Saham RANS Turun 15,83 Persen Sebulan, Masih di Atas Harga IPO

JAKARTA – Saham PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) mengalami tekanan sepanjang sebulan terakhir. Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (21/8), harga saham RANS berada di level Rp200 per saham, turun Rp38 atau sekitar 15,83 persen dibandingkan posisi sebulan sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi setelah saham RANS sempat bergerak dalam rentang Rp200 hingga Rp240 per saham. Dalam perdagangan Jumat, saham perseroan dibuka di level Rp200, kemudian sempat naik menyentuh harga tertinggi Rp216. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga akhir sesi perdagangan karena saham RANS kembali ditutup di level Rp200.

Saham RANS Masih di Atas Harga IPO

Meski mencatatkan penurunan cukup dalam dalam satu bulan, posisi saham RANS masih berada di atas harga penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Perseroan menetapkan harga IPO sebesar Rp170 per saham.

Dengan harga penutupan Rp200, saham RANS secara matematis masih berada sekitar 17,6 persen lebih tinggi dibandingkan harga IPO. Artinya, penurunan yang terjadi setelah saham melantai di bursa belum menghapus seluruh kenaikan dari harga penawaran perdana.

RANS resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juli 2026. Dalam aksi korporasi tersebut, perseroan menawarkan sekitar 2,525 miliar saham kepada publik dengan harga Rp170 per saham.

Dari aksi IPO itu, RANS menghimpun dana sekitar Rp429 miliar. Adapun jumlah saham yang dilepas kepada masyarakat mencapai sekitar 19,96 persen dari keseluruhan saham perseroan.

Kinerja Keuangan RANS Mengalami Penurunan

Pergerakan saham RANS berlangsung di tengah penurunan kinerja keuangan perseroan pada 2025. Berdasarkan data keuangan yang tercatat di Stockbit, RANS membukukan pendapatan sebesar Rp353 miliar pada 2025.

Angka tersebut menurun dibandingkan pendapatan pada 2024 yang mencapai Rp410 miliar dan pendapatan 2023 sebesar Rp438 miliar. Penurunan juga terlihat pada sejumlah indikator profitabilitas perseroan.

Laba kotor RANS tercatat sebesar Rp153 miliar pada 2025, turun dari Rp159 miliar pada 2024. Sementara itu, laba usaha perseroan turun menjadi Rp76 miliar dari sebelumnya Rp88 miliar.

Penurunan lebih besar terjadi pada laba sebelum pajak. Pada 2025, laba sebelum pajak RANS tercatat Rp76 miliar, dibandingkan Rp127 miliar pada tahun sebelumnya. Adapun laba bersih dari operasi yang dilanjutkan mencapai Rp57 miliar, turun dari Rp108 miliar pada 2024.

Kapitalisasi Pasar dan Rasio P/E

Di pasar, RANS tercatat memiliki kapitalisasi sekitar Rp2,55 triliun. Saham perseroan juga memiliki rasio price-to-earnings atau P/E sekitar 41,72 kali.

Rasio tersebut menjadi salah satu data yang dapat diperhatikan dalam melihat valuasi saham. Namun, pergerakan harga saham di pasar tetap dipengaruhi oleh proses penyesuaian antara minat beli dan jual investor.

Analis: Pasar Sedang Mencari Harga Wajar

Analis Pasar Saham Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan saham RANS setelah IPO merupakan bagian dari proses pasar dalam menemukan harga yang dianggap wajar. Menurutnya, saham perusahaan yang baru melantai di bursa sering kali mengalami kenaikan pada awal perdagangan sebelum akhirnya mengalami koreksi.

Ia menyebut kondisi tersebut juga dapat terjadi pada sejumlah saham IPO lainnya. Ibrahim menilai koreksi yang terjadi pada saham RANS menunjukkan bahwa pasar sedang menguji tingkat harga yang dapat diterima investor.

“Pada saat perusahaan-perusahaan IPO apalagi yang berhubungan dengan politis, apalagi yang berhubungan dengan bakar-bakar duit, itu pasti akan dipermainkan oleh para spekulan,” ujar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/8).

Ia menambahkan, penurunan sekitar 15 persen dapat menjadi bagian dari dinamika pasar setelah saham mengalami pergerakan pada masa awal pencatatan. “Nah, sebenarnya di sini pasar itu sedang melihat ini bahwa harga yang sebenarnya untuk RANS itu seberapa. Bisa saja gonjang-ganjing ini apalagi sudah minus 15 persen,” katanya.

Kesimpulan

Saham RANS melemah 15,83 persen dalam sebulan dan ditutup di level Rp200 pada perdagangan Jumat (21/8). Kendati demikian, harga tersebut masih 17,6 persen di atas harga IPO sebesar Rp170 per saham.

Tekanan terhadap saham RANS terjadi bersamaan dengan penurunan pendapatan dan laba perseroan pada 2025. Ke depan, pergerakan saham ini masih akan menjadi bagian dari proses pasar dalam menentukan harga yang dianggap wajar, terutama setelah perseroan resmi tercatat di BEI pada Juli 2026.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment