10 Tanda Anak Perlu Dibawa ke Psikolog atau Terapis
Pasang surut emosi merupakan hal yang wajar dialami anak. Di rumah maupun di sekolah, anak dapat menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi perasaan dan perilakunya. Meski demikian, orang tua perlu memahami kapan perubahan tersebut masih berada dalam batas wajar dan kapan perlu ditindaklanjuti dengan berkonsultasi kepada tenaga profesional.
Setiap anak memiliki karakter serta tingkat ketahanan yang berbeda dalam menghadapi stres. Psikolog Jenny Yip menjelaskan, situasi yang membuat seorang anak tertekan belum tentu memberikan dampak yang sama kepada anak lainnya. Sebagian anak memiliki resiliensi lebih tinggi, sedangkan anak lain cenderung lebih berhati-hati dan mudah merasa cemas.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku yang berlangsung secara berulang atau tampak mengganggu aktivitas anak. Berikut sejumlah tanda yang dapat menunjukkan bahwa anak membutuhkan bantuan psikolog, konselor, atau terapis.
Tanda Anak Mengalami Kecemasan atau Tekanan
1. Terus mencari kepastian
Anak yang terus-menerus mencari informasi melalui media sosial atau berulang kali meminta kepastian dari orang tua dapat menunjukkan tanda kecemasan. Perilaku ini biasanya muncul karena anak merasa tidak mengetahui atau tidak memahami sesuatu, sehingga timbul rasa khawatir.
2. Mengalami perubahan pola tidur
Perubahan pola tidur juga perlu menjadi perhatian. Anak mungkin tidur jauh lebih sebentar dari biasanya atau justru tidur lebih lama. Psikolog anak Kate E. Eshleman menilai perubahan tersebut dapat menandakan bahwa anak sedang mengalami kecemasan atau depresi.
Tenaga profesional dapat membantu menilai lebih lanjut apa yang sedang dialami anak. Dari penilaian tersebut, dapat diterapkan strategi untuk menangani gejala sekaligus penyebab dasarnya. Penanganan dapat berupa terapi, termasuk intervensi perilaku kognitif, atau pengelolaan pengobatan.
3. Menarik diri dari keluarga dan teman
Orang tua perlu memperhatikan jika anak atau remaja semakin sering menghabiskan waktu di kamar dan hampir tidak berinteraksi dengan keluarga maupun teman. Keinginan untuk memiliki waktu sendiri memang dapat dianggap wajar, tetapi durasi dan frekuensinya perlu diamati.
Jika anak terus menghindari interaksi sosial, perubahan tersebut dapat menjadi tanda bahwa ia membutuhkan bantuan profesional. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui kondisi yang mendasari perilaku tersebut.
4. Tidak mau berpisah dari orang tua
Anak yang selalu ingin ditemani atau tidak mau lepas dari orang tua juga dapat menunjukkan kecemasan. Menurut Yip, kondisi ini dapat terjadi ketika anak merasa tidak cukup percaya diri atau tidak merasa tangguh untuk menghadapi suatu keadaan sendirian.
Konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu anak membangun rasa percaya diri. Pendampingan juga dapat membantu anak menghadapi kekhawatiran yang dirasakannya.
Perubahan Perilaku yang Perlu Mendapat Perhatian
5. Merasa tidak mampu melakukan kegiatan seperti sebelumnya
Hari yang berat dapat dialami oleh siapa saja, termasuk anak. Namun, orang tua perlu memberikan perhatian lebih jika anak mulai merasa kurang percaya diri atau merasa tidak lagi mampu melakukan berbagai hal sebaik sebelumnya.
Perubahan rasa percaya diri tersebut sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika tampak memengaruhi kegiatan anak sehari-hari. Tenaga profesional dapat melakukan evaluasi untuk memahami apa yang menjadi penyebabnya.
6. Melakukan perilaku berulang yang berkaitan dengan tubuh
Perilaku berulang tidak selalu berarti buruk. Namun, orang tua perlu waspada jika anak sering melakukan tindakan yang berkaitan dengan tubuhnya, seperti mencabuti rambut, menggigiti kuku, atau mengelupas kulit.
Menurut informasi dari Cleveland Clinic, perilaku tersebut dapat menjadi tanda kecemasan atau tekanan batin. Pengamatan orang tua penting untuk melihat seberapa sering perilaku itu dilakukan dan apakah berkaitan dengan perubahan kondisi emosional anak.
7. Kehilangan minat pada kegiatan yang disukai
Anak yang sebelumnya menyukai suatu kegiatan, tetapi tiba-tiba tidak lagi berminat melakukannya, dapat menunjukkan gejala depresi. Meski demikian, penyebab hilangnya minat perlu dipastikan terlebih dahulu.
Kate E. Eshleman mengatakan, penting untuk membedakan apakah perubahan tersebut disebabkan oleh masalah suasana hati atau hanya kelelahan karena anak terlalu sering melakukan kegiatan yang disukainya. Tenaga profesional dapat membantu mengevaluasi penyebab perubahan minat serta menangani gejala atau akar masalahnya.
8. Menjadi gelisah, mudah marah, atau impulsif
Pada anak dan remaja, kecemasan tidak selalu terlihat dalam bentuk rasa takut. Kondisi tersebut dapat muncul sebagai kegelisahan, mudah marah, atau reaksi yang cepat dan impulsif.
Jika perubahan sikap ini terus muncul, anak sebaiknya diajak berkonsultasi kepada tenaga profesional. Anak dapat dibantu untuk menghadapi kekhawatirannya dan mengembangkan strategi penanganan yang sesuai.
9. Mengalami perubahan pola makan secara ekstrem
Seperti perubahan pola tidur, perubahan pola makan yang ekstrem dapat menjadi tanda adanya masalah pada kesehatan mental anak. Orang tua perlu memperhatikan perubahan yang terlihat berbeda dari kebiasaan anak sebelumnya.
10. Mengabaikan kebersihan diri
Selain pola makan, kebiasaan mengabaikan kebersihan diri juga dapat menjadi tanda bahaya. Kondisi ini bisa menunjukkan gejala depresi atau kecemasan pada anak.
Kesimpulan
Perubahan emosi pada anak merupakan hal yang wajar, tetapi orang tua tetap perlu memperhatikan tanda-tanda yang menetap atau mengganggu kehidupan sehari-hari. Kecemasan, perubahan tidur dan makan, menarik diri, kehilangan minat, perilaku berulang yang berkaitan dengan tubuh, hingga mengabaikan kebersihan diri perlu mendapatkan perhatian.
Jika menemukan sejumlah tanda tersebut, orang tua dapat mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog, konselor, atau terapis. Evaluasi dari tenaga profesional membantu memahami kondisi anak, menentukan penyebab yang mendasari, serta menyusun strategi penanganan yang sesuai.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment