Mengapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Singkat? Ini Penjelasan Return Trip Effect

Pernahkah Anda merasa perjalanan menuju suatu tempat berlangsung sangat lama, tetapi perjalanan pulangnya terasa jauh lebih singkat? Padahal, jarak yang ditempuh sama dan waktu perjalanan sebenarnya tidak mengalami perubahan. Fenomena psikologis ini dikenal sebagai return trip effect, yaitu kecenderungan seseorang mempersepsikan perjalanan pulang lebih singkat dibandingkan perjalanan pergi.

Perasaan tersebut bukan sekadar pengalaman yang muncul secara kebetulan. Sejumlah penelitian telah menguji bagaimana otak mempersepsikan perjalanan yang memiliki jarak dan durasi sama secara berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian terhadap lama perjalanan dapat dipengaruhi oleh pengalaman, perkiraan, serta cara seseorang mengingat perjalanan setelah semuanya selesai.

Apa Itu Return Trip Effect?

Return trip effect menggambarkan kondisi ketika perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada perjalanan pergi, meskipun keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Fenomena ini dapat terjadi dalam berbagai situasi perjalanan dan tidak selalu bergantung pada rute yang persis sama.

Penelitian yang diterbitkan dalam Psychonomic Bulletin & Review menguji fenomena tersebut melalui tiga studi. Para peneliti menggunakan beberapa bentuk pengalaman, mulai dari perjalanan nyata menggunakan bus dan sepeda hingga eksperimen yang melibatkan peserta dalam kegiatan menonton video perjalanan.

Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Peserta cenderung menilai perjalanan pulang lebih singkat dibandingkan perjalanan pergi, meskipun jarak dan durasi kedua perjalanan sebenarnya sama. Temuan ini memperlihatkan bahwa yang berubah bukan waktu tempuh secara nyata, melainkan persepsi manusia terhadap durasi perjalanan.

Familiaritas Membuat Perjalanan Pulang Lebih Mudah Diprediksi

Salah satu penjelasan yang paling mudah dipahami berkaitan dengan familiaritas atau rasa sudah mengenal perjalanan. Saat berangkat, seseorang belum mengetahui secara pasti seperti apa rute yang akan dilalui. Berbagai bagian perjalanan masih terasa baru sehingga durasi perjalanan dapat terasa lebih panjang.

Sebaliknya, ketika melakukan perjalanan pulang, seseorang telah memiliki gambaran mengenai rute dan pengalaman yang akan dihadapi. Perjalanan menjadi lebih mudah diprediksi. Kondisi inilah yang dapat membuat perjalanan pulang terasa lebih singkat dibandingkan perjalanan pergi.

Menariknya, penelitian juga menemukan bahwa efek tersebut tetap dapat muncul meskipun peserta menggunakan rute yang berbeda saat pulang. Syaratnya, jarak yang ditempuh tetap sama. Temuan ini menunjukkan bahwa rasa familiar terhadap pengalaman perjalanan secara umum dapat berperan dalam membentuk persepsi durasi.

Peran Ekspektasi dalam Menilai Lama Perjalanan

Selain familiaritas, peneliti mengajukan penjelasan yang disebut expectation violation atau pelanggaran ekspektasi. Ketika hendak berangkat, seseorang mungkin memperkirakan perjalanan akan berlangsung singkat. Namun, jika perjalanan ternyata terasa lebih lama dari perkiraan, ekspektasi terhadap perjalanan berikutnya dapat berubah.

Dalam kondisi tersebut, perjalanan pulang yang ternyata tidak selama bayangan sebelumnya akan terasa lebih singkat. Dengan kata lain, bukan perjalanan pulang yang benar-benar berlangsung lebih cepat, melainkan perkiraan dan ingatan terhadap durasinya yang berbeda.

Efeknya Bisa Muncul Setelah Perjalanan Berakhir

Penelitian yang sama menunjukkan bahwa perbedaan persepsi tersebut tidak selalu dirasakan ketika seseorang masih berada di dalam kendaraan. Return trip effect dapat muncul setelah perjalanan berakhir, ketika otak melihat kembali dan membandingkan pengalaman perjalanan pergi serta pulang.

Penelitian yang diterbitkan dalam PLOS ONE membandingkan penilaian durasi yang dilakukan selama perjalanan dengan penilaian setelah perjalanan selesai. Para peneliti juga mengukur aktivitas sistem saraf otonom peserta menggunakan elektrokardiogram atau ECG.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa efek perjalanan pulang tetap muncul setelah perjalanan selesai. Artinya, seseorang belum tentu merasa perjalanan pulang lebih singkat saat masih berada di dalam kendaraan. Persepsi tersebut dapat terbentuk ketika pengalaman perjalanan telah selesai dan dibandingkan dalam ingatan.

Kesimpulan

Return trip effect menjelaskan mengapa perjalanan pulang sering terasa lebih singkat daripada perjalanan pergi, meskipun jarak dan waktu tempuhnya sama. Familiaritas terhadap pengalaman perjalanan serta perubahan ekspektasi dapat memengaruhi cara otak menilai durasi.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa persepsi waktu tidak selalu sama dengan waktu yang benar-benar berlalu. Penilaian terhadap perjalanan dapat terbentuk selama perjalanan berlangsung maupun setelah seseorang tiba di tujuan. Ke depan, pemahaman mengenai cara otak memperkirakan dan mengingat durasi dapat membantu menjelaskan lebih jauh mengapa pengalaman yang sama dapat terasa berbeda bagi setiap orang.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment