Pameran Imersif Purwacarita Borobudur Hadir Gratis di Jakarta hingga Desember 2026
Masyarakat Jakarta dan sekitarnya kini memiliki kesempatan untuk mempelajari sejarah Candi Borobudur melalui pengalaman yang lebih interaktif. Pameran imersif bertajuk Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa menghadirkan perjalanan sejarah, budaya, serta nilai spiritual Borobudur dalam ruang digital yang dirancang untuk mendekatkan warisan budaya Nusantara kepada pengunjung.
Pameran ini digelar secara gratis di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia lantai 8, Jakarta Pusat. Eksibisi tersebut berlangsung mulai 1 September hingga Desember 2026. Kehadirannya menjadi salah satu alternatif wisata edukasi budaya di Jakarta, terutama bagi masyarakat yang ingin mengenal sejarah Borobudur sebelum berkunjung langsung ke kawasan candi di Magelang, Jawa Tengah.
Memadukan Sejarah, Budaya, dan Teknologi Digital
Purwacarita Borobudur merupakan hasil kolaborasi Galeri Indonesia Kaya, Bening Digital, dan Curaweda. Pameran ini memanfaatkan teknologi digital untuk menyajikan kisah Borobudur dalam bentuk visual dan pengalaman interaktif.
Dalam pengembangannya, penyelenggara menerapkan pendekatan Ethical AI. Teknologi kecerdasan buatan digunakan sebagai alat bantu visualisasi, bukan sebagai pengganti riset sejarah. Dengan pendekatan tersebut, teknologi berperan mendukung penyampaian informasi tanpa mengesampingkan ketepatan fakta dan konteks sejarah.
Untuk memastikan keabsahan informasi, berbagai unsur yang ditampilkan dalam pameran telah melalui proses riset dan validasi. Proses tersebut mencakup narasi, detail busana, hingga arsitektur. Riset dan validasi melibatkan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada serta Museum dan Cagar Budaya.
AI sebagai Alat Bantu Visualisasi
Founder sekaligus CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, menegaskan bahwa fakta sejarah tetap menjadi fondasi utama dalam penyelenggaraan pameran. Menurutnya, teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat hasil riset dan menghadirkan kekayaan budaya dalam bentuk yang lebih mudah diterima generasi muda.
Azhar menyampaikan bahwa AI diperlakukan seperti kuas, sedangkan fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli menjadi kanvasnya. Ia menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di West Mall Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (1/9).
Integrasi teknologi juga dirancang agar sejarah tidak berhenti sebagai narasi tertulis. Melalui pengalaman visual interaktif, pengunjung diajak menelusuri lorong waktu sekaligus menggali pesan moral yang terkandung dalam kisah dan relief Borobudur.
Delapan Zona Pengalaman di Purwacarita Borobudur
Pengunjung dapat menjelajahi delapan zona pengalaman imersif yang menyajikan beragam aspek sejarah dan budaya Borobudur. Setiap zona memiliki pendekatan berbeda dalam menyampaikan informasi.
- Sapa Borobudur
Zona pembuka yang memperkenalkan lanskap serta latar era pendirian Candi Borobudur. - Karmavibhangga dan Avadana
Pertunjukan teater imersif yang mengangkat kisah dari dua relief penting Borobudur. - Batu Carita
Area interaktif yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan empat tokoh sejarah dan legenda, yaitu Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara. - Mandala
Fasilitas untuk memahami nilai spiritual Borobudur sekaligus menelusuri rute sakral peziarah purba dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk. - Jelajah Borobudur
Simulasi perjalanan fisik menuju kawasan Borobudur dan candi-candi yang berada di sekitarnya. - Buku Carita
Pengalaman naratif yang mengisahkan perjalanan Putri Pramodhawardhani dalam memahami visi sang ayah ketika membangun Borobudur. - Harmoni Borobudur
Visualisasi ekosistem alam masa lalu. Pengunjung dapat berinteraksi dengan satwa seperti merak, rusa Jawa, dan gajah menggunakan sensor gerak. - Asal Mula Borobudur The Movie
Sajian utama berupa film pendek berdurasi lima menit di auditorium. Film ini merangkum kisah penciptaan Candi Borobudur beserta reliefnya.
Menjadi Gerbang Pengenalan Borobudur
Kehadiran Purwacarita Borobudur menunjukkan bahwa penyampaian sejarah dapat dikembangkan melalui pendekatan yang lebih visual dan partisipatif. Pengunjung tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak mengalami suasana perjalanan sejarah melalui ruang-ruang yang dirancang secara imersif.
Pameran gratis ini diharapkan menjadi destinasi wisata edukasi budaya yang relevan bagi masyarakat Jakarta. Selain memperkenalkan sejarah dan nilai Borobudur, eksibisi tersebut dapat menjadi gerbang awal bagi masyarakat sebelum melihat langsung Candi Borobudur di Magelang.
Dengan tetap menempatkan riset dan validasi ahli sebagai dasar, penggunaan teknologi digital dalam pameran ini memperlihatkan peluang untuk menghadirkan warisan budaya dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda. Purwacarita Borobudur pun menjadi ruang belajar yang menggabungkan sejarah, budaya, dan inovasi tanpa mengabaikan akurasi informasi.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment