MBG Meringankan Rutinitas Pagi Nina

Selama bertahun-tahun, Nina terbiasa bangun sebelum subuh. Kompor, wajan, dan sutil menjadi bagian dari rutinitas paginya. Ia harus menyiapkan bekal untuk tiga anak yang memiliki jadwal serta selera makanan berbeda-beda.

Rutinitas tersebut tidak selalu mudah dijalani. Nina harus berpacu dengan waktu agar ketiga anaknya dapat tiba di sekolah pada pukul 06.00 WIB. Dalam kondisi tertentu, pekerjaan di dapur bisa membuatnya kewalahan, terlebih ketika rasa lelah datang dan waktu persiapan terasa semakin sempit.

“Saya biasanya bangun tidur dari sebelum subuh ya. Soalnya kan anak saya tiga, dan saya harus menyiapkan bekal untuk mereka,” kata Nina.

Salah satu anak Nina adalah Aliyah Putri Premono, siswa kelas IX SMPN 23 Surabaya. Dengan adanya MBG, sebagian beban Nina dalam menyiapkan makanan untuk anak-anaknya menjadi lebih ringan. Program tersebut tidak sepenuhnya menggantikan perannya sebagai ibu, tetapi membantu mengurangi pekerjaan yang selama ini harus ia lakukan sendiri setiap pagi.

Pengeluaran Keluarga Ikut Berkurang

Selain menghemat waktu dan tenaga, MBG juga berdampak pada pengeluaran keluarga. Nina menyebut, adanya buah dan susu dalam makanan yang diterima anak-anaknya membuat kebutuhan belanja harian sedikit berkurang.

“Pengeluaran juga otomatis agak sedikit berkurang karena buahnya sudah ada, susunya sudah ada,” ujar Nina.

Program ini juga membebaskan Nina dari keharusan memikirkan menu yang dapat diterima oleh tiga anak sekaligus. Sebelumnya, ia perlu menyesuaikan makanan dengan selera masing-masing anak. Bagi seorang ibu yang harus menyiapkan keperluan sekolah sejak pagi, persoalan memilih menu bukanlah hal sederhana.

Guru Melihat Perubahan pada Siswa

Dampak MBG juga diamati oleh Febrina Handayani, guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 23 Surabaya yang sekaligus menjadi koordinator program tersebut. Dari sudut pandangnya, terdapat perubahan positif dalam kebiasaan siswa setelah MBG hadir di sekolah.

Sebelum program berjalan, banyak siswa lebih sering membeli jajanan praktis di kantin. Pilihan makanan tersebut dinilai belum tentu memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi siswa. Kehadiran MBG kemudian memberikan alternatif makanan yang dapat dikonsumsi siswa selama berada di sekolah.

“Kalau saya lihat memang sebelum MBG itu memang anak-anak lebih sering ke kantin,” kata Febrina.

Febrina juga menilai program ini membantu siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Orang tua yang hanya mampu memberikan uang saku sekitar Rp5.000, misalnya, dapat terbantu karena anak mereka memperoleh makanan secara gratis di sekolah.

Menurut pengamatannya, terdapat dua hingga tiga siswa di SMPN 23 Surabaya yang menjadikan MBG sebagai salah satu alasan utama untuk tetap datang ke sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa program tersebut memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar pemenuhan kebutuhan makanan.

Perut Terisi, Fokus Belajar Meningkat

Perubahan lain yang dirasakan Febrina terlihat dari semangat dan fokus siswa ketika mengikuti pembelajaran. Siswa yang telah makan dinilai lebih siap menerima pelajaran. Kondisi tersebut juga berdampak pada suasana kelas yang menjadi lebih komunikatif dan kompak.

“Kalau perutnya sudah terisi, semangatnya untuk menerima ilmu di kelas juga lebih bertambah. Kelas ini juga ada komunikasi, kompak,” ujar Febrina.

Interaksi sosial antarsiswa pun ikut berkembang. Salah satunya terlihat ketika siswa berbagi makanan dengan teman yang tidak menghabiskan porsinya. Bagi Febrina, kebiasaan tersebut memperlihatkan bahwa MBG tidak hanya berhubungan dengan gizi, tetapi juga membangun kebersamaan di lingkungan sekolah.

MBG Dipandang sebagai Investasi Generasi Muda

Febrina memandang MBG sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda Indonesia. Menurutnya, pemenuhan gizi dan nutrisi sejak dini dapat mendukung ketahanan fisik serta kemampuan kognitif anak-anak dalam menghadapi masa depan.

Ia mengaitkan keberlanjutan program ini dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Dalam pandangannya, mempertahankan kemerdekaan pada masa kini tidak hanya dilakukan melalui simbol atau perayaan tahunan, tetapi juga dengan menyiapkan generasi penerus yang sehat, berdaya tahan, dan mampu belajar dengan baik.

Karena itu, Febrina menilai MBG layak untuk dilanjutkan. Tidak semua wali murid memiliki waktu, kesempatan, maupun kemampuan finansial untuk menyiapkan bekal bagi anak setiap hari. Meski demikian, ia berharap penyaluran program dapat dilakukan secara merata, termasuk ke sekolah-sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.

Kesejahteraan Guru Juga Perlu Diperhatikan

Di tengah pembahasan mengenai manfaat MBG bagi siswa, Febrina turut menyampaikan harapan terkait kesejahteraan guru. Ia menilai perhatian terhadap guru sama pentingnya dengan pemenuhan gizi siswa.

Guru mendampingi siswa sejak pagi hingga sore dan memiliki peran penting dalam membentuk kualitas pendidikan. Karena itu, program untuk siswa dan perhatian terhadap kesejahteraan guru dinilai perlu berjalan beriringan.

Kesimpulan

Pengalaman Nina Martina Iswandari menunjukkan bahwa MBG dapat meringankan rutinitas keluarga, mengurangi sebagian pengeluaran, dan membantu orang tua yang harus menyiapkan kebutuhan anak sejak pagi. Dari sisi sekolah, Febrina Handayani melihat adanya perubahan pada kebiasaan siswa, mulai dari berkurangnya ketergantungan pada jajanan praktis hingga meningkatnya semangat dan fokus belajar.

MBG pada akhirnya tidak hanya hadir sebagai program makanan gratis. Di dalamnya terdapat harapan agar setiap anak dapat datang ke sekolah, belajar, dan memiliki kesempatan untuk meraih masa depan. Ke depan, keberlanjutan serta pemerataan program, terutama bagi sekolah di wilayah 3T, menjadi hal penting agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Pada saat yang sama, kesejahteraan guru juga perlu mendapat perhatian sebagai bagian dari upaya membangun pendidikan yang lebih baik.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment