Mentan Ungkap Dugaan Monopoli di Balik Kenaikan Harga Pakan Ayam

JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan praktik monopoli yang dinilai turut mendorong kenaikan harga pakan ayam. Dugaan tersebut mencuat setelah pemerintah merespons aksi protes peternak ayam di sejumlah daerah yang mempersoalkan meningkatnya biaya produksi.

Menurut Amran, pemerintah menemukan adanya pihak yang diduga menaikkan harga secara tidak wajar. Salah satu komponen yang menjadi perhatian adalah biaya penurunan pakan dari kapal atau biaya bongkar barang yang disebut meningkat hingga US$7 per ton. Dengan asumsi kurs Rp17.738 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp124.166 per ton.

Persoalan itu kemudian dilaporkan kepada Satgas Pangan Polri agar dapat ditindaklanjuti. Pemerintah juga menyiapkan langkah stabilisasi melalui peran badan usaha milik negara (BUMN) di sektor pangan.

Dugaan Monopoli Harga Pakan Ayam

Amran menyampaikan temuan tersebut dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (1/9). Ia mengatakan pemerintah langsung merespons keluhan peternak setelah muncul aksi protes di berbagai daerah.

Amran menuturkan, dirinya terbang dari Nusa Tenggara Timur ke Jawa Timur untuk melakukan pertemuan dan membahas persoalan yang dihadapi peternak. Dari pertemuan tersebut, pemerintah menduga terdapat oknum yang melakukan praktik monopoli dan menaikkan harga pakan secara tidak wajar.

“Memang ada yang agak masalah kemarin, bahkan masalah pakan kenapa tiba-tiba naik? Dan demo peternak se-Indonesia, langsung kami terbang dari NTT ke Jawa Timur melakukan pertemuan, ternyata memang ada oknum menaikkan monopoli,” ujar Amran dalam rapat tersebut.

Biaya Bongkar Pakan Jadi Sorotan

Selain harga pakan, pemerintah juga menyoroti biaya penurunan barang dari kapal. Amran menyebut biaya tersebut sebelumnya meningkat hingga US$7 per ton. Menurut dia, kenaikan itu tidak semestinya terjadi apabila tidak ada persoalan dalam rantai distribusi.

Setelah dilakukan pemeriksaan, pemerintah menduga terdapat praktik monopoli pada komponen biaya tersebut. Karena itu, Kementerian Pertanian telah mengirimkan surat kepada Satgas Pangan Polri untuk segera melakukan tindak lanjut.

Amran menegaskan, biaya bongkar barang yang meningkat secara tidak wajar dapat menambah beban harga pakan. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi biaya produksi peternak dan harga ayam di tingkat konsumen.

ID Food Disiapkan sebagai Stabilisator

Untuk menjaga ketersediaan dan harga pakan ayam, pemerintah menjadikan ID Food sebagai salah satu stabilisator melalui kegiatan impor. Harga komoditas tersebut akan ditetapkan oleh pemerintah karena ID Food merupakan BUMN.

Amran mengatakan posisi ID Food sebagai perusahaan milik negara memungkinkan pemerintah mengendalikan harga agar tidak bergerak secara tidak wajar. Ia juga menyebut terdapat opsi pergantian apabila perusahaan tersebut tidak menjalankan peran sesuai kebijakan pemerintah.

“Jadi sekarang yang menjadi stabilisator adalah ID Food karena mengimpor, tapi kami patok harganya karena BUMN, manakala dia macam-macam ini bisa diganti,” kata Amran.

Pemerintah Jaga Harga Ayam dan Telur

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi persoalan lain, yakni menjaga agar harga ayam dan telur tidak jatuh terlalu rendah ketika pasokan meningkat. Salah satu langkah yang disebut dapat dilakukan adalah penyerapan daging ayam dan telur oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Penyerapan tersebut diharapkan membantu menjaga hasil produksi peternak tetap terserap sehingga harga tidak mengalami tekanan ketika pasokan berada pada level tinggi. Terkait rencana itu, Amran mengatakan pihaknya telah menyurati Kepala BGN Sudaryono.

Menurut Amran, pemerintah berupaya mendorong harga ayam dan telur agar tetap memberikan ruang bagi peternak. Ia juga menyampaikan harapan agar pelaku usaha besar tidak melakukan pelanggaran, sementara peternak kecil dapat memperoleh dukungan yang lebih baik.

Harga Pakan dan DOC Mengalami Kenaikan

Dugaan persoalan pada harga pakan muncul di tengah kenaikan harga ayam dalam sebulan terakhir. Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi mengatakan harga ayam hidup di tingkat peternak kini berada pada kisaran Rp24 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Kenaikan harga tersebut salah satunya dipengaruhi oleh biaya pakan yang meningkat dalam tiga bulan terakhir. Harga pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.300-Rp8.500 per kilogram kini mencapai sekitar Rp9.500 per kilogram. Dengan demikian, terdapat kenaikan sekitar Rp1.000-Rp1.200 per kilogram.

Harga anak ayam atau day old chick (DOC) juga mengalami kenaikan. Sebelumnya, harga DOC berada di sekitar Rp6.000 per ekor, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp8.000-an per ekor. Sementara itu, kondisi pasokan dan permintaan ayam disebut relatif berimbang.

Harga Daging Ayam Ras Naik

Kenaikan juga tercatat pada harga daging ayam ras segar. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga rata-rata nasional pada 31 Agustus mencapai Rp42.850 per kilogram.

Angka tersebut meningkat Rp600 atau sekitar 1,42 persen dibandingkan harga pada 24 Agustus yang berada di level Rp42.250 per kilogram. Pergerakan harga ini menjadi perhatian karena biaya pakan dan DOC merupakan bagian penting dari struktur biaya produksi peternak.

Kesimpulan

Pemerintah menduga praktik monopoli turut berperan dalam kenaikan harga pakan ayam, termasuk melalui peningkatan biaya penurunan pakan dari kapal hingga US$7 per ton. Persoalan tersebut telah dilaporkan kepada Satgas Pangan Polri untuk ditindaklanjuti.

Selain itu, ID Food akan digunakan sebagai salah satu stabilisator melalui impor dan pengaturan harga. Pemerintah juga berkoordinasi dengan BGN untuk mendorong penyerapan ayam dan telur agar harga di tingkat peternak tidak tertekan. Ke depan, tindak lanjut terhadap dugaan monopoli serta pengendalian biaya produksi akan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha peternak dan stabilitas harga ayam di pasar.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment