PSEL Kota Bekasi Baru Menangani 22 Persen Sampah Nasional, Pemerintah Targetkan 75 Persen pada 2029

JAKARTA – Pemerintah terus mendorong pengolahan sampah menjadi energi listrik melalui program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Namun, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa PSEL baru menjadi salah satu bagian dari strategi penanganan sampah nasional. Cakupan program tersebut diperkirakan baru menyasar sekitar 22 persen persoalan sampah di Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Zulkifli Hasan saat menghadiri Peresmian Pembangunan PSEL Kota Bekasi di kawasan Bantar Gebang, Bekasi, Rabu (26/8). Menurut pria yang akrab disapa Zulhas tersebut, penyelesaian krisis sampah membutuhkan kerja sama lintas pihak serta pendekatan yang terintegrasi.

PSEL Baru Menangani Sebagian Persoalan Sampah

Zulhas menjelaskan, pembangunan PSEL yang dikerjakan oleh Danantara bersama sejumlah mitra baru mencakup sekitar 22 persen penanganan sampah nasional. Karena itu, pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan satu teknologi untuk menyelesaikan persoalan sampah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Jadi yang kita bicarakan PSEL hari ini hanya 22 persen. Kalau selesai semua yang dikerjakan oleh Pandu, Danantara dan kawan-kawan, itu baru 22 persen,” ujar Zulhas dalam acara tersebut.

Menurut dia, penyelesaian sampah nasional perlu dilakukan melalui beberapa skema. Pengolahan sampah baru dapat dilakukan menggunakan PSEL, sementara sampah lama yang telah menumpuk membutuhkan teknologi pirolisis. Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan Refuse Derived Fuel (RDF) serta gerakan pemilahan sampah sejak dari sumbernya di tengah masyarakat.

Pemerintah Targetkan Penanganan Sampah Mencapai 75 Persen pada 2029

Pemerintah optimistis berbagai pendekatan tersebut dapat berjalan secara sinergis. Zulhas menyebut kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, pengelola teknologi, dan masyarakat diharapkan mampu menyelesaikan sekitar 70 hingga 75 persen persoalan sampah nasional pada 2029.

Ia meyakini, penanganan yang dilakukan secara bersama-sama dapat mengurai masalah sampah dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan. Optimisme tersebut didasarkan pada kebutuhan untuk mempercepat pengelolaan sampah yang selama ini terus bertambah sejak masa kemerdekaan hingga saat ini.

“Kalau kita kerja sama seperti itu, insya Allah sekitar 2029, 70 sampai 75 persen bisa kita selesaikan sampah ini. Masalahnya bertambah banyak sejak Indonesia merdeka sampai hari ini. Namun, dalam dua sampai tiga tahun ini bisa kita selesaikan, saya meyakini asal bisa bekerja sama dengan semua pihak,” kata Zulhas.

Investasi PSEL Kota Bekasi Mencapai Rp3 Triliun

Pembangunan PSEL Kota Bekasi resmi dimulai melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) antara konsorsium pengembang dan PT PLN (Persero). Proyek tersebut memiliki nilai investasi sebesar Rp3 triliun.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menyampaikan bahwa fasilitas PSEL Kota Bekasi diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah setiap hari. Jika dihitung dalam setahun, kapasitas itu mencapai lebih dari 500 ribu ton sampah.

Kapasitas pengolahan tersebut setara dengan sekitar 70 persen total timbunan sampah harian di Kota Bekasi. Proyek ini direalisasikan melalui investasi Danantara lewat PT Denera yang bekerja sama dengan mitra Wangneng.

Ditargetkan Beroperasi Akhir 2027 atau Awal 2028

Pandu mengatakan pembangunan PSEL Kota Bekasi akan dipercepat. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2027 atau awal 2028. Ia menyebut seluruh proses, termasuk PPA, diharapkan dapat rampung dalam waktu kurang dari 24 bulan sejak tahapan pembangunan dimulai.

“Kita ekspektasi insya Allah akhir 2027 atau awal 2028 sudah selesai. Memang kita percepat. Proses secara menyeluruh, mulai dari November, mungkin dalam waktu di bawah 24 bulan sudah selesai, termasuk PPA,” jelas Pandu.

Percepatan pembangunan dilakukan karena proyek ini berkaitan langsung dengan penanganan krisis sampah. Selain mengurangi timbunan sampah, PSEL Kota Bekasi juga ditargetkan mampu menghasilkan energi hijau untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 55 ribu rumah warga Kota Bekasi.

Tekan Emisi dan Kurangi Kebutuhan Lahan TPA

PSEL Kota Bekasi diproyeksikan memberikan sejumlah manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Fasilitas tersebut ditargetkan dapat menekan emisi karbon hingga 640 ribu ton setara karbon dioksida atau CO2 setiap tahun.

Selain itu, pengoperasian PSEL diperkirakan mampu mengurangi kebutuhan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekitar 90 persen. Proyek ini juga berpotensi membuka 1.000 lapangan kerja hijau baru di kawasan setempat.

Pandu menegaskan bahwa rancangan proyek tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah dan produksi energi. PSEL Kota Bekasi juga diarahkan untuk memberikan dampak terhadap pemberdayaan ekonomi lokal. Dalam pelaksanaannya, proyek tersebut mengacu pada standar lingkungan EU IED atau Europe Industrial Emission Directive.

Kesimpulan

PSEL Kota Bekasi menjadi salah satu proyek strategis dalam upaya mengatasi persoalan sampah dan menghasilkan energi hijau. Meski demikian, pemerintah mengakui bahwa PSEL baru mencakup sekitar 22 persen penanganan sampah nasional. Penyelesaian secara menyeluruh tetap membutuhkan kombinasi berbagai teknologi, seperti pirolisis dan RDF, serta kebiasaan memilah sampah dari sumbernya.

Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, pemerintah menargetkan penanganan 70 hingga 75 persen persoalan sampah nasional pada 2029. Keberhasilan target tersebut akan sangat bergantung pada percepatan proyek, kolaborasi lintas sektor, dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari lingkungan masing-masing.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment