Musim Kemarau, Dokter Ingatkan Bahaya Minuman Manis dan Berkafein bagi Tubuh

Cuaca panas saat musim kemarau membuat minuman dingin dan manis terasa lebih menyegarkan. Kopi, teh pekat, hingga minuman berenergi juga kerap dipilih untuk menemani aktivitas sehari-hari. Namun, dokter spesialis gizi Putri Sakti mengingatkan bahwa minuman manis dan berkafein tidak dapat menggantikan kebutuhan air putih. Konsumsi minuman tersebut justru berisiko memperparah dehidrasi ketika tubuh berada dalam kondisi panas.

Menurut Putri, suhu udara yang tinggi dapat meningkatkan produksi keringat sebagai mekanisme alami tubuh untuk menjaga suhu tetap stabil. Di sisi lain, udara yang kering juga mempercepat penguapan cairan melalui kulit dan pernapasan tanpa selalu disadari. Karena itu, masyarakat perlu lebih memperhatikan asupan cairan selama musim kemarau, terutama saat beraktivitas di bawah terik matahari.

Alasan Minuman Berkafein dan Manis Berisiko Memicu Dehidrasi

Kafein Memiliki Efek Diuretik Ringan

Kandungan kafein dalam kopi dan teh pekat memiliki efek diuretik ringan. Efek tersebut dapat merangsang ginjal untuk mengeluarkan cairan lebih cepat melalui urine. Dalam kondisi cuaca panas, ketika tubuh sudah lebih banyak kehilangan cairan melalui keringat dan penguapan, kondisi ini berpotensi memperbesar risiko kekurangan cairan.

Putri menegaskan, minuman berkafein tidak bisa dijadikan pengganti air putih. Minuman yang terasa menyegarkan belum tentu mampu memenuhi kebutuhan cairan tubuh, khususnya ketika suhu lingkungan sedang tinggi.

Kadar Gula Tinggi Membuat Tubuh Membutuhkan Lebih Banyak Air

Minuman manis juga perlu dibatasi saat cuaca panas. Kadar gula yang tinggi dapat menarik cairan dari sel-sel tubuh menuju saluran pencernaan. Tubuh kemudian membutuhkan lebih banyak air untuk memproses gula tersebut. Akibatnya, rasa haus dapat muncul lebih cepat.

Minuman berenergi menjadi perhatian tersendiri karena umumnya memiliki kandungan kafein dan gula yang tinggi. Menurut Putri, kombinasi tersebut dapat memberikan beban ganda terhadap kerja jantung dan ginjal ketika suhu lingkungan sedang panas.

Cara Mencegah Dehidrasi Saat Musim Kemarau

Minum Sebelum Merasa Haus

Banyak orang baru mengonsumsi minuman setelah rasa haus muncul. Padahal, Putri menyarankan agar masyarakat menerapkan prinsip minum sebelum haus. Kebiasaan ini dapat membantu mencegah tubuh mengalami kekurangan cairan, terutama ketika seseorang berada di luar ruangan atau melakukan aktivitas fisik.

Asupan cairan, terutama air putih, juga perlu ditingkatkan selama musim kemarau. Putri menyarankan target minimal sekitar 2 hingga 2,5 liter per hari. Jumlah tersebut perlu ditambah apabila seseorang melakukan aktivitas berat di bawah paparan sinar matahari.

Untuk membantu memenuhi target tersebut, masyarakat dapat membawa botol minum atau tumbler sendiri. Dengan begitu, kebutuhan minum lebih mudah dipantau sepanjang hari.

Konsumsi Buah dan Sayur Kaya Air

Selain minum air putih, kebutuhan cairan dan mineral alami dapat diperoleh dari buah serta sayuran yang mengandung banyak air. Beberapa pilihan yang disarankan antara lain semangka, melon, jeruk, timun, selada, dan sup berkuah bening.

Semangka, misalnya, terdiri dari sekitar 92 persen air menurut Mayo Clinic. Buah ini juga mengandung antioksidan berupa likopen yang berkaitan dengan penurunan risiko kanker, penyakit jantung, serta gangguan mata terkait usia.

Perhatikan Pakaian dan Perlindungan dari Matahari

Upaya mencegah dehidrasi tidak hanya berkaitan dengan makanan dan minuman. Pakaian yang dikenakan juga dapat membantu tubuh menghadapi cuaca panas. Putri menyarankan penggunaan pakaian berbahan katun yang ringan, longgar, dan berwarna terang. Warna gelap diketahui menyerap panas lebih banyak.

Perlindungan fisik juga penting dilakukan. Masyarakat dapat menggunakan topi bertepi lebar atau payung, kacamata hitam, serta sunscreen. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung agar suhu tubuh tidak cepat meningkat.

Kehilangan Cairan Tidak Selalu Disadari

Suhu tinggi membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat sebagai bagian dari proses termoregulasi. Selain itu, udara kering dapat mempercepat penguapan cairan melalui kulit dan pernapasan. Proses kehilangan cairan yang tidak disadari ini disebut insensible water loss.

Menurut laman National Library of Medicine, jumlah pasti kehilangan cairan tersebut tidak mudah diukur. Namun, pada orang dewasa tanpa penyakit komorbid, jumlahnya diperkirakan berkisar 40 hingga 800 mililiter per hari. Karena menjadi bagian penting dari keseimbangan cairan tubuh, kehilangan cairan ini perlu diantisipasi dengan asupan yang memadai.

Jika cairan yang keluar tidak segera digantikan, tubuh dapat mengalami defisit cairan atau dehidrasi. Oleh sebab itu, kebiasaan minum sebelum haus, memperbanyak air putih, serta mengonsumsi makanan kaya air penting diterapkan sepanjang musim kemarau.

Kesimpulan

Minuman manis, berkafein, dan minuman berenergi sebaiknya tidak dijadikan sumber utama cairan saat cuaca panas. Kandungan kafein dan gula di dalamnya berisiko meningkatkan kehilangan cairan atau membuat tubuh membutuhkan lebih banyak air. Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan harian.

Dengan memperhatikan pola minum, mengonsumsi buah dan sayur kaya air, mengenakan pakaian yang sesuai, serta melindungi diri dari paparan matahari, risiko dehidrasi dapat ditekan. BMKG juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemarau yang lebih panjang dan kering, mengingat El Nino diperkirakan baru mulai meluruh pada awal 2027.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment