Harga Beras Naik hingga Rp200 per Kg, Pemerintah Tambah Pasokan SPHP 1 Juta Ton

JAKARTA – Harga beras di pasar mulai mengalami kenaikan sebesar Rp100 hingga Rp200 per kilogram. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi oleh menurunnya produksi padi petani akibat musim kemarau kering atau paceklik.

Menurut Zulkifli Hasan, kondisi produksi pada tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kemarau yang berlangsung lebih kering membuat banyak sawah tidak lagi menghasilkan padi. Akibatnya, pasokan beras dari petani berkurang, sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan.

Untuk mengatasi kenaikan harga tersebut, pemerintah memutuskan menambah alokasi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP sebanyak 1 juta ton. Pasokan beras bersubsidi itu akan disalurkan ke pasar pada periode Oktober hingga Desember 2026.

Produksi Padi Menurun akibat Musim Kemarau

Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, menjelaskan bahwa penurunan produksi menjadi faktor utama kenaikan harga beras. Ia menyebut hampir tidak ada sawah yang masih berproduksi pada periode paceklik atau yang juga disebut musim gadu.

“Tahun ini kering, hampir tidak ada lagi sawah yang petani yang produksi, yang kita sebut paceklik, atau gadu. Jadi enggak ada produksi. Oleh karena itu, karena supply and demand, ya, tidak ada produksi, pasti harganya naik. Ada naik Rp100, ada Rp200,” kata Zulhas dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9).

Ia membandingkan situasi tersebut dengan kondisi pada tahun sebelumnya ketika Indonesia mengalami kemarau basah. Pada saat itu, hujan masih turun hingga Desember sehingga petani tetap bisa menanam padi. Ketersediaan beras dari produksi petani pun masih mencukupi untuk memenuhi pasokan di pasar.

Pemerintah Tambah Alokasi Beras SPHP

Minimnya produksi dan potensi berlanjutnya kenaikan harga mendorong pemerintah mengambil langkah untuk memperkuat pasokan beras. Melalui program SPHP, pemerintah akan menambah alokasi beras medium bersubsidi sebesar 1 juta ton.

Tambahan pasokan tersebut diharapkan mampu menekan harga beras yang mulai bergerak naik. Beras SPHP medium ditargetkan dapat dijual di pasar dengan harga sekitar Rp12 ribu hingga Rp12.500 per kilogram.

“Untuk merespons itu, maka kami baru saja rapat memutuskan kita tambah suplainya untuk yang beras subsidi yang kita kenal dengan SPHP. Kita tambah lagi tadi 1 juta, 1 juta SPHP medium,” ujar Zulhas.

Bulog Sebelumnya Usulkan Tambahan 400 Ribu Ton

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan tambahan alokasi yang diputuskan pemerintah lebih besar dibandingkan usulan awal Bulog. Dalam rapat bersama Zulhas, Bulog sebelumnya mengajukan tambahan sekitar 400 ribu ton.

Usulan tersebut disampaikan karena stok beras SPHP yang tersedia di gudang-gudang Bulog hanya tersisa sekitar 100 ribu ton. Stok itu dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun, termasuk pada September, Oktober, November, dan Desember.

Rizal menjelaskan kebutuhan beras umumnya meningkat menjelang hari besar keagamaan pada akhir tahun. Namun, pemerintah memutuskan memberikan dukungan yang lebih besar dengan menetapkan tambahan alokasi hingga 1 juta ton kepada Bulog.

“Malah didukung oleh pemerintah 1 juta ton. Ini luar biasa support dari pemerintah kepada Bulog dan untuk rakyat perhatian luar biasa,” kata Rizal.

Bantuan Pangan Disalurkan Sekaligus

Selain menambah pasokan beras SPHP, pemerintah juga memutuskan merapel penyaluran bantuan pangan bagi masyarakat penerima manfaat. Bantuan tersebut ditujukan kepada penerima pada desil 1 hingga desil 4 yang jumlahnya mencapai lebih dari 33 juta orang.

Zulhas menyampaikan bantuan beras akan diberikan sekaligus sebanyak 30 kilogram, bukan 10 kilogram setiap bulan. Bulog diminta menyalurkan bantuan tersebut pada bulan ini agar beras yang masuk ke masyarakat dapat sekaligus memperbesar peredaran beras di pasar.

Total beras yang disalurkan melalui skema bantuan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 900 ribu ton hingga hampir 1 juta ton. Penyaluran secara sekaligus diharapkan dapat membantu masyarakat penerima manfaat sekaligus menambah ketersediaan beras di tengah periode paceklik.

Pemerintah Siapkan Pasokan Jagung untuk Peternak

Langkah stabilisasi tidak hanya dilakukan untuk komoditas beras. Pemerintah juga menyiapkan kebijakan serupa untuk jagung dengan meminta Bulog menyalurkan 150 ribu ton jagung melalui program SPHP.

Pasokan jagung tersebut ditujukan untuk membantu peternak usaha mikro, kecil, dan menengah yang menghadapi potensi penurunan produksi akibat musim kemarau. Pemerintah menilai berkurangnya produksi selama paceklik dapat memicu kenaikan harga jagung.

Zulhas menegaskan bahwa pasokan jagung itu diperuntukkan bagi peternak menengah ke bawah, bukan untuk pabrik-pabrik besar. Kebijakan tersebut disiapkan sebagai langkah antisipasi agar peternak tetap memperoleh pasokan ketika produksi jagung menurun.

Kesimpulan

Kenaikan harga beras sebesar Rp100 hingga Rp200 per kilogram terjadi ketika produksi petani menurun akibat kemarau kering dan musim paceklik. Untuk meredam tekanan harga, pemerintah menambah alokasi beras SPHP sebanyak 1 juta ton untuk penyaluran Oktober hingga Desember 2026. Selain itu, bantuan pangan bagi lebih dari 33 juta penerima akan disalurkan sekaligus dengan total 30 kilogram per penerima.

Pemerintah juga menyiapkan 150 ribu ton jagung SPHP bagi peternak menengah ke bawah. Ke depan, efektivitas kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada kelancaran distribusi beras dan jagung kepada masyarakat serta kelompok peternak yang menjadi sasaran.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment