Erupsi Gunung Anak Krakatau Tutup Sementara Empat Bandara, Ini Bahaya Abu Vulkanik bagi Pesawat

Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memicu penutupan sementara empat bandara di Indonesia sejak Minggu (6/9). Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah pencegahan untuk melindungi keselamatan penerbangan dari ancaman sebaran abu vulkanik yang dapat membahayakan pesawat.

Berdasarkan data AirNav Indonesia, fasilitas penerbangan yang dihentikan operasionalnya meliputi Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II, dan Bandara Budiarto. Penutupan sementara ini dilakukan setelah erupsi Gunung Anak Krakatau menghasilkan kolom abu yang menyebar di sejumlah wilayah.

Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Penutupan Empat Bandara

Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terjadi pada Jumat (4/9) malam waktu Indonesia Barat. Aktivitas tersebut melontarkan kolom abu vulkanik hingga ketinggian sekitar 20.000 sampai 50.000 kaki.

Sebaran abu dilaporkan melintasi sejumlah wilayah, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, hingga kawasan Samudra Hindia. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi operasional penerbangan karena abu vulkanik dapat terbawa ke jalur udara dan mengganggu kinerja pesawat.

AirNav Indonesia kemudian mencatat adanya penghentian sementara operasional di empat fasilitas aviasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya antisipasi terhadap risiko yang dapat muncul apabila pesawat melintasi area yang terdampak abu vulkanik.

Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat?

Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dari awan biasa. Material ini mengandung partikel tajam dan bersifat asam sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada berbagai komponen pesawat. Karena itu, keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan dapat menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan penerbangan.

Risiko terhadap mesin dan komponen pesawat

Partikel abu vulkanik dapat masuk ke dalam mesin pesawat dan memicu mati mesin secara mendadak. Selain itu, material tersebut berpotensi mengikis komponen avionik serta kaca depan pesawat.

Abu vulkanik juga dapat menyumbat saluran pipa dan filter, menurunkan kualitas bahan bakar, serta mempercepat korosi pada permukaan logam pesawat. Dampak tersebut dapat terjadi secara beruntun ketika pesawat melintasi awan abu dalam penerbangan.

Pelajaran dari Erupsi Gunung Galunggung 1982

Bahaya abu vulkanik terhadap dunia penerbangan memiliki catatan sejarah yang serius. Perubahan standar keselamatan penerbangan global turut dipengaruhi oleh erupsi Gunung Galunggung pada 1982.

Pada saat itu, pesawat British Airways jenis B747 yang melayani rute Kuala Lumpur-Perth mengalami mati mesin total di ketinggian 11.300 meter setelah melintasi awan abu vulkanik. Pesawat tersebut sempat meluncur tanpa daya selama 16 menit sebelum pilot berhasil menyalakan kembali mesin.

Pesawat kemudian melakukan pendaratan darurat di Jakarta. Kejadian serupa kembali terjadi tiga minggu kemudian pada pesawat Singapore Airlines. Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan besarnya ancaman abu vulkanik terhadap penerbangan komersial.

Pemantauan Abu Vulkanik untuk Keselamatan Penerbangan

Dampak dari krisis yang berkaitan dengan erupsi Gunung Galunggung pada akhirnya mendorong Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO membentuk International Airways Volcano Watch (IAVW).

Sistem pemantauan global tersebut bertugas mengawasi sebaran abu vulkanik secara real-time. Pemantauan ini ditujukan untuk membantu menjamin keselamatan jalur penerbangan internasional dari ancaman erupsi gunung berapi.

Kesimpulan

Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto sejak Minggu (6/9). Keputusan tersebut diambil karena kolom abu mencapai ketinggian 20.000 hingga 50.000 kaki dan menyebar ke sejumlah wilayah.

Ancaman abu vulkanik tidak dapat dipandang ringan karena material tersebut berpotensi menyebabkan mati mesin, mengikis komponen pesawat, menyumbat saluran, menurunkan kualitas bahan bakar, dan memicu korosi. Ke depan, pemantauan sebaran abu secara berkelanjutan melalui sistem pengawasan penerbangan menjadi bagian penting dalam memastikan keselamatan jalur udara selama aktivitas erupsi berlangsung.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment