Kondisi Keuangan INKA Tertekan, Danantara Dorong Transformasi Menyeluruh

Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan kondisi keuangan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA yang dinilai tidak sehat. Perusahaan manufaktur kereta api tersebut disebut mengalami kerugian hingga Rp677 miliar, memiliki ekuitas negatif, serta menanggung pinjaman tidak berkelanjutan atau unsustainable loan sekitar Rp4,7 triliun.

Pernyataan tersebut disampaikan Dony dalam keterangan resmi pada Selasa (15/9). Menurutnya, persoalan keuangan yang dihadapi INKA perlu segera ditangani melalui proses pembenahan dan pemulihan kinerja secara menyeluruh. Danantara pun mendorong penyusunan rencana transformasi agar perusahaan dapat kembali menjalankan bisnis secara sehat dan berkelanjutan.

Kondisi Keuangan INKA Dinilai Tidak Sehat

Dony menegaskan bahwa INKA saat ini berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Selain mencatat kerugian sebesar Rp677 miliar, perusahaan juga disebut memiliki ekuitas negatif. Di sisi lain, nilai pinjaman yang dianggap tidak berkelanjutan mencapai sekitar Rp4,7 triliun.

“INKA ini tidak baik-baik saja, saya tahu persis. Equity negatif, unsustainable loan-nya empat koma sekian triliun, jadi menurut saya INKA ini tidak dalam kondisi yang baik-baik saja,” ujar Dony.

Ia menyoroti kondisi tersebut karena INKA merupakan perusahaan manufaktur yang memiliki pasar yang jelas. Oleh sebab itu, kondisi keuangan perusahaan perlu dianalisis secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi pembiayaan, melainkan juga dari aspek bisnis, proyek, serta pihak yang menggunakan produk INKA.

Dony mempertanyakan alasan perusahaan manufaktur dengan pasar yang jelas masih dapat mengalami kerugian dalam jumlah besar. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat secara lebih mendalam untuk mengetahui hubungan antara kegiatan usaha, proyek yang dikerjakan, dan beban pinjaman perusahaan.

Danantara Dorong Proses Turn Around

Melihat kondisi tersebut, Danantara mendorong proses pembenahan dan pemulihan atau turn around terhadap kinerja INKA. Langkah ini dinilai penting agar perusahaan pelat merah tersebut dapat memperbaiki fundamental bisnis sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaannya.

Dony menilai proses pemulihan tidak dapat dilakukan secara parsial. Perubahan harus dibangun berdasarkan komitmen bersama untuk memperbaiki perusahaan dengan menerapkan tata kelola yang benar.

“Kita ingin melakukan turn around dan turn around itu hanya bisa dilakukan kalau kita punya komitmen yang sama ingin membuat perusahaan ini menjadi lebih baik, dengan governance yang benar,” kata Dony.

Dengan demikian, perbaikan INKA tidak hanya berfokus pada persoalan kerugian dan pinjaman. Pembenahan juga perlu diarahkan pada cara perusahaan menjalankan bisnis, mengambil keputusan, mengelola proyek, serta memastikan setiap kegiatan operasional memberikan nilai bagi perusahaan.

Transformasi INKA Mencakup Berbagai Aspek

Untuk mendukung proses pemulihan, Dony meminta agar disusun grand plan atau rencana besar transformasi INKA. Rencana tersebut diharapkan dapat menjadi panduan dalam memperbaiki perusahaan secara terarah dan menyeluruh.

Transformasi yang dimaksud mencakup berbagai aspek, mulai dari pilar operasi, teknik, keuangan, hingga proses bisnis. Selain itu, pembenahan juga akan menyentuh model bisnis, tata kelola, budaya kerja, kualitas produksi, serta sistem operasional perusahaan.

Peningkatan Kualitas Produksi Menjadi Fokus

Salah satu perhatian utama dalam rencana transformasi tersebut adalah peningkatan kualitas produksi. Sebagai perusahaan manufaktur dengan pasar yang jelas, INKA perlu memastikan setiap proyek dapat dikelola secara sehat, efisien, dan mampu memberikan nilai bagi perusahaan.

Pendekatan ini penting agar kegiatan produksi tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga memiliki dasar bisnis yang kuat. Pengelolaan proyek, kualitas hasil produksi, dan efisiensi operasional menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memperbaiki kinerja INKA.

INKA Tetap Dibutuhkan untuk Industrialisasi Perkeretaapian

Di tengah kondisi keuangan yang tertekan, Dony menegaskan bahwa INKA tetap memiliki peran penting. Keberadaan perusahaan dibutuhkan untuk menjaga lapangan kerja sekaligus mendorong industrialisasi sektor perkeretaapian nasional.

Menurutnya, INKA diperlukan untuk mendukung pengembangan industri kereta api di dalam negeri. Karena itu, pembenahan perusahaan tidak diarahkan untuk mengurangi perannya, melainkan untuk memastikan INKA dapat berkembang dengan tata kelola dan model bisnis yang lebih baik.

Upaya tersebut juga sejalan dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto agar industri perkeretaapian nasional dapat semakin maju. Dony menyebut penyusunan rencana besar transformasi INKA diperlukan untuk menerjemahkan keinginan tersebut ke dalam langkah pembenahan yang terukur.

Kesimpulan

Kondisi keuangan INKA yang ditandai kerugian Rp677 miliar, ekuitas negatif, dan unsustainable loan sekitar Rp4,7 triliun menjadi perhatian serius Danantara. Namun, perusahaan tetap dinilai penting karena memiliki pasar yang jelas, berperan dalam menjaga lapangan kerja, serta mendukung industrialisasi perkeretaapian nasional.

Ke depan, pemulihan INKA akan bergantung pada komitmen bersama, penerapan tata kelola yang benar, dan pelaksanaan grand plan transformasi secara menyeluruh. Pembenahan pada aspek keuangan, operasi, teknik, model bisnis, budaya kerja, kualitas produksi, dan proses bisnis diharapkan dapat menjadi dasar bagi perbaikan kinerja perusahaan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment